Karenamu Aku
Bertahan
(Part II)
“Anna.”
“Ya?.”
“Sejak kapan kita temenan?.”
“Kapan ya? Aku juga lupa.. dari awal masuk
mungkin?.”
“Hoo.. kok nggak terasa ya?.”
“Yaiyalah, tiap hari ketemu.. kalo nggak ketemu,
baru berasa lamanya gimana.”
“Jeh, dapat ‘petunjuk Blue’ dari mana? Kok jadi
sok bijak?.”
“Aku bukannya sok bijak, kenyataannya emang
begitu kok.”
---
(Arsha)
Semakin lama
hari menjadi semakin gelap. Hujan menambah gelap malam ini. Malam di mana aku
merasa begitu lemah. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menangkap tangannya, dan
aku juga berupaya menenangkannya tapi dia kini semakin menangis. Aku begitu
bingung, aku tak pernah sebingung ini dalam hidupku. Aku memeluknya tapi...
seakan tidak melakukan apa – apa. Kalau saja aku berlari lebih cepat, tidak,
kalau saja aku tau hal itu lebih cepat, tidak, kalau saja aku memikirkan
perasaannya...
“Sha...
Arsha... Arsha!.” Teriak Anna sambil mengguncang tubuhku.
Aku merasa
sangat pusing, tubuhku terasa melayang, pandanganku mulai pudar... Tidak,
Tidak! Aku tidak boleh begini. Tidak boleh.
“Sha! Kamu
berdarah Sha! Sha... maafin aku Sha... ini gara – gara aku...” Anna semakin
menangis. Aku melihat perut bagian kananku, bajuku robek di sekitