Selasa, 15 September 2015

Blog Minggu XV



Karenamu Aku Bertahan
(Part IV)
Entah ini suatu keajaiban atau petaka, Anna bisa menangis!. Pak Danu tersenyum lebar dan buru – buru memanggil dokter. Dokter datang dan memeriksa pasien, tapi raut wajah dokter itu masih datar dan menatap Pak Danu sekeluarga dengan tatapan hampa.
“Maaf, bukannya mengecilkan hati Bapak dan Ibu, tapi menangis seperti ini hanya salah satu respon otak dari anak anda dan tidak berakibat apapun pada kesembuhannya. Maaf sekali lagi ya pak. Putri anda harus segera sadar dari koma kalau tidak… nyawanya tidak akan tertolong.”Kata si dokter yang nametag-nya Rudy Setiawan itu.
Semua menjadi senyap lagi. Suka cita yang baru saja terbentuk harus berakhir.Arsha yang terdiam masih di tempatnya biasanya.Pak Danu menemani di sampingnya sekarang. Bekas air mata di pipi Pak Danu terlihat jelas. Tapi beliau tetap tidak terlihat gundah sama sekali.
“Kenapa Bapak begitu kuat?” Tanya Arsha.
Sebelum menjawab, beliau melirik ke jendela kecil di ruang ICU itu.Menatapnya dalam – dalam lalu melihat lagi ke arah Arsha yang masih terlihat datar.
“Kuat?” Kata Pak Danu, “Bagaimana mungkin saya kuat kalau melihat anak saya mungkin meninggal lebih dahulu dari pada saya? Saya hanya mencoba tidak memperkeruh keadaan. Saya menangis, apa itu bisa menolong Anna??” Kata Pak Danu dengan suara tertahan. Sedetik kemudian mata Arsha terlihat berkaca – kaca.
000
(Arsha)
Aku bodoh!! Kenapa dari kemarin aku hanya berpatokan pada Pak Danu?? Padahal Pak Danu adalah orang yang paling kehilangan kalau sampai Anna kenapa – napa!. Arrgggghhhhhh!!!
Tanganku gemetaran, ingin menguatkan Pak Danu tapi aku juga lemah di sini. Semuanya begitu pekat begitu abu- abu. Aku merenung terlalu lama, aku terlalu banyak berpikir… Tapi hatiku masih gusar, aku seperti di tarik oleh gravitasi yang menekanku karena keadaan ini. Semua terlalu menekanku, semua terlalu menekanku! Tidak. Aku yang menekan diriku sendiri. Apa yang aku tahan? Apa yang aku tahan?? Seperti ada kata dari tenggorokanku yang aku tahan dan itu membuat hatiku semakin sakit.
Tiba – tiba Bu Marwah mendekatiku, beliau menepuk bahuku dan berkata “Kamu mau makan Sha? Yuk ikut ibu kita makan bareng di sana.” Kata Bu Marwah lembut. Beliau menarikku ke kursi ruang tunggu. Semua yang di situ rata – rata kolega dan teman- teman Anna. Aku di suguhi teh melati hangat, beberapa arem – arem dan makanan manis lainya. Rasa hangat menyelimutiku, rasa hangat yang sama yang selama ini aku rasakan entah dari siapa tapi aku seperti pernah merasakannya.
“Habis ini kita jemaahan lagi ya.”Kata seseorang yang sepertinya umurnya berdekatan denganku. Aku mengangguk. Aku melihat ke Bu Marwah yang mendekati Pak Danu sambil membawa teh yang sama. Sepertinya Bu Marwah tau kalau aku sedang kalut tadi makanya Bu Marwah membawaku ke sini. Bu Marwah terlihat lebih tegar atau memang sudah capek nangis, aku tidak tau.
Sejenak beristirahat, tak terasa sudah ada suara azan berkumandang. Kami menuju mushola. Di samping kiri dan kananku ada Dimas dan Panji juga Ryan. Dimas sepertinya masih merasa bersalah, kalo aja dia nggak bilang hal itu mungkin… ah, sudah terlambat untuk itu, Panji juga kayaknya ikut bersalah, tapi Ryan? Tauk ah.
Di tiap sujud… aku berdoa untuk kesembuhan Anna dan kekuatan untuk kedua orang tuanya. Tiba – tiba kepalaku terngiang satu kalimat dari 2 pasangan aneh kemarin. Saat doa, aku terngiang lagi kalimat itu…
“Sekarang kamu aja yang lebih jujur sama hati kamu sendiri... siapa yang kamu ingin liat pas kamu buka mata?”.
Suara Kak Gandi kembali terdengar jelas. Aku melakukan sujud syahwi, aku tanpa sadar memejamkan mataku… tanpa sadar, air mataku keluar entah kenapa. Saat aku membuka mata… mataku mencari… mencari….
000
(Anna)
Sekarang abu – abu ini makin gelap, aku seperti berjalan tapi tidak tau arah karena semuanya hampir gelap bulita. Aku berjalan tanpa arah, semuanya jadi begitu sepi sekarang. Aku berjalan lagi, entah kenapa aku merasa jalanku ini tidak lurus tapi memutar, aku seperti di buat tersesat tanpa arah.
Di ujung sana, terlihat cahaya terang. Tanpa sadar kakiku menuju ke sana. Aku berjalan dan saat aku berjalan badanku terasa semakin ringan, perasaan yang aneh. Tanpa berpikir panjang aku melangkah dengan gontai ke arah cahaya itu. Eh? Kok ada cahaya lain??? Dan dari cahaya yang arahnya berlawanan dari yang aku ikuti terlihat orang berlari, siluet orang lari tepatnya. Siluet itu semakin jelas tapi kakiku tetap berjalan menuju cahaya yang aku ikuti dari awal. Tiba – tiba…
“Tertangkap!!.” Kata seorang laki – laki bersuara familiar yang membuat langkahku terhenti dan langsung menoleh kebelakang.
Tuhan… lututku gemetar, tangis tidak terbendung lagi dari mataku. Aku memeluk sosok yang menangkap tangan kiriku ini dengan erat.
“Bang Indraa!! Abang Indra kenapa ada di sini? Kenapa aku bisa ketemu Abang? Aku kangen sama Abang…” kataku dengan wajah terbenam di pelukan orang kesayanganku ini, Bang Indra.
“Justru Abang yang harusnya nanya, kenapa kamu bisa di sini? Kamu nyasar?” Tanya Bang Indra dengan wajah khasnya. Aku mengangguk, Bang Indra tiba – tiba tersenyum kecil.
“Ngobrol di sini nggak enak, kita pindah tempat ya.” Sekejap setelah Bang Indra mengatakan itu, aku kembali ketempatku biasanya ditempat yang lebih terang.
“Bang.. Anna takut Bang, Anna nggak mau di sini, di sini sepi.. Anna nggak bisa dengar apa – apa lagi, nggak bisa ngerasain apa – apa lagi… Anna takut…” Kataku kembali memeluk Bang Indra.
“Haduh… udah gede masih penakut. Hehehe. Abang nggak bisa lama – lama nih. Kamu gimana Na?”.
“Gimana apanya Bang?”
“Kamu udah milih?”
“Milih apa Bang?”
“Kamu beneran nyasar ya? Aduh! *Bang Indra tepok jidat* Yaudah, Abang yang nanya deh, kamu mau ikut Abang atau ke sana?”. Tunjuk Bang Indra pada tali aneh yang memang dari awal menggantung di sini.
“Anna bingung, Anna pernah nyoba megang tali itu, malah badan Anna rasanya sakit semua. Tapi pas ngikutin cahaya yang tadi badan Anna rasanya ringan banget Bang.”
“Terus Anna pilih mana nih? Pilih sakit atau milih yang enak?”. Tanya Bang Indra dengan wajah penuh arti.
“Anna pengen ketemu Ayah sama Ibu…” Kataku repleks.
“Yakin cuma Ayah sama Ibu?”.
“Tapi alasan yang satunya… itu yang buat Anna nggak pengen… hati Anna rasanya aneh”.
“Ada yang mau ngobrol nih sama kamu, mau dengar nggak?”. Kata Bang Indra lagi.
“Siapa?”.
“Nanti juga tau sendiri, pegang talinya dulu… yang kuat ya”.
Aku berdiri memegang tali yang entah terbuat dari apa ini. Rasa sakit kembali menyerang tubuhku. Dingin dan begitu nyilu. Eh? Ada seseorang memegang keningku. Siapa?.. dia memegang punggung tanganku dengan lembut. Seperti ada setetes air yang jatuh entah dari mana di tanganku. Sayup – sayup aku mendengar sesuatu.
“… Na… maaf ya baru bisa ngomong sekarang… kemarin – kemarin aku masih ragu mau ngomong atau enggak, aku takut nyakitin kamu Na… Na, kamu ingat nggak waktu pertama kali kita ketemu. Aku kayak ketemu orang yang satu spesies sama aku, dia yang selalu dengerin ocehanku.. selalu jawab pertanyaanku.. selalu ada buat aku.. selalu nemenin aku.. hehehe… hah…. Na, aku minta maaf lagi… aku tau aku telat Na… telat banget Na… semua orang udah yakinin aku tapi akunya yang belum yakin… sampai tadi aku nanya sama Panji dan Ryan, kenapa mereka masih bolak balik kerumah sakit? Masih merasa bersalah atau apa? Tapi mereka malah jawab, mereka cuma nepatin janji kalo mereka bakalan jagain aku sampai aku sadar.Aku bingung, aku bilang aku udah sadar. Tapi mereka bilang….’ Belom Sha… kamu masih koma, kamu belom sadar kalau kami ini sebagai pengganti Anna buat jagain kamu, sampai kamu benar – benar sadar’…. Aku merasa begitu aneh Na, aku masih nyalahin diri aku sendiri, masih merasa kalau kamu ini bakalan ninggalin aku selamanya tapi aku yang malah ninggalin kamu kalo sikap aku tetap kayak gini… Aku sudah ngomong sama Pak Danu, Ayah kamu… aku bersumpah dengan apa yang aku milikin sekarang, Aku akan di samping kamu terus… sampai kapanpun biar ujung – ujungnya kamu bakalan milih jalan kamu sendiri aku tetap ada di belakang kamu, nerima kamu Na… Anna yang dulu, Anna yang hari ini, Anna yang besok… Anna yang tangannya aku genggam sekarang… Anna yang paling aku butuhkan… Aku sayang kamu Na… Aku sayang kamu…” Kata suara itu panjang lebar, entah kenapa hatiku begitu bergetar hebat saat mendengarnya.
Perasaan yang hangat menjalar keseluruh tubuhku, ini, apa namanya ini?. Bang Indra yang berada di depanku menatapku dengan lembut. Dia mengulurkan tangannya dan sekali lagi bertanya.
“Jadi, apa yang kamu pilih Na?”.
“Aku ingin…”
000
Arsha menangis hebat di dalam ruang ICU, orang – orang menatap Arsha penuh pilu. Dia sebelumnya di hadapan Pak Danu mengatakan sesuatu yang menggetarkan perasaan. Terlihat sekali semua yang dia tahan selama 3 hari ini dia keluarkan dengan jelas di sini. Di tengah hiruk pikuk di ruang tunggu, Novi memeluk lengan Dimas dengan agak erat.
“Kenapa?”. Tanya Dimas.
“Moga Anna baik – baik aja… Arsha juga.” Kata dara manis berambut panjang itu.
“Iya… mereka itu udah saling sayang dari dulu, cuma Arshanya aja yang kampret”.
“Dia juga waktu deketin aku dulu, cerita tentang Anna terus, dia nggak nyadar kali ya?”.
“Namanya juga Arsha, manusia yang lahir 1 kali dalam 1000 tahun”.
“Sama kaya Anna, perempuan yang di lahirkan 1 kali dalam 1000 tahun juga. Tahan banget dia, aku kalo jadi dia cari yang lain deh”.
“Namanya juga Anna, dia kan anak Sastra”.
