Minggu, 12 April 2015

Blog Minggu XIV

Karenamu Aku Bertahan
(Part III)
Hari ke 1
(Arsha)
Tanpa aku sadari, kakiku bergerak perlahan mencoba berdiri dari kursi roda ini. Aku melihat ke balik kaca bening ini. Dia berbaring di sana, kaki sebelah kirinya memakai gips, alat bantu pernafasan, dan beberapa selang berada di mulutnya dan satu lagi terpasang di perutnya yang mengeluarkan warna darah bercampur warna lainnya, belum lagi infus yang terpasang di tangannya membuat seluruh tubuhku terasa nyilu.
Bego Sha!! Begooo!! Kemarin kamu luka kecil aja sampai pingsan segala dan dia?? Dia berpuluh – puluh kali lipat lebih parah tapi dia sama sekali nggak mau nunjukin sakitnya ke kamu. Arsha bego!. Tanganku repleks menampar lemah kaca di depanku. Kepalaku dipenuhi dengan kehawatiran luar biasa. Anna.. aku... aku... argghh!!!.
000
“Minggir! Minggir!!.”
“Bagaimana keadaannya?.”
“Pasien kembali mengalami pendarahan internal, dan kami kekurangan darah golongan pasien.”
“Hubungi PMI, bilang ini keadaan gawat!”.
Para pasukan berbaju putih bergalut di ruang ICU, ini sama kalutnya seperti perasaan Pak Danu, Bu Marwah dan yang lainnya. Kerabat dan teman – teman Anna berwajah cemas di ruang tunggu. Arsha? Dia mematung di sudut ruangan. Ya, Anna kritis. Semuanya menjadi tegang.
“Ada yang golongan darahnya sama dengan pasien?”. Tanya seorang perawat laki – laki.
“Apa golongan darahnya?”. Tanya Ryan sambil mendekat ke arah perawat.
“Golongannya.. “. Belum selesai si perawat bicara, Arsha memotong pembicaraannya.
“Golongannya A, Yan. Kalo kamu dan yang lain ada yang sama, aku mohon, bantu Anna... ” Arsha menatap Ryan penuh arti. Tapi apa pandangan Ryan? Dia menatap Arsha seperti orang paling kusut di dunia. Baju kaos oblong, celana kain melar, wajah dengan 3 plester luka, tangan bekas infus, kaki kirinya di perban dengan kain di tambah jahitan di balik bajunya meskipun tidak terlihat. Yang mendingan cuma wajahnya yang ganteng.
“Jangan natap aku kayak pengen ngajakin homoan dong! Aku bantu pasti.” Ryan menepuk bahu Arsha. Arsha tersenyum kecil tapi dia kembali duduk di dekat ruang ICU.
Tidak lama kemudian sepasang suami istri dengan anak laki – laki berusia sekitar 7 tahun memasuki pintu rumah sakit dan menuju ICU. Ibu berjilbab itu menatap Arsha dan langsung memeluk Arsha.
“Kamu nggak papa Sha?”. Ibu Ani melihat anaknya dengan pandangan hawatir.
“Ngga papa Mah. Yang parah itu teman Arsha... Dia sekarang ada di ICU”. Arsha menatap lagi ke ruang ICU. Pak Idris menepuk bahu Arsha menandakan Arsha harus kuat. Lalu Pak Idris memandang pasangan suami istri lain yang tidak lain adalah Ayah dan Ibu Anna, dan beliau menghampirinya. Sepertinya ada obrolan yang terjadi di antara Pak Idris dan Pak Danu. Entah apa tapi sepertinya agar Pak Danu kuat.
Selang beberapa waktu, pasokan darah untuk Anna sudah terpenuhi. Tapi masa kritisnya belum selesai. Arsha masih terlihat tidak karu – karuan karena dokter belum bisa menjamin keselamatan Anna. Hiruk pikuk di Rumah Sakit itu begitu terlihat. Teman – teman Anna silih berganti untuk melihat Anna atau sekedar menanyakan keadaan Anna. Semua hawatir, semua cemas.
Hari ke 2
Dimas melihat ke arah Arsha lama. Arsha masih kaku di tempatnya biasa seperti berfikir, entah apa yang di fikirkannya. Tanpa sadar kaki Dimas melangkah mendekati Arsha dan duduk di sebelahnya.
“Gimana Anna?”. Tanya Dimas.
“Masih kritis, kata dokter otaknya mengalami sedikit trauma, makanya belum sadar”. Jawab Arsha sambil menghela nafas panjang.
“Udah makan?”. Tanya Dimas.
“Jangan nanya gitu Dim, berasa homo tau nggak”. Canda Arsha masih dengan wajah datar.
“Yeee.. aku serius, kamu perlu tenaga Sha. Dari pada kamu bengong disini, nggak ngapa – ngapain.” Kata Dimas sambil melihat jam.
“Kamu masih ingat Kak Gandi nggak?”. Kata Dimas tiba – tiba.
“Masih... emang kenapa?”.
“Dia katanya mau balik kesini, dan dia mau ke... nah! Itu dia”.
Terlihat dari balik pintu kaca itu seorang laki – laki sedang menggandeng seorang perempuan. Entah kenapa pasangan itu berhasil menghipnotis orang – orang di sekitarnya dengan keserasian mereka.
“Halo Brotheerr!!!”. Teriak Dimas yang langsung di tahannya karena baru ingat ini rumah sakit.
“Halo.. wah, loe pada nggak berubah ya?”. Kata Gandi. Gandi, Arsha dan Dimas satu klup sepak bola dari SMP, tapi Gandi balik lagi ke Jakarta ketempat asalnya buat nerusin kuliah.
“Baru juga bentar di Jakarta udah pake loe – gue aja, songong.” Canda Dimas.
“Oh iya, kenalin ini Kayla. Pacar gu.. eh, pacarku”. Gandi nyengir. Kayla menyalami Dimas kemudian Arsha. Pas liat Arsha dia agak lama memperhatikan.
“Kehilangan sesuatu?”. Kata Kayla tiba – tiba.
“Eh?”. Arsha kaget luar biasa.
“Kamu kenapa? Aku nggak terlalu jelas sama ceritanya”. Kata Gandi lagi.
“Ngobrol sambil makan yuk! Biar santai, kamu pasti belum makan”. Kata Kayla lagi. Tanpa jawaban dari Arsha, Arsha langsung di tarik oleh pasangan unik ini dan Arsha menarik Dimas, Dimas nyuruh Novi ngikutin dia.
000
“Wuaw...” Kata Gandi setelah mendengar ceritanya. “Pemain FTVnya udah lengkap nih, bikin sinetron striping ajah. Kayak ‘Putri Yang Di Goyang’ itu. Dapat award pasti kalian.” Canda Gandi.
“Enak aja..” Jawab Arsha sekenanya karena emang nggak ada tenaga.
“Kamu masih??”. Kayla menatap Arsha kemudian menatap Novi. Arsha menggeleng lemah. Melihat itu Dimas dan Novi pamit biar Arsha bisa cerita lebih lebih...
“Sekarang kamu masih??”. Tanya Gandi.
“Nggak... nggak tau, yang ada di otakku sekarang cuma Anna..”. Kata Arsha yang lalu menyeruput teh es manisnya.
“Kalo yang di hati kamu siapa?”. Kata Kayla. “Maaf ya jadi ikut campur. Tapi aku berasa perlu lurusin kamu... kamu itu jadi cowo ngambang kaya ee, nggak bisa kena arus dikit langsung ngikutin”.
“Hush! Ini tempat makan”. Kata Gandi.
“Biariiinn”. Sahut Kayla.
“Nggak papa kok, santai aja”, Arsha menarik nafas panjang dan menyambung kalimatnya. ”Di satu sisi aku memang sayang sama Anna yang mungkin cuma sebagai sahabat... tapi aku nggak bisa habis fikir... aku baru ngeliat keindahan dia, baru nyadar apa yang dia lakuin buat aku, baru nyadar kalau cewe yang paling perfect itu ya Anna... yang masih aja peduli dengan aku yang sempat berprasangka buruk sama dia dan ninggalin dia.. yang sampai terakhir malah niat manfaatin dia buat dapetin apa yang aku pengen... dan nyakitin dia yang aku butuhin.. haah... Dia cewe yang rumit”. Arsha kembali menyeruput teh es manisnya.
“Rumah sakit ini ada balkon nggak?”. Tanya Gandi tiba – tiba pada pelayan di kantin Rumah sakit itu.
“Ada mas, tinggal naik pake tangga besi di samping sana”. Kata Pelayan itu. Setelah bayar – bayaran, Arsha di tarik lagi ke balkon Rumah Sakit itu. Suasana pagi masih terasa dan memang mendung. Arsha menatap langit dengan dalam.
“Mendung...”. Kata Arsha tiba – tiba, memecah keheningan.
“Tau nggak kenapa aku bawa kesini?”. Kata Gandi sambil berdiri dengan gaya yang sama dengan Arsha.
“Kamu tau nggak apa filosofi gedung tinggi?”. Kata Kayla, menambah pertanyaan buat Arsha.
“... enggak...”. Kata Arsha bingung.
“Nah... Alasan aku bawa kamu kesini biar kamu nyadar... kamu itu ada di antara langit dan bumi ini nyayangin kamu. Tanpa kamu minta tanpa kamu tau tanpa kamu sadar...”. Ucap Gandi sambil melihat Arsha dan sekarang berdiri di hadapan Arsha.
“Filosifi gedung tinggi... tempat dimana kamu merasa ini tempat yang paling tinggi buat nyentuh langit tapi ternyata masih banyak yang lebih tinggi... “. Kayla sekarang berdiri di samping Gandi.
“Dia sahabat kamu kan?”. Tanya Gandi lagi.
“Iya..”. Jawab Arsha.
“Tau nggak arti sahabat itu? Itu adalah teman yang buat kamu ‘jatuh cinta’ tanpa kamu sadar”. Kata Kayla. “Kenapa sih kamu ngejar yang nggak pasti? Padahal ada yang udah standby di samping kamu, jadi nggak keliatankan?. Kayak gedung tinggi ini, yang terlihat di samping – samping kamu cuma gedung yang lebih tinggi, padahal yang kamu pijaki ini yang nopang kamu, masa masih mau nyari gedung lain terus lompat? Iya kalo dapat, kalo jatoh di tengah jalan gimana??”.
“Sekarang kamu aja yang lebih jujur sama hati kamu sendiri... siapa yang kamu ingin liat pas kamu buka mata?”. Kata Gandi penuh arti.
“Ituu...”. Ucapan Arsha dihentikan hujan. Tapi 3 orang ini malah berdiri menantang gerimis. Hujan... Seperti awal semua ini terjadi. Dan... Hujanpun turun.
000
Pak Danu dan Bu Marwah masih duduk di tempat biasanya di depan ruang ICU di temani Bu Ani. Bu Ani menatap ke 3 orang yang setengah basah mendatangi mereka. Orang itu tidak lain Arsha, Kayla dan Gandi.
“Permisi tante.. om.. saya Gandi dan ini Kayla, kami berdua boleh menjenguk Anna om? Soalnya kami mau pulang”. Kata Gandi santun.
“Silahkan... bantu doa ya buat Anna”. Kata Pak Danu. Gandi dan Kayla memasuki ruang ICU yang tercium pekat bau obat dan dinginnya seperti menusuk ke hidung.
“Halo Anna, kenalin, aku Kayla dan ini Gandi. Cepat sembuh ya Na.. semua orang cemas sama kamu. Kamu punya keluarga yang harus kamu sayangi...  semua di sini keluarga kamu. Kamu harus kuat”. Kata Kayla sambil memegang tangan Anna yang lemas.
“Na, dengarin omongan aku ya. Kamu yang punya kendali di sini... Kamu akan bertahan kalau kamu mau bertahan dan sebaliknya juga... kamu yang punya kendali Na... ini hidup kamu dan Tuhan selalu berada di sisi orang – orang yang berjuang.” Bisik Gandi di telinga Anna.
Setelah itu, pasangan unik itu pergi meninggalkan ruangan. Mereka berpamitan dan memeluk Arsha dengan kuat. Semakin mereka meninggalkan ruangan, semakin Arsha menatap mereka.
“Kalian pasangan gila...”. Gumam Arsha sambil tersenyum simpul. Dia kembali menatap Anna yang masih tidak bergerak. Nafas Anna yang naik turun dengan lemah, suara monitor yang terdengar ngeri dengan bunyi “Beeep” dan suara alat pernafasan yang membantu Anna menjadi pengisi kesunyian di antara rintik hujan.
Arsha kembali ke kamarnya untuk memeriksa jahitannya yang mulai mengering, kakinya juga mulai mendingan. Dokter berkata kalau jahitannya mulai kering, Arsha boleh pulang. Ya.. semua sakit di tubuh Arsha mulai berkurang. Tapi Anna? Arsha cepat – cepat mengambil wudhu... berdoa dan berdoa.
Hari ke 3
“Dokteerrr!!! Anak saya dokteerrr!!!”. Raungan Bu Marwah menggelegar di sudut ruangan. Semuanya yang ada di siang itu jadi panik.
“Suster! Siapkan alat kejut!”.
“Ya”.
“Kita akan melakukan RT, lakukan dalam hitunganku, 1, 2, 3..”. Sebuah guncangan hebat terjadi di tubuh Anna dan membuat dia terambung.
“Sekali lagi, 1, 2, 3...”. Kembali tubuh kecil itu terambung. Darah kembali terlihat mengucur dari selang yang terpasang di perut kiri bawah Anna.
“Kita berhasil!”. Ucap suster di dekat monitor.
“Siapkan tempat operasi, kita hentikan pendarahan internalnya”. Beberapa suster dan dokter berlarian. Ketegangan masih belum berakhir.
Terlihat sekali tangan dokter yang berlapir sarung tangan itu bermandikan darah. Pak Danu memeluk Bu Marwah yang meraung dengan keras. Nampak keluarganya yang lain juga menangis. Kehilangan memang bukan hal yang pertama buat keluarga Anna. Kakaknya, Bang Indra meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat selesai solat Jumat. Semuanya masih terasa baru kemarin dan sekarang, Anna sedang berada di antara hidup.. dan mati.
Arsha? Jangan tanyakan dia. Dia masih di tempat dia biasanya dan mematung disana seperti tidak ada tanda – tanda kehidupan. Beberapa teman yang berada di sampingnya tidak ada yang dia dengar. Dia hanya menatap lurus ke jendela kecil dari kaca yang bisa melihat langsung apa yang terjadi di ruang ICU. Arsha sesekali memejamkan matanya dengan lama dan membukanya perlahan penuh arti. Tidak ada air mata... tidak ada kesedihan... dia sedang berfikir.
000
(Anna)
Dingin... semuanya terasa dingin. Sesekali terlihat cahaya, tapi akhirnya tenggelam. Sesekali aku mendengar suara... tapi kadang jelas, kadang tenggelam, aku seperti mendengarkan radio jaman dulu yang harus aku putar frekuensinya agar jelas.
Suara – suara yang aku dengarkan selalu berbeda meskipun terkadang sama. Suaranya kadang seperti berteriak, kadang juga lembut dan membisik. Aku terkadang juga merasa ada yang menggenggam tanganku, menyelimutiku, membelai rambutku, mengelus kening dan pipiku, tapi yang paling gila aku merasa ada yang membelah perutku tepat di tempat yang paling sakit dan juga seperti ada yang memasang sesuatu di kakiku. Semua terasa aneh, aku ingin bergerak, tapi tidak bisa... aku ingin bangun, tapi tidak bisa.
Entah sudah berapa lama aku seperti tertidur tapi bangun seperti ini. Aku marasakan ada sesuatu yang aneh mengalir ke tubuhku tapi membuatku merasa hangat tapi aneh. Tapi berberapa lama kemudian, aku juga merasakan ada yang mengalir dari perutku, itu membuatku semakin kedinginan... seperti sekarang.
Aku merasakan ada cahaya yang datang, tapi kembali hitam, lalu muncul cahaya lagi, lalu kembali lagi menjadi hitam. Semua sekarang jadi terlihat agak abu – abu. Aku merasa tubuhku di bawa kesuatu tempat yang lebih pekat dari sebelumnya. Tempat aneh yang aku merasa sekali lagi perutku di belah.. seperti ada yang di cuci di perutku. Ada air yang mengalir tapi, tidak basah. Sesekali ada semprotan dingin yang membuatku ingin menggidik, tapi perutku sekarang seperti di tusuk – tusuk jarum seperti di jahit. Aku merasakan sensasi sakit sekaligus lega karena sudah berhenti.
“... erasinya suda.. selesai dok.”
“Tapi kondisi pasien masih kritis.”
“Ya, kita bawa lagi ke ICU.”
Setelah mengucapkan itu, aku seperti di bawa dengan meja beroda ke tempat lain, tidak, ini tempat sebelumnya. Aku bisa merasakan bau yang sama pada ruangan ini. Sekarang terdengar suara pintu di buka dan orang – orang disekitarku mulai menjauh lalu terdengar suara percakapan lalu di iringi tangis oleh lebih dari satu orang. Dadaku terasa pedih...
Tuhan... inikah yang namanya alam kematian? Atau aku masih hidup? Apakah kalau aku meninggal aku bisa melihat tubuhku seperti di film – film??. Sejak kapan aku jadi orang yang banyak nanya? Ya.. sejak aku mengenal Arsha... aku harap dia baik – baik saja.
000
“... kita hanya bisa berharap pada Tuhan. Semoga Tuhan menyelamatkannya”. Kata Dokter yang di name tag – nya tertulis Rudy Setiawan. Dia berlalu dan meninggalkan ruangan tersebut. Kalimat klise yang seperti hanya terdengar di FTV dan sinetron sekarang terdengar jelas.
“Anna, Yah... anak kita satu – satunyaa... kenapa Allah ambil anak kita lagi?? Allah nggak percaya dengan kita Yah? Ayah... Jawab Ibu yah...” Bu Marwah mengguncang badan suaminya lalu kemudian pingsan. Bukan cuma Bu Marwah yang pingsan, beberapa tantenya Anna juga pingsan saat datang ke sini. Semuanya terguncang dan kaget.
Langit seperti ikut kelabu. Awan hitam pertanda hujan mulai terlihat menggumpal. Keluarga besar Anna beserta teman – temannya melakukan sholat berjamaah dan juga temannya dari agama lain berdoa di depan ruang ICU. Arsha ikut sholat berjamaah dan saat sudah selesai dia bergegas dengan baju koko kembali ke jendela kecil itu, melihat Anna. Pak Danu menepuk bahu Arsha dengan lembut.
“Kenapa Sha? Cuma kamu yang dari kemarin belum masuk nemuin Anna.” Kata Pak Danu dengan ramah.
“Takut nggak kuat Pak...” Kata Arsha dengan suara kecil.
“Laki – laki pertama yang dia ceritain sama Bapak itu kamu Sha. Dia cerita kehebatan teman sebelahnya yang juara Sepakbola Antar Pelajar , juara O2SN dan juga pemenang Olimpiade Sains. Kamu yang percaya diri, kamu yang punya banyak teman... dia bangga banget punya teman kayak kamu Sha. Dia selalu penuh ekspresi pas nyeritain kamu, sampai tiap hari Bapak sama Ibu selalu nanyain ‘gimana kamu sama Arsha?’ hahaha... hah,” tawa Pak Danu terhenti. Beliau mengambil nafas dan berkata lagi “Dia itu sayang banget sama abangnya, sampai – sampai dia terpukul sekali waktu Indra meninggal. Bapak kira dia jadi murung terus, ternyata nggak... kamu bisa bikin dia senyum kayak biasanya.” Kata Pak Danu sambil melihat Arsha.
“Kalau gitu, Bapak masuk ya... kamu liatin Ibu bentar.” Arsha mengangguk dan bergeser dari tempatnya berdiri mempersilahkan Pak Danu. Arsha menyentuh jendela kecil itu.
“Na... cepat bangun ya.” Arsha pergi menuju mushola, sedangkan Pak Danu sekarang ada di samping Anna.
10 menit lebih berlalu, Pak Danu terdiam di samping ranjang Anna. Menatap Putri semata wayangnya itu dengan lembut. Pak Danu kemudian menarik tangan Anna untuk di genggamnya.
“Na... rasanya baru kemarin kamu lahir, sekarang kamu sudah besar. Ayah senang banget waktu kamu ulang tahun kemarin ngasih kue ke Ayah seperti setiap tahunnya. Huh... Na, kamu ingat nggak dulu kamu iri habis – habisan ke Abangmu karena dia sudah punya laptop sendiri tapi kamu masih bareng sama Ayah laptopnya. Ayah senang, akhirnya kamu bisa iri sama Abang kamu dan Ayah berusaha nabung biar bisa beli laptop buat kamu. Tapi pas Abangmu meninggal kamu ingatkan pertanyaan Ayah, kamu pengen laptop kayak apa? Lalu kamu jawab, kamu mau pake laptop abang, Ayah tanya lagi, kenapa? Itukan udah lama dan nggak bagus lagi, kamu jawab, karena itu punya Abang... kamu dengan kuatnya nggak nangis waktu itu. Ayah... Ayah senang kamu lahir di dunia Na, Ayah masih ingat waktu kamu pertama kali kamu gendong... detak jantung kamu yang kecil, suara tangismu... Ayah.. Ayah... Anna..., kalau kamu udah cape... Ayah nggak bisa maksa kamu.... Ayah ikhlas Na... Ayah ikhlas apapun yang terjadi sama kamu. Ayah sayang kamu Anna..” Pak Danu menggenggam erat tangan Anna. Air mata Pak Danu yang selama ini dia tahan akhirnya keluar. Keheningan di ruang ICU menjadi semakin hening. Suara monitor dan alat pernafasan bersahutan tanpa henti. Anna.. mulai.. menangis...



to be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar