Karenamu Aku
Bertahan
(Part IV)
Entah ini
suatu keajaiban atau petaka, Anna bisa menangis!. Pak Danu tersenyum lebar dan
buru – buru memanggil dokter. Dokter datang dan memeriksa pasien, tapi raut
wajah dokter itu masih datar dan menatap Pak Danu sekeluarga dengan tatapan
hampa.
“Maaf,
bukannya mengecilkan hati Bapak dan Ibu, tapi menangis seperti ini hanya salah
satu respon otak dari anak anda dan tidak berakibat apapun pada kesembuhannya.
Maaf sekali lagi ya pak. Putri anda harus segera sadar dari koma kalau tidak…
nyawanya tidak akan tertolong.”Kata si dokter yang nametag-nya Rudy Setiawan itu.
Semua menjadi
senyap lagi. Suka cita yang baru saja terbentuk harus berakhir.Arsha yang
terdiam masih di tempatnya biasanya.Pak Danu menemani di sampingnya sekarang.
Bekas air mata di pipi Pak Danu terlihat jelas. Tapi beliau tetap tidak
terlihat gundah sama sekali.
“Kenapa Bapak
begitu kuat?” Tanya Arsha.
Sebelum
menjawab, beliau melirik ke jendela kecil di ruang ICU itu.Menatapnya dalam –
dalam lalu melihat lagi ke arah Arsha yang masih terlihat datar.
“Kuat?” Kata
Pak Danu, “Bagaimana mungkin saya kuat kalau melihat anak saya mungkin
meninggal lebih dahulu dari pada saya? Saya hanya mencoba tidak memperkeruh
keadaan. Saya menangis, apa itu bisa menolong Anna??” Kata Pak Danu dengan
suara tertahan. Sedetik kemudian mata Arsha terlihat berkaca – kaca.
000
(Arsha)
Aku
bodoh!! Kenapa dari kemarin aku hanya berpatokan pada Pak Danu?? Padahal Pak
Danu adalah orang yang paling kehilangan kalau sampai Anna kenapa – napa!.
Arrgggghhhhhh!!!
Tanganku
gemetaran, ingin menguatkan Pak Danu tapi aku juga lemah di sini. Semuanya
begitu pekat begitu abu- abu. Aku merenung terlalu lama, aku terlalu banyak
berpikir… Tapi hatiku masih gusar, aku seperti di tarik oleh gravitasi yang
menekanku karena keadaan ini. Semua terlalu menekanku, semua terlalu menekanku!
Tidak. Aku yang menekan diriku sendiri. Apa yang aku tahan? Apa yang aku
tahan?? Seperti ada kata dari tenggorokanku yang aku tahan dan itu membuat
hatiku semakin sakit.
Tiba – tiba
Bu Marwah mendekatiku, beliau menepuk bahuku dan berkata “Kamu mau makan Sha? Yuk
ikut ibu kita makan bareng di sana.” Kata Bu Marwah lembut. Beliau menarikku ke
kursi ruang tunggu. Semua yang di situ rata – rata kolega dan teman- teman
Anna. Aku di suguhi teh melati hangat, beberapa arem – arem dan makanan manis
lainya. Rasa hangat menyelimutiku, rasa hangat yang sama yang selama ini aku
rasakan entah dari siapa tapi aku seperti pernah merasakannya.
“Habis ini
kita jemaahan lagi ya.”Kata seseorang yang sepertinya umurnya berdekatan
denganku. Aku mengangguk. Aku melihat ke Bu Marwah yang mendekati Pak Danu
sambil membawa teh yang sama. Sepertinya Bu Marwah tau kalau aku sedang kalut
tadi makanya Bu Marwah membawaku ke sini. Bu Marwah terlihat lebih tegar atau
memang sudah capek nangis, aku tidak tau.
Sejenak
beristirahat, tak terasa sudah ada suara azan berkumandang. Kami menuju
mushola. Di samping kiri dan kananku ada Dimas dan Panji juga Ryan. Dimas
sepertinya masih merasa bersalah, kalo aja dia nggak bilang hal itu mungkin…
ah, sudah terlambat untuk itu, Panji juga kayaknya ikut bersalah, tapi Ryan? Tauk
ah.
Di tiap
sujud… aku berdoa untuk kesembuhan Anna dan kekuatan untuk kedua orang tuanya. Tiba
– tiba kepalaku terngiang satu kalimat dari 2 pasangan aneh kemarin. Saat doa,
aku terngiang lagi kalimat itu…
“Sekarang
kamu aja yang lebih jujur sama hati kamu sendiri... siapa yang kamu ingin liat
pas kamu buka mata?”.
Suara Kak
Gandi kembali terdengar jelas. Aku melakukan sujud syahwi, aku tanpa sadar
memejamkan mataku… tanpa sadar, air mataku keluar entah kenapa. Saat aku
membuka mata… mataku mencari… mencari….
000
(Anna)
Sekarang abu
– abu ini makin gelap, aku seperti berjalan tapi tidak tau arah karena semuanya
hampir gelap bulita. Aku berjalan tanpa arah, semuanya jadi begitu sepi
sekarang. Aku berjalan lagi, entah kenapa aku merasa jalanku ini tidak lurus
tapi memutar, aku seperti di buat tersesat tanpa arah.
Di ujung
sana, terlihat cahaya terang. Tanpa sadar kakiku menuju ke sana. Aku berjalan
dan saat aku berjalan badanku terasa semakin ringan, perasaan yang aneh. Tanpa
berpikir panjang aku melangkah dengan gontai ke arah cahaya itu. Eh? Kok ada
cahaya lain??? Dan dari cahaya yang arahnya berlawanan dari yang aku ikuti
terlihat orang berlari, siluet orang lari tepatnya. Siluet itu semakin jelas
tapi kakiku tetap berjalan menuju cahaya yang aku ikuti dari awal. Tiba – tiba…
“Tertangkap!!.”
Kata seorang laki – laki bersuara familiar yang membuat langkahku terhenti dan
langsung menoleh kebelakang.
Tuhan…
lututku gemetar, tangis tidak terbendung lagi dari mataku. Aku memeluk sosok
yang menangkap tangan kiriku ini dengan erat.
“Bang
Indraa!! Abang Indra kenapa ada di sini? Kenapa aku bisa ketemu Abang? Aku
kangen sama Abang…” kataku dengan wajah terbenam di pelukan orang kesayanganku
ini, Bang Indra.
“Justru Abang
yang harusnya nanya, kenapa kamu bisa di sini? Kamu nyasar?” Tanya Bang Indra
dengan wajah khasnya. Aku mengangguk, Bang Indra tiba – tiba tersenyum kecil.
“Ngobrol di
sini nggak enak, kita pindah tempat ya.” Sekejap setelah Bang Indra mengatakan
itu, aku kembali ketempatku biasanya ditempat yang lebih terang.
“Bang.. Anna
takut Bang, Anna nggak mau di sini, di sini sepi.. Anna nggak bisa dengar apa –
apa lagi, nggak bisa ngerasain apa – apa lagi… Anna takut…” Kataku kembali
memeluk Bang Indra.
“Haduh… udah
gede masih penakut. Hehehe. Abang nggak bisa lama – lama nih. Kamu gimana Na?”.
“Gimana
apanya Bang?”
“Kamu
udah milih?”
“Milih apa
Bang?”
“Kamu beneran
nyasar ya? Aduh! *Bang Indra tepok jidat* Yaudah, Abang yang nanya deh, kamu
mau ikut Abang atau ke sana?”. Tunjuk Bang Indra pada tali aneh yang memang
dari awal menggantung di sini.
“Anna
bingung, Anna pernah nyoba megang tali itu, malah badan Anna rasanya sakit
semua. Tapi pas ngikutin cahaya yang tadi badan Anna rasanya ringan banget
Bang.”
“Terus Anna
pilih mana nih? Pilih sakit atau milih yang enak?”. Tanya Bang Indra dengan
wajah penuh arti.
“Anna pengen
ketemu Ayah sama Ibu…” Kataku repleks.
“Yakin cuma
Ayah sama Ibu?”.
“Tapi alasan
yang satunya… itu yang buat Anna nggak pengen… hati Anna rasanya aneh”.
“Ada yang mau
ngobrol nih sama kamu, mau dengar nggak?”. Kata Bang Indra lagi.
“Siapa?”.
“Nanti juga
tau sendiri, pegang talinya dulu… yang kuat ya”.
Aku berdiri
memegang tali yang entah terbuat dari apa ini. Rasa sakit kembali menyerang
tubuhku. Dingin dan begitu nyilu. Eh? Ada seseorang memegang keningku. Siapa?..
dia memegang punggung tanganku dengan lembut. Seperti ada setetes air yang
jatuh entah dari mana di tanganku. Sayup – sayup aku mendengar sesuatu.
“…
Na… maaf ya baru bisa ngomong sekarang… kemarin – kemarin aku masih ragu mau
ngomong atau enggak, aku takut nyakitin kamu Na… Na, kamu ingat nggak waktu
pertama kali kita ketemu. Aku kayak ketemu orang yang satu spesies sama aku,
dia yang selalu dengerin ocehanku.. selalu jawab pertanyaanku.. selalu ada buat
aku.. selalu nemenin aku.. hehehe… hah…. Na, aku minta maaf lagi… aku tau aku
telat Na… telat banget Na… semua orang udah yakinin aku tapi akunya yang belum
yakin… sampai tadi aku nanya sama Panji dan Ryan, kenapa mereka masih bolak
balik kerumah sakit? Masih merasa bersalah atau apa? Tapi mereka malah jawab,
mereka cuma nepatin janji kalo mereka bakalan jagain aku sampai aku sadar.Aku
bingung, aku bilang aku udah sadar. Tapi mereka bilang….’ Belom Sha… kamu masih
koma, kamu belom sadar kalau kami ini sebagai pengganti Anna buat jagain kamu,
sampai kamu benar – benar sadar’…. Aku merasa begitu aneh Na, aku masih
nyalahin diri aku sendiri, masih merasa kalau kamu ini bakalan ninggalin aku
selamanya tapi aku yang malah ninggalin kamu kalo sikap aku tetap kayak gini…
Aku sudah ngomong sama Pak Danu, Ayah kamu… aku bersumpah dengan apa yang aku
milikin sekarang, Aku akan di samping kamu terus… sampai kapanpun biar ujung –
ujungnya kamu bakalan milih jalan kamu sendiri aku tetap ada di belakang kamu,
nerima kamu Na… Anna yang dulu, Anna yang hari ini, Anna yang besok… Anna yang
tangannya aku genggam sekarang… Anna yang paling aku butuhkan… Aku sayang kamu
Na… Aku sayang kamu…” Kata suara itu panjang lebar,
entah kenapa hatiku begitu bergetar hebat saat mendengarnya.
Perasaan yang
hangat menjalar keseluruh tubuhku, ini, apa namanya ini?. Bang Indra yang
berada di depanku menatapku dengan lembut. Dia mengulurkan tangannya dan sekali
lagi bertanya.
“Jadi, apa
yang kamu pilih Na?”.
“Aku ingin…”
000
Arsha
menangis hebat di dalam ruang ICU, orang – orang menatap Arsha penuh pilu. Dia sebelumnya
di hadapan Pak Danu mengatakan sesuatu yang menggetarkan perasaan. Terlihat
sekali semua yang dia tahan selama 3 hari ini dia keluarkan dengan jelas di
sini. Di tengah hiruk pikuk di ruang tunggu, Novi memeluk lengan Dimas dengan
agak erat.
“Kenapa?”.
Tanya Dimas.
“Moga Anna
baik – baik aja… Arsha juga.” Kata dara manis berambut panjang itu.
“Iya… mereka
itu udah saling sayang dari dulu, cuma Arshanya aja yang kampret”.
“Dia juga
waktu deketin aku dulu, cerita tentang Anna terus, dia nggak nyadar kali ya?”.
“Namanya juga
Arsha, manusia yang lahir 1 kali dalam 1000 tahun”.
“Sama kaya
Anna, perempuan yang di lahirkan 1 kali dalam 1000 tahun juga. Tahan banget
dia, aku kalo jadi dia cari yang lain deh”.
“Namanya juga
Anna, dia kan anak Sastra”.
“Anak papah
Mamahnya”.
“Iya deh
iyaa”.
---
(Arsha)
Aku
menggenggam tangan yang mulai mendingin ini. Air mataku berjatuhan. Aku manatap
monitor yang menunjukan kalau denyut jantungnya masih lemah. Aku mencium
tangannya sebentar dan keluar dari ruang ICU untuk membersihkan mukaku. Sesampainya
di dekat westafel, aku mencuci wajahku berkali – kali dan menatap ke cermin. Aku
baru nyadar kalau tampangku kusut banget. Tiba – tiba…
“Santai aja
natap cerminnya, kamu kira bakan berubah jadi makin ganteng kalo liat cermin
terus?”. Kata seorang laki – laki yang sepertinya usianya dekat denganku.
“Mau gantian
ya?”. Kataku sambil menyingkirkan diri dari depan westafel.
“Nggak kok,
iseng aja negur kamu.” Orang itu tersenyum, cara dia senyum mirip sekali dengan
Anna.