“Anak papah Mamahnya”.
“Iya deh iyaa”.
---
(Arsha)
Aku menggenggam tangan yang mulai mendingin ini. Air mataku berjatuhan. Aku manatap monitor yang menunjukan kalau denyut jantungnya masih lemah. Aku mencium tangannya sebentar dan keluar dari ruang ICU untuk membersihkan mukaku. Sesampainya di dekat westafel, aku mencuci wajahku berkali – kali dan menatap ke cermin. Aku baru nyadar kalau tampangku kusut banget. Tiba – tiba…
“Santai aja natap cerminnya, kamu kira bakan berubah jadi makin ganteng kalo liat cermin terus?”. Kata seorang laki – laki yang sepertinya usianya dekat denganku.
“Mau gantian ya?”. Kataku sambil menyingkirkan diri dari depan westafel.
“Nggak kok, iseng aja negur kamu.” Orang itu tersenyum, cara dia senyum mirip sekali dengan Anna.
“Keluarganya Anna?”. Dia mengangguk. Dia tiba – tiba tersenyum lagi dan senyumnya beda dari yang tadi.
“Jagain Anna ya… Dia mau sadar tuh”. Kata orang itu sambil menunjuk keruang ICU.
“Benarkah??”.
“Iya, aku cabut dulu ya, senang bisa ketemu kamu.” Dia tersenyum lagi dan melangkah keluar dari ruang rawat. Dingin seperti menusuk melewati tengkukku. Tapi, ah sudahlah.
Tidak lama setelah itu, terdengar bunyi orang – orang bersorak “Alhamdulillah..” dengan lega. Aku penasaran, ternyata itu dari ruangan Anna. Panji dan Ryan menghampiriku dan memelukku dengan erat.
“Sha!! Anna udah lewat masa kritisnya! Dia udah sadar!!”.Kata Panji sambil loncat – loncat.
“Sha!! Darahku buat dia ternyata nggak percuma Sha!!”. Girang Ryan. Kami langsung berlari kecil ke depan ruang ICU. Lututku terasa lemah, aku melihat Anna sedang menggenggam tangan ayahnya, dia sadar!. Aku terduduk dan langsung melakukan sujud syukur. Senyum bahagia terlihat dari semua orang di sekitarku.
Tidak lama setelah itu, Anna di bawa ke kamar biasa, dia butuh pemulihan sebentar. Aku mengiringi dari belakang ranjang Anna yang di bawa keruangan Anggrek. Senyum masih melekat di bibir Pak Danu dan Bu Marwah. Aku berhenti di depan pintu dan duduk di kursi terdekat.
“Ngapain kamu disini? Ayo masuk ke dalam.” Kata Pak Danu.
“Bentar lagi Pak, mau istirahat pikiran dulu.” Kataku. Pak Danu hanya tersenyum dan masuk ke dalam Ruang Anggrek itu. Aku tidak masuk karena aku ingin orang yang dilihat Anna pertama kali adalah keluarganya. Aku menatap ke langit dan memejamkan mataku.
“Terima kasih.” Kataku.
Huh, selama berasa di sini banyak banget terjadi perubahan. Entah kenapa aku jadi akrab sama 2 mahluk itu si Panjul eh Panji dan Ryan, juga manggil orang tua Anna dengan sebutan Bapak Ibu, yang mungkin nanti manggilnya Ayah dan Ibu sama kayak Anna… eh??? Ngayal aja.
000
Sore mulai datang.Waktu sudah menunjukan pukul  5 sore. Langit begitu cerah sampai membuat semua terlihat kuning tua. Pak Danu dan Bu Marwah keluar dari ruangan dan mempersilahkanku untuk masuk. Sesaat pas melihat Pak Danu entah kenapa tiba – tiba kepalaku seperti mengulang kejadian tadi…
(Saat di Mushola)
Ya… mataku mencari Anna, dia yang selalu ada di sebelahku, dia yang selalu berusaha tetap di sampingku, aku… perasaan ini? Ya, perasaan ini memang untuk Anna, aku yang terlalu bego sampai nggak nyadar sama perasaan sendiri. Aku kembali sujud dan berfikir… ya, ini yang harus aku lakukan, ini yang memang aku fikirkan dari kemarin selama 3 hari, ini lah saatnya.
---
Saat bersalaman, semua orang bersalawat. Aku melihat di depan sana ada Pak Danu berdampingan dengan keluarganya yang lain. Aku melangkah semakin dekat ke Pak Danu. Aku memantapkan hati, menarik nafas dalam – dalam berkali – kali, hatiku sudah yakin, mentalku sudah siap. Yup, sekarang aku sudah berada di depan Pak Danu dan menyalimi tangannya.
“Pak, saya pengen berdiri di sebelah Bapak”. Kataku. Pak Danu dan bapak – bapak di sebelahnya mempersilahkan tempat untukku. Para jemaah yang lain mulai selesai. Setelah semuanya selesai, Pak Danu langsung duduk kembali, beliau menatapku dengan dalam, begitu juga bapak di sebelahnya. Mamah dari pintu depan menatapku dengan lembut seperti tau apa yang mau aku lakukan. Eh? Mamah kapan datang?? Tauk ah, sekarang aku menatap Pak Danu.
“Ada yang ingin saya bicarakan Pak.”
“Silahkan… Bapak dari tadi liat kamu memang mau ngomong sama Bapak.”
“Iya Pak, ini masalah Anna…” Pak Danu kini membenarkan duduknya. Beliau melihat keseriusanku, begitu juga Bapak yang ada di belah Pak Danu dari tadi. Para jemaah yang lain sebagian besar keluar dari Mushola, cuma beberapa yang mengambil syaf di belakang untuk berzikir. Tapi mendengar aku menyabut kata Anna, kini semua pasang mata melihat ke arahku.
“… Saya tau, ini terlalu awal dan saya terlalu muda. Saya memang belum bisa memberi apa – apa, belum bisa membantu apa – apa, tapi…” Aku menarik nafas lagi dan kini menatap Pak Danu dengan serius. Seluruh keberanianku aku keluarkan. Ini medan tempurku. “… saya akan berusaha. Saya akan lulus SMA dengan nilai yang bagus dan akan kuliah dan kalau bisa sambil kerja. Saya akan menabung dan bila tabungan saya sudah terkumpul cukup banyak, saya sudah bisa membiayai hidup saya sendiri, saya berjanji Pak… Saya akan menikahi Anna.” Kataku. Wajah Pak Danu kaget tapi wajah bapak di sebelah Pak Danu lebih kaget lagi. Aku baru sadar kalau Mamah masih berdiri di tempatnya tadi dengan wajah yang lebih kaget lagi dari pada bapak itu.
“Nak Arsha… Kamu yakin nak?.” Kata Pak Danu benar – benar meyakinkanku.
“Saya yakin Pak, saya sudah memikirkannya matang – matang.”
“Ini bukan main – main nak Arsha, ini menyangkut masa depan kamu.” Kata Bapak itu.
“Dan juga masa depan Anna…” Sambungku, “Dan saya melakukan ini bukan karena saya kasihan atau merasa bertanggung jawab, saya benar – benar menyayangi Anna, saya sayang sama Anna.”
“Tapi… Anna…” Kata Pak Danu hampir meledak, tapi bapak itu menepuk bahu Pak Danu. Beliau tersenyum seperti dan menatap Pak Danu, mereka berdua seperti bersuara dalam diam. Raut wajah Pak Danu menjadi lebih tenang.
“Pak, saya nggak peduli gimanapun nanti Anna, entah dia bakalan lumpuh total, atau nanti dia bakalan terus koma, atau kalau Anna sadar dan nanti dewasa kami bakalan nggak punya anak sekalipun saya nggak peduli pak… Saya benar – benar sayang dengan Anna. Saya harap bapak mau menunggu saya, sampai saya melamar Anna dengan sebenar – benarnya. Saya mohon Pak… izinkan saya…” Air mataku tanpa sadar menetes, aku kembali menatap Pak Danu yang sekarang tersenyum ramah.
“Nak Arsha… “ Suara Pak Danu menjadi lebih berat dari tadi. Beliau diam sesaat dan menunduk mungkin untuk berfikir. Hening mulai menyelimuti kami, terutama aku yang sekarang seperti seseorang yang di acungkan pedang yang tinggal menunggu waktu untuk menusukku. Aku mulai merasakan tanganku yang seperti membeku karena kegugupan ini, jantungku juga berdegup lebih kencang dari biasanya. Tanganku bergetar… Ini adalah saat tergila dalam kehidupanku. Sekarang Pak Danu sedang mengambil nafas untuk bicara dan….
 “… Mulai sekarang bantu Bapak jaga Anna ya, Bapak percaya sama kamu.” Kata Pak Danu sambil menepuk bahuku. Air mataku kembali menetes, aku menyalimi Pak Danu dan memeluk beliau. Bapak di sebelah Pak Danu juga menepuk bahuku dan aku ikut menyaliminya. Mamah terlihat tersenyum dan meneteskan air mata. Ya… aku sudah melamar Anna…
---
Aku berdiri dan dengan perlahan membuka pintu dari ruang Anggrek itu. Sungguh pemandangan yang tidak akan tergantikan oleh keindahan apapun, Anna menyambutku dengan senyum hangat. Aku tersenyum juga dan mengambil tempat di samping ranjang Anna dan mengambil sebuah bangku untuk ku duduki.
“Nyenyak tidurnya?”. Kataku setengah bercanda. Anna tersenyum lebar.
“Kamu gimana Sha? Masih sakit?” Kata Anna dengan tatapan lembut. Sampai sekarang dia masih menghawatirkanku.
“Udah nggak terlalu kok, kamu tuh yang kenapa – napa… waktu ku tanya kamu sakit atau enggak kamu malah bilang nggak papa. Ujung – ujungnya sampai hilang ginjal sebelah gitu.” Kataku sambil menyilangkan tanganku di depan dada.
“Aku kan nggak mau buat kamu hawatir...”
“Iya, dan akhirnya aku sangat amat hawatir!”. Kataku dengan nada agak tinggi. Anna menggembungkan pipinya.
“Iya iya! Tapi nggak usah marah – marah gitu dong”. Kata Anna masih dengan pipi yang dia gembungkan. Aku gemas dan menepuk kedua pipinya sampai kempes.
“Aku marah karena aku sayang sama kamu..”. Ucapku agak tertahan. Rasa malu menyelimuti tubuhku sampai ke ubun – ubun. Anna juga terdiam dan terlihat kaget sekali. Tanganku masih di pipinya yang lembut. Tanpa sadar tanganku mengusap pipinya.
“Arsha… bohong…”. Katanya dengan air mata yang mulai berjatuhan. Aku menyapu kedua air mata itu dan mendekatkan wajahku.
“Aku sayang kamu Anna… sayang banget”. Kataku dan itu membuat air matanya makin berjatuhan. Dia mengangguk pelan dan tersenyum manis sekali. Aku menatapnya dan mencium keningnya. Anna terlihat senang sekali. Dia terlihat begitu indah. Tuhan… terimakasih sudah membuatku sadar kalau orang yang paling aku sayangi adalah dia.
Aku Arsha akan selalu di sampingnya, menjadikan dia bidadari tercantik di balik gaun kebaya putih yang nantinya akan aku cium sekali lagi keningnya dan dia mencium tanganku. Sampai hari sakral nanti… aku akan terus menjaganya dan saat hari itu tiba aku juga akan terus menjaganya. Menjaganya sepenuh hati. Karena dia yang paling aku sayangi.
000
“Eh, Na, aku belum pernahku kamu kasih liat foto Bang Indra?”.
“Mau liat? Yuk keruang keluarga”.
“Yang mana Na?”.
“Itu yang di samping aku, mirip sama Ibu kan?”.
“Looohh??? Dia kan yang nemuin aku di dekat ruang ICU waktu kamu mau sadar dulu?!”.
“Mana mungkin Sha, dia udah meninggal 5 tahun yang lalu, jangan ngaco deh”.
“Atau kamu punya keluarga yang mirip sama dia?”.
“Sepupu aku dari pihak Ibu itu cewe semua dan kalo ada yang cowok juga masih kecil”.
“Dari Ayah kamu??”.
“Nggak ada yang mirip Sha, kamu ngigo kali”.
“Siapa yang ngigo Naa?? Jadi kemarin itu….”.
“Dia pengen liat kamu kali. Hahaha “
“Na! kamu bohong ya?”.
“Ngapain juga bohong Sha??”.
“Jadi…..”.
“Udahlah, anggap aja itu baik buat kamu.”
“Iya Na… punya hubungan sama kamu emang horor ya, jadi ingat waktu itu…”
“Yang mana?”
“Itu lo waktu kita sama – sama nyungsep di jurang, sampai sekarang aku masih heran… kamu lukanya lebih parah kok masih bisa lebih tahan dari aku ya?”
“Kata – kata kamu aneh Sha, segala lebih tahan… cewe itu kuat tauk!”
“Hoo mulai bela gender”
“Udah ah! Jadi ketemu Ibu Ayah nggak??”
“Jadi dung! Mamah Papahku juga udah deket sini, nah, tuh mereka.”
“Ciee yang mau lamar aku”
“Aku pulang lagi ya!”
“Kok gitu!!”
“Hehehe… iya iya, dasar ngambekan”
“Jelek”
“Jelek – jelek gini juga kamu suka khan??”.
“Nak Arsha, udah datang? Pak Idris dan Bu Ani, ayo masuk Bu, Pak ”
“Iya Pak… “
“Ayo keruang tengah”
“Huff… siap – siap pake kebaya putih ya nanti”.
“Emang aku mau sama kamu??”
“Anna…”
“Arsha…”
“Ganteng”.
“Arshaaaaa!!!!”

The End

Minggu, 12 April 2015

Blog Minggu XIV

Karenamu Aku Bertahan
(Part III)
Hari ke 1
(Arsha)
Tanpa aku sadari, kakiku bergerak perlahan mencoba berdiri dari kursi roda ini. Aku melihat ke balik kaca bening ini. Dia berbaring di sana, kaki sebelah kirinya memakai gips, alat bantu pernafasan, dan beberapa selang berada di mulutnya dan satu lagi terpasang di perutnya yang mengeluarkan warna darah bercampur warna lainnya, belum lagi infus yang terpasang di tangannya membuat seluruh tubuhku terasa nyilu.
Bego Sha!! Begooo!! Kemarin kamu luka kecil aja sampai pingsan segala dan dia?? Dia berpuluh – puluh kali lipat lebih parah tapi dia sama sekali nggak mau nunjukin sakitnya ke kamu. Arsha bego!. Tanganku repleks menampar lemah kaca di depanku. Kepalaku dipenuhi dengan kehawatiran luar biasa. Anna.. aku... aku... argghh!!!.
000
“Minggir! Minggir!!.”
“Bagaimana keadaannya?.”
“Pasien kembali mengalami pendarahan internal, dan kami kekurangan darah golongan pasien.”
“Hubungi PMI, bilang ini keadaan gawat!”.
Para pasukan berbaju putih bergalut di ruang ICU, ini sama kalutnya seperti perasaan Pak Danu, Bu Marwah dan yang lainnya. Kerabat dan teman – teman Anna berwajah cemas di ruang tunggu. Arsha? Dia mematung di sudut ruangan. Ya, Anna kritis. Semuanya menjadi tegang.
“Ada yang golongan darahnya sama dengan pasien?”. Tanya seorang perawat laki – laki.
“Apa golongan darahnya?”. Tanya Ryan sambil mendekat ke arah perawat.
“Golongannya.. “. Belum selesai si perawat bicara, Arsha memotong pembicaraannya.
“Golongannya A, Yan. Kalo kamu dan yang lain ada yang sama, aku mohon, bantu Anna... ” Arsha menatap Ryan penuh arti. Tapi apa pandangan Ryan? Dia menatap Arsha seperti orang paling kusut di dunia. Baju kaos oblong, celana kain melar, wajah dengan 3 plester luka, tangan bekas infus, kaki kirinya di perban dengan kain di tambah jahitan di balik bajunya meskipun tidak terlihat. Yang mendingan cuma wajahnya yang ganteng.
“Jangan natap aku kayak pengen ngajakin homoan dong! Aku bantu pasti.” Ryan menepuk bahu Arsha. Arsha tersenyum kecil tapi dia kembali duduk di dekat ruang ICU.
Tidak lama kemudian sepasang suami istri dengan anak laki – laki berusia sekitar 7 tahun memasuki pintu rumah sakit dan menuju ICU. Ibu berjilbab itu menatap Arsha dan langsung memeluk Arsha.
“Kamu nggak papa Sha?”. Ibu Ani melihat anaknya dengan pandangan hawatir.
“Ngga papa Mah. Yang parah itu teman Arsha... Dia sekarang ada di ICU”. Arsha menatap lagi ke ruang ICU. Pak Idris menepuk bahu Arsha menandakan Arsha harus kuat. Lalu Pak Idris memandang pasangan suami istri lain yang tidak lain adalah Ayah dan Ibu Anna, dan beliau menghampirinya. Sepertinya ada obrolan yang terjadi di antara Pak Idris dan Pak Danu. Entah apa tapi sepertinya agar Pak Danu kuat.
Selang beberapa waktu, pasokan darah untuk Anna sudah terpenuhi. Tapi masa kritisnya belum selesai. Arsha masih terlihat tidak karu – karuan karena dokter belum bisa menjamin keselamatan Anna. Hiruk pikuk di Rumah Sakit itu begitu terlihat. Teman – teman Anna silih berganti untuk melihat Anna atau sekedar menanyakan keadaan Anna. Semua hawatir, semua cemas.
Hari ke 2
Dimas melihat ke arah Arsha lama. Arsha masih kaku di tempatnya biasa seperti berfikir, entah apa yang di fikirkannya. Tanpa sadar kaki Dimas melangkah mendekati Arsha dan duduk di sebelahnya.
“Gimana Anna?”. Tanya Dimas.
“Masih kritis, kata dokter otaknya mengalami sedikit trauma, makanya belum sadar”. Jawab Arsha sambil menghela nafas panjang.
“Udah makan?”. Tanya Dimas.
“Jangan nanya gitu Dim, berasa homo tau nggak”. Canda Arsha masih dengan wajah datar.
“Yeee.. aku serius, kamu perlu tenaga Sha. Dari pada kamu bengong disini, nggak ngapa – ngapain.” Kata Dimas sambil melihat jam.
“Kamu masih ingat Kak Gandi nggak?”. Kata Dimas tiba – tiba.
“Masih... emang kenapa?”.
“Dia katanya mau balik kesini, dan dia mau ke... nah! Itu dia”.
Terlihat dari balik pintu kaca itu seorang laki – laki sedang menggandeng seorang perempuan. Entah kenapa pasangan itu berhasil menghipnotis orang – orang di sekitarnya dengan keserasian mereka.
“Halo Brotheerr!!!”. Teriak Dimas yang langsung di tahannya karena baru ingat ini rumah sakit.
“Halo.. wah, loe pada nggak berubah ya?”. Kata Gandi. Gandi, Arsha dan Dimas satu klup sepak bola dari SMP, tapi Gandi balik lagi ke Jakarta ketempat asalnya buat nerusin kuliah.
“Baru juga bentar di Jakarta udah pake loe – gue aja, songong.” Canda Dimas.
“Oh iya, kenalin ini Kayla. Pacar gu.. eh, pacarku”. Gandi nyengir. Kayla menyalami Dimas kemudian Arsha. Pas liat Arsha dia agak lama memperhatikan.
“Kehilangan sesuatu?”. Kata Kayla tiba – tiba.
“Eh?”. Arsha kaget luar biasa.
“Kamu kenapa? Aku nggak terlalu jelas sama ceritanya”. Kata Gandi lagi.
“Ngobrol sambil makan yuk! Biar santai, kamu pasti belum makan”. Kata Kayla lagi. Tanpa jawaban dari Arsha, Arsha langsung di tarik oleh pasangan unik ini dan Arsha menarik Dimas, Dimas nyuruh Novi ngikutin dia.
000
“Wuaw...” Kata Gandi setelah mendengar ceritanya. “Pemain FTVnya udah lengkap nih, bikin sinetron striping ajah. Kayak ‘Putri Yang Di Goyang’ itu. Dapat award pasti kalian.” Canda Gandi.
“Enak aja..” Jawab Arsha sekenanya karena emang nggak ada tenaga.
“Kamu masih??”. Kayla menatap Arsha kemudian menatap Novi. Arsha menggeleng lemah. Melihat itu Dimas dan Novi pamit biar Arsha bisa cerita lebih lebih...
“Sekarang kamu masih??”. Tanya Gandi.
“Nggak... nggak tau, yang ada di otakku sekarang cuma Anna..”. Kata Arsha yang lalu menyeruput teh es manisnya.
“Kalo yang di hati kamu siapa?”. Kata Kayla. “Maaf ya jadi ikut campur. Tapi aku berasa perlu lurusin kamu... kamu itu jadi cowo ngambang kaya ee, nggak bisa kena arus dikit langsung ngikutin”.
“Hush! Ini tempat makan”. Kata Gandi.
“Biariiinn”. Sahut Kayla.
“Nggak papa kok, santai aja”, Arsha menarik nafas panjang dan menyambung kalimatnya. ”Di satu sisi aku memang sayang sama Anna yang mungkin cuma sebagai sahabat... tapi aku nggak bisa habis fikir... aku baru ngeliat keindahan dia, baru nyadar apa yang dia lakuin buat aku, baru nyadar kalau cewe yang paling perfect itu ya Anna... yang masih aja peduli dengan aku yang sempat berprasangka buruk sama dia dan ninggalin dia.. yang sampai terakhir malah niat manfaatin dia buat dapetin apa yang aku pengen... dan nyakitin dia yang aku butuhin.. haah... Dia cewe yang rumit”. Arsha kembali menyeruput teh es manisnya.
“Rumah sakit ini ada balkon nggak?”. Tanya Gandi tiba – tiba pada pelayan di kantin Rumah sakit itu.
“Ada mas, tinggal naik pake tangga besi di samping sana”. Kata Pelayan itu. Setelah bayar – bayaran, Arsha di tarik lagi ke balkon Rumah Sakit itu. Suasana pagi masih terasa dan memang mendung. Arsha menatap langit dengan dalam.
“Mendung...”. Kata Arsha tiba – tiba, memecah keheningan.
“Tau nggak kenapa aku bawa kesini?”. Kata Gandi sambil berdiri dengan gaya yang sama dengan Arsha.
“Kamu tau nggak apa filosofi gedung tinggi?”. Kata Kayla, menambah pertanyaan buat Arsha.
“... enggak...”. Kata Arsha bingung.
“Nah... Alasan aku bawa kamu kesini biar kamu nyadar... kamu itu ada di antara langit dan bumi ini nyayangin kamu. Tanpa kamu minta tanpa kamu tau tanpa kamu sadar...”. Ucap Gandi sambil melihat Arsha dan sekarang berdiri di hadapan Arsha.
“Filosifi gedung tinggi... tempat dimana kamu merasa ini tempat yang paling tinggi buat nyentuh langit tapi ternyata masih banyak yang lebih tinggi... “. Kayla sekarang berdiri di samping Gandi.
“Dia sahabat kamu kan?”. Tanya Gandi lagi.
“Iya..”. Jawab Arsha.
“Tau nggak arti sahabat itu? Itu adalah teman yang buat kamu ‘jatuh cinta’ tanpa kamu sadar”. Kata Kayla. “Kenapa sih kamu ngejar yang nggak pasti? Padahal ada yang udah standby di samping kamu, jadi nggak keliatankan?. Kayak gedung tinggi ini, yang terlihat di samping – samping kamu cuma gedung yang lebih tinggi, padahal yang kamu pijaki ini yang nopang kamu, masa masih mau nyari gedung lain terus lompat? Iya kalo dapat, kalo jatoh di tengah jalan gimana??”.
“Sekarang kamu aja yang lebih jujur sama hati kamu sendiri... siapa yang kamu ingin liat pas kamu buka mata?”. Kata Gandi penuh arti.
“Ituu...”. Ucapan Arsha dihentikan hujan. Tapi 3 orang ini malah berdiri menantang gerimis. Hujan... Seperti awal semua ini terjadi. Dan... Hujanpun turun.
000
Pak Danu dan Bu Marwah masih duduk di tempat biasanya di depan ruang ICU di temani Bu Ani. Bu Ani menatap ke 3 orang yang setengah basah mendatangi mereka. Orang itu tidak lain Arsha, Kayla dan Gandi.
“Permisi tante.. om.. saya Gandi dan ini Kayla, kami berdua boleh menjenguk Anna om? Soalnya kami mau pulang”. Kata Gandi santun.
“Silahkan... bantu doa ya buat Anna”. Kata Pak Danu. Gandi dan Kayla memasuki ruang ICU yang tercium pekat bau obat dan dinginnya seperti menusuk ke hidung.
“Halo Anna, kenalin, aku Kayla dan ini Gandi. Cepat sembuh ya Na.. semua orang cemas sama kamu. Kamu punya keluarga yang harus kamu sayangi...  semua di sini keluarga kamu. Kamu harus kuat”. Kata Kayla sambil memegang tangan Anna yang lemas.
“Na, dengarin omongan aku ya. Kamu yang punya kendali di sini... Kamu akan bertahan kalau kamu mau bertahan dan sebaliknya juga... kamu yang punya kendali Na... ini hidup kamu dan Tuhan selalu berada di sisi orang – orang yang berjuang.” Bisik Gandi di telinga Anna.
Setelah itu, pasangan unik itu pergi meninggalkan ruangan. Mereka berpamitan dan memeluk Arsha dengan kuat. Semakin mereka meninggalkan ruangan, semakin Arsha menatap mereka.
“Kalian pasangan gila...”. Gumam Arsha sambil tersenyum simpul. Dia kembali menatap Anna yang masih tidak bergerak. Nafas Anna yang naik turun dengan lemah, suara monitor yang terdengar ngeri dengan bunyi “Beeep” dan suara alat pernafasan yang membantu Anna menjadi pengisi kesunyian di antara rintik hujan.
Arsha kembali ke kamarnya untuk memeriksa jahitannya yang mulai mengering, kakinya juga mulai mendingan. Dokter berkata kalau jahitannya mulai kering, Arsha boleh pulang. Ya.. semua sakit di tubuh Arsha mulai berkurang. Tapi Anna? Arsha cepat – cepat mengambil wudhu... berdoa dan berdoa.
Hari ke 3
“Dokteerrr!!! Anak saya dokteerrr!!!”. Raungan Bu Marwah menggelegar di sudut ruangan. Semuanya yang ada di siang itu jadi panik.
“Suster! Siapkan alat kejut!”.
“Ya”.
“Kita akan melakukan RT, lakukan dalam hitunganku, 1, 2, 3..”. Sebuah guncangan hebat terjadi di tubuh Anna dan membuat dia terambung.
“Sekali lagi, 1, 2, 3...”. Kembali tubuh kecil itu terambung. Darah kembali terlihat mengucur dari selang yang terpasang di perut kiri bawah Anna.
“Kita berhasil!”. Ucap suster di dekat monitor.
“Siapkan tempat operasi, kita hentikan pendarahan internalnya”. Beberapa suster dan dokter berlarian. Ketegangan masih belum berakhir.
Terlihat sekali tangan dokter yang berlapir sarung tangan itu bermandikan darah. Pak Danu memeluk Bu Marwah yang meraung dengan keras. Nampak keluarganya yang lain juga menangis. Kehilangan memang bukan hal yang pertama buat keluarga Anna. Kakaknya, Bang Indra meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat selesai solat Jumat. Semuanya masih terasa baru kemarin dan sekarang, Anna sedang berada di antara hidup.. dan mati.
Arsha? Jangan tanyakan dia. Dia masih di tempat dia biasanya dan mematung disana seperti tidak ada tanda – tanda kehidupan. Beberapa teman yang berada di sampingnya tidak ada yang dia dengar. Dia hanya menatap lurus ke jendela kecil dari kaca yang bisa melihat langsung apa yang terjadi di ruang ICU. Arsha sesekali memejamkan matanya dengan lama dan membukanya perlahan penuh arti. Tidak ada air mata... tidak ada kesedihan... dia sedang berfikir.
000
(Anna)
Dingin... semuanya terasa dingin. Sesekali terlihat cahaya, tapi akhirnya tenggelam. Sesekali aku mendengar suara... tapi kadang jelas, kadang tenggelam, aku seperti mendengarkan radio jaman dulu yang harus aku putar frekuensinya agar jelas.
Suara – suara yang aku dengarkan selalu berbeda meskipun terkadang sama. Suaranya kadang seperti berteriak, kadang juga lembut dan membisik. Aku terkadang juga merasa ada yang menggenggam tanganku, menyelimutiku, membelai rambutku, mengelus kening dan pipiku, tapi yang paling gila aku merasa ada yang membelah perutku tepat di tempat yang paling sakit dan juga seperti ada yang memasang sesuatu di kakiku. Semua terasa aneh, aku ingin bergerak, tapi tidak bisa... aku ingin bangun, tapi tidak bisa.
Entah sudah berapa lama aku seperti tertidur tapi bangun seperti ini. Aku marasakan ada sesuatu yang aneh mengalir ke tubuhku tapi membuatku merasa hangat tapi aneh. Tapi berberapa lama kemudian, aku juga merasakan ada yang mengalir dari perutku, itu membuatku semakin kedinginan... seperti sekarang.
Aku merasakan ada cahaya yang datang, tapi kembali hitam, lalu muncul cahaya lagi, lalu kembali lagi menjadi hitam. Semua sekarang jadi terlihat agak abu – abu. Aku merasa tubuhku di bawa kesuatu tempat yang lebih pekat dari sebelumnya. Tempat aneh yang aku merasa sekali lagi perutku di belah.. seperti ada yang di cuci di perutku. Ada air yang mengalir tapi, tidak basah. Sesekali ada semprotan dingin yang membuatku ingin menggidik, tapi perutku sekarang seperti di tusuk – tusuk jarum seperti di jahit. Aku merasakan sensasi sakit sekaligus lega karena sudah berhenti.
“... erasinya suda.. selesai dok.”
“Tapi kondisi pasien masih kritis.”
“Ya, kita bawa lagi ke ICU.”
Setelah mengucapkan itu, aku seperti di bawa dengan meja beroda ke tempat lain, tidak, ini tempat sebelumnya. Aku bisa merasakan bau yang sama pada ruangan ini. Sekarang terdengar suara pintu di buka dan orang – orang disekitarku mulai menjauh lalu terdengar suara percakapan lalu di iringi tangis oleh lebih dari satu orang. Dadaku terasa pedih...
Tuhan... inikah yang namanya alam kematian? Atau aku masih hidup? Apakah kalau aku meninggal aku bisa melihat tubuhku seperti di film – film??. Sejak kapan aku jadi orang yang banyak nanya? Ya.. sejak aku mengenal Arsha... aku harap dia baik – baik saja.
000
“... kita hanya bisa berharap pada Tuhan. Semoga Tuhan menyelamatkannya”. Kata Dokter yang di name tag – nya tertulis Rudy Setiawan. Dia berlalu dan meninggalkan ruangan tersebut. Kalimat klise yang seperti hanya terdengar di FTV dan sinetron sekarang terdengar jelas.
“Anna, Yah... anak kita satu – satunyaa... kenapa Allah ambil anak kita lagi?? Allah nggak percaya dengan kita Yah? Ayah... Jawab Ibu yah...” Bu Marwah mengguncang badan suaminya lalu kemudian pingsan. Bukan cuma Bu Marwah yang pingsan, beberapa tantenya Anna juga pingsan saat datang ke sini. Semuanya terguncang dan kaget.
Langit seperti ikut kelabu. Awan hitam pertanda hujan mulai terlihat menggumpal. Keluarga besar Anna beserta teman – temannya melakukan sholat berjamaah dan juga temannya dari agama lain berdoa di depan ruang ICU. Arsha ikut sholat berjamaah dan saat sudah selesai dia bergegas dengan baju koko kembali ke jendela kecil itu, melihat Anna. Pak Danu menepuk bahu Arsha dengan lembut.
“Kenapa Sha? Cuma kamu yang dari kemarin belum masuk nemuin Anna.” Kata Pak Danu dengan ramah.
“Takut nggak kuat Pak...” Kata Arsha dengan suara kecil.
“Laki – laki pertama yang dia ceritain sama Bapak itu kamu Sha. Dia cerita kehebatan teman sebelahnya yang juara Sepakbola Antar Pelajar , juara O2SN dan juga pemenang Olimpiade Sains. Kamu yang percaya diri, kamu yang punya banyak teman... dia bangga banget punya teman kayak kamu Sha. Dia selalu penuh ekspresi pas nyeritain kamu, sampai tiap hari Bapak sama Ibu selalu nanyain ‘gimana kamu sama Arsha?’ hahaha... hah,” tawa Pak Danu terhenti. Beliau mengambil nafas dan berkata lagi “Dia itu sayang banget sama abangnya, sampai – sampai dia terpukul sekali waktu Indra meninggal. Bapak kira dia jadi murung terus, ternyata nggak... kamu bisa bikin dia senyum kayak biasanya.” Kata Pak Danu sambil melihat Arsha.
“Kalau gitu, Bapak masuk ya... kamu liatin Ibu bentar.” Arsha mengangguk dan bergeser dari tempatnya berdiri mempersilahkan Pak Danu. Arsha menyentuh jendela kecil itu.
“Na... cepat bangun ya.” Arsha pergi menuju mushola, sedangkan Pak Danu sekarang ada di samping Anna.
10 menit lebih berlalu, Pak Danu terdiam di samping ranjang Anna. Menatap Putri semata wayangnya itu dengan lembut. Pak Danu kemudian menarik tangan Anna untuk di genggamnya.
“Na... rasanya baru kemarin kamu lahir, sekarang kamu sudah besar. Ayah senang banget waktu kamu ulang tahun kemarin ngasih kue ke Ayah seperti setiap tahunnya. Huh... Na, kamu ingat nggak dulu kamu iri habis – habisan ke Abangmu karena dia sudah punya laptop sendiri tapi kamu masih bareng sama Ayah laptopnya. Ayah senang, akhirnya kamu bisa iri sama Abang kamu dan Ayah berusaha nabung biar bisa beli laptop buat kamu. Tapi pas Abangmu meninggal kamu ingatkan pertanyaan Ayah, kamu pengen laptop kayak apa? Lalu kamu jawab, kamu mau pake laptop abang, Ayah tanya lagi, kenapa? Itukan udah lama dan nggak bagus lagi, kamu jawab, karena itu punya Abang... kamu dengan kuatnya nggak nangis waktu itu. Ayah... Ayah senang kamu lahir di dunia Na, Ayah masih ingat waktu kamu pertama kali kamu gendong... detak jantung kamu yang kecil, suara tangismu... Ayah.. Ayah... Anna..., kalau kamu udah cape... Ayah nggak bisa maksa kamu.... Ayah ikhlas Na... Ayah ikhlas apapun yang terjadi sama kamu. Ayah sayang kamu Anna..” Pak Danu menggenggam erat tangan Anna. Air mata Pak Danu yang selama ini dia tahan akhirnya keluar. Keheningan di ruang ICU menjadi semakin hening. Suara monitor dan alat pernafasan bersahutan tanpa henti. Anna.. mulai.. menangis...



to be continued...