“Keluarganya
Anna?”. Dia mengangguk. Dia tiba – tiba tersenyum lagi dan senyumnya beda dari
yang tadi.
“Jagain Anna ya…
Dia mau sadar tuh”. Kata orang itu sambil menunjuk keruang ICU.
“Benarkah??”.
“Iya, aku
cabut dulu ya, senang bisa ketemu kamu.” Dia tersenyum lagi dan melangkah
keluar dari ruang rawat. Dingin seperti menusuk melewati tengkukku. Tapi, ah
sudahlah.
Tidak lama
setelah itu, terdengar bunyi orang – orang bersorak “Alhamdulillah..” dengan
lega. Aku penasaran, ternyata itu dari ruangan Anna. Panji dan Ryan
menghampiriku dan memelukku dengan erat.
“Sha!! Anna
udah lewat masa kritisnya! Dia udah sadar!!”.Kata Panji sambil loncat – loncat.
“Sha!!
Darahku buat dia ternyata nggak percuma Sha!!”. Girang Ryan. Kami langsung
berlari kecil ke depan ruang ICU. Lututku terasa lemah, aku melihat Anna sedang
menggenggam tangan ayahnya, dia sadar!. Aku terduduk dan langsung melakukan
sujud syukur. Senyum bahagia terlihat dari semua orang di sekitarku.
Tidak lama
setelah itu, Anna di bawa ke kamar biasa, dia butuh pemulihan sebentar. Aku
mengiringi dari belakang ranjang Anna yang di bawa keruangan Anggrek. Senyum
masih melekat di bibir Pak Danu dan Bu Marwah. Aku berhenti di depan pintu dan
duduk di kursi terdekat.
“Ngapain kamu
disini? Ayo masuk ke dalam.” Kata Pak Danu.
“Bentar lagi
Pak, mau istirahat pikiran dulu.” Kataku. Pak Danu hanya tersenyum dan masuk ke
dalam Ruang Anggrek itu. Aku tidak masuk karena aku ingin orang yang dilihat
Anna pertama kali adalah keluarganya. Aku menatap ke langit dan memejamkan
mataku.
“Terima
kasih.” Kataku.
Huh, selama
berasa di sini banyak banget terjadi perubahan. Entah kenapa aku jadi akrab
sama 2 mahluk itu si Panjul eh Panji dan Ryan, juga manggil orang tua Anna
dengan sebutan Bapak Ibu, yang mungkin nanti manggilnya Ayah dan Ibu sama kayak
Anna… eh??? Ngayal aja.
000
Sore mulai
datang.Waktu sudah menunjukan pukul 5
sore. Langit begitu cerah sampai membuat semua terlihat kuning tua. Pak Danu
dan Bu Marwah keluar dari ruangan dan mempersilahkanku untuk masuk. Sesaat pas
melihat Pak Danu entah kenapa tiba – tiba kepalaku seperti mengulang kejadian
tadi…
(Saat di
Mushola)
Ya…
mataku mencari Anna, dia yang selalu ada di sebelahku, dia yang selalu berusaha
tetap di sampingku, aku… perasaan ini? Ya, perasaan ini memang untuk Anna, aku
yang terlalu bego sampai nggak nyadar sama perasaan sendiri. Aku kembali sujud
dan berfikir… ya, ini yang harus aku lakukan, ini yang memang aku fikirkan dari
kemarin selama 3 hari, ini lah saatnya.
---
Saat bersalaman, semua orang
bersalawat. Aku melihat di depan sana ada Pak Danu berdampingan dengan
keluarganya yang lain. Aku melangkah semakin dekat ke Pak Danu. Aku memantapkan
hati, menarik nafas dalam – dalam berkali – kali, hatiku sudah yakin, mentalku
sudah siap. Yup, sekarang aku sudah berada di depan Pak Danu dan menyalimi
tangannya.
“Pak, saya pengen berdiri di
sebelah Bapak”. Kataku. Pak Danu dan bapak – bapak di sebelahnya mempersilahkan
tempat untukku. Para jemaah yang lain mulai selesai. Setelah semuanya selesai,
Pak Danu langsung duduk kembali, beliau menatapku dengan dalam, begitu juga
bapak di sebelahnya. Mamah dari pintu depan menatapku dengan lembut seperti tau
apa yang mau aku lakukan. Eh? Mamah kapan datang?? Tauk ah, sekarang aku
menatap Pak Danu.
“Ada yang ingin saya bicarakan
Pak.”
“Silahkan… Bapak dari tadi liat
kamu memang mau ngomong sama Bapak.”
“Iya Pak, ini masalah Anna…” Pak
Danu kini membenarkan duduknya. Beliau melihat keseriusanku, begitu juga Bapak
yang ada di belah Pak Danu dari tadi. Para jemaah yang lain sebagian besar
keluar dari Mushola, cuma beberapa yang mengambil syaf di belakang untuk
berzikir. Tapi mendengar aku menyabut kata Anna, kini semua pasang mata melihat
ke arahku.
“… Saya tau, ini terlalu awal
dan saya terlalu muda. Saya memang belum bisa memberi apa – apa, belum bisa
membantu apa – apa, tapi…” Aku menarik nafas lagi dan kini menatap Pak Danu
dengan serius. Seluruh keberanianku aku keluarkan. Ini medan tempurku. “… saya
akan berusaha. Saya akan lulus SMA dengan nilai yang bagus dan akan kuliah dan
kalau bisa sambil kerja. Saya akan menabung dan bila tabungan saya sudah
terkumpul cukup banyak, saya sudah bisa membiayai hidup saya sendiri, saya
berjanji Pak… Saya akan menikahi Anna.” Kataku. Wajah Pak Danu kaget tapi wajah
bapak di sebelah Pak Danu lebih kaget lagi. Aku baru sadar kalau Mamah masih
berdiri di tempatnya tadi dengan wajah yang lebih kaget lagi dari pada bapak
itu.
“Nak Arsha… Kamu yakin nak?.”
Kata Pak Danu benar – benar meyakinkanku.
“Saya yakin Pak, saya sudah
memikirkannya matang – matang.”
“Ini bukan main – main nak
Arsha, ini menyangkut masa depan kamu.” Kata Bapak itu.
“Dan juga masa depan Anna…”
Sambungku, “Dan saya melakukan ini bukan karena saya kasihan atau merasa
bertanggung jawab, saya benar – benar menyayangi Anna, saya sayang sama Anna.”
“Tapi… Anna…” Kata Pak Danu
hampir meledak, tapi bapak itu menepuk bahu Pak Danu. Beliau tersenyum seperti
dan menatap Pak Danu, mereka berdua seperti bersuara dalam diam. Raut wajah Pak
Danu menjadi lebih tenang.
“Pak, saya nggak peduli
gimanapun nanti Anna, entah dia bakalan lumpuh total, atau nanti dia bakalan
terus koma, atau kalau Anna sadar dan nanti dewasa kami bakalan nggak punya
anak sekalipun saya nggak peduli pak… Saya benar – benar sayang dengan Anna. Saya
harap bapak mau menunggu saya, sampai saya melamar Anna dengan sebenar –
benarnya. Saya mohon Pak… izinkan saya…” Air mataku tanpa sadar menetes, aku
kembali menatap Pak Danu yang sekarang tersenyum ramah.
“Nak Arsha… “ Suara Pak Danu
menjadi lebih berat dari tadi. Beliau diam sesaat dan menunduk mungkin untuk
berfikir. Hening mulai menyelimuti kami, terutama aku yang sekarang seperti
seseorang yang di acungkan pedang yang tinggal menunggu waktu untuk menusukku. Aku
mulai merasakan tanganku yang seperti membeku karena kegugupan ini, jantungku
juga berdegup lebih kencang dari biasanya. Tanganku bergetar… Ini adalah saat
tergila dalam kehidupanku. Sekarang Pak Danu sedang mengambil nafas untuk
bicara dan….
“… Mulai sekarang bantu Bapak jaga Anna ya,
Bapak percaya sama kamu.” Kata Pak Danu sambil menepuk bahuku. Air mataku
kembali menetes, aku menyalimi Pak Danu dan memeluk beliau. Bapak di sebelah
Pak Danu juga menepuk bahuku dan aku ikut menyaliminya. Mamah terlihat
tersenyum dan meneteskan air mata. Ya… aku sudah melamar Anna…
---
Aku berdiri
dan dengan perlahan membuka pintu dari ruang Anggrek itu. Sungguh pemandangan
yang tidak akan tergantikan oleh keindahan apapun, Anna menyambutku dengan
senyum hangat. Aku tersenyum juga dan mengambil tempat di samping ranjang Anna
dan mengambil sebuah bangku untuk ku duduki.
“Nyenyak
tidurnya?”. Kataku setengah bercanda. Anna tersenyum lebar.
“Kamu gimana
Sha? Masih sakit?” Kata Anna dengan tatapan lembut. Sampai sekarang dia masih
menghawatirkanku.
“Udah nggak
terlalu kok, kamu tuh yang kenapa – napa… waktu ku tanya kamu sakit atau enggak
kamu malah bilang nggak papa. Ujung – ujungnya sampai hilang ginjal sebelah
gitu.” Kataku sambil menyilangkan tanganku di depan dada.
“Aku kan
nggak mau buat kamu hawatir...”
“Iya, dan
akhirnya aku sangat amat hawatir!”. Kataku dengan nada agak tinggi. Anna
menggembungkan pipinya.
“Iya iya! Tapi
nggak usah marah – marah gitu dong”. Kata Anna masih dengan pipi yang dia
gembungkan. Aku gemas dan menepuk kedua pipinya sampai kempes.
“Aku marah
karena aku sayang sama kamu..”. Ucapku agak tertahan. Rasa malu menyelimuti
tubuhku sampai ke ubun – ubun. Anna juga terdiam dan terlihat kaget sekali. Tanganku
masih di pipinya yang lembut. Tanpa sadar tanganku mengusap pipinya.
“Arsha…
bohong…”. Katanya dengan air mata yang mulai berjatuhan. Aku menyapu kedua air
mata itu dan mendekatkan wajahku.
“Aku sayang
kamu Anna… sayang banget”. Kataku dan itu membuat air matanya makin berjatuhan.
Dia mengangguk pelan dan tersenyum manis sekali. Aku
menatapnya dan mencium keningnya. Anna terlihat senang sekali. Dia terlihat
begitu indah. Tuhan… terimakasih sudah membuatku sadar kalau orang yang paling
aku sayangi adalah dia.
Aku Arsha
akan selalu di sampingnya, menjadikan dia bidadari tercantik di balik gaun
kebaya putih yang nantinya akan aku cium sekali lagi keningnya dan dia mencium
tanganku. Sampai hari sakral nanti… aku akan terus menjaganya dan saat hari itu
tiba aku juga akan terus menjaganya. Menjaganya sepenuh hati. Karena dia yang
paling aku sayangi.
000
“Eh,
Na, aku belum pernahku kamu kasih liat foto Bang Indra?”.
“Mau
liat? Yuk keruang keluarga”.
“Yang
mana Na?”.
“Itu
yang di samping aku, mirip sama Ibu kan?”.
“Looohh???
Dia kan yang nemuin aku di dekat ruang ICU waktu kamu mau sadar dulu?!”.
“Mana
mungkin Sha, dia udah meninggal 5 tahun yang lalu, jangan ngaco deh”.
“Atau
kamu punya keluarga yang mirip sama dia?”.
“Sepupu
aku dari pihak Ibu itu cewe semua dan kalo ada yang cowok juga masih kecil”.
“Dari
Ayah kamu??”.
“Nggak
ada yang mirip Sha, kamu ngigo kali”.
“Siapa
yang ngigo Naa?? Jadi kemarin itu….”.
“Dia
pengen liat kamu kali. Hahaha “
“Na!
kamu bohong ya?”.
“Ngapain
juga bohong Sha??”.
“Jadi…..”.
“Udahlah,
anggap aja itu baik buat kamu.”
“Iya
Na… punya hubungan sama kamu emang horor ya, jadi ingat waktu itu…”
“Yang
mana?”
“Itu
lo waktu kita sama – sama nyungsep di jurang, sampai sekarang aku masih heran…
kamu lukanya lebih parah kok masih bisa lebih tahan dari aku ya?”
“Kata
– kata kamu aneh Sha, segala lebih tahan… cewe itu kuat tauk!”
“Hoo
mulai bela gender”
“Udah
ah! Jadi ketemu Ibu Ayah nggak??”
“Jadi
dung! Mamah Papahku juga udah deket sini, nah, tuh mereka.”
“Ciee
yang mau lamar aku”
“Aku
pulang lagi ya!”
“Kok
gitu!!”
“Hehehe…
iya iya, dasar ngambekan”
“Jelek”
“Jelek
– jelek gini juga kamu suka khan??”.
“Nak
Arsha, udah datang? Pak Idris dan Bu Ani, ayo masuk Bu, Pak ”
“Iya
Pak… “
“Ayo
keruang tengah”
“Huff…
siap – siap pake kebaya putih ya nanti”.
“Emang
aku mau sama kamu??”
“Anna…”
“Arsha…”
“Ganteng”.
“Arshaaaaa!!!!”
The End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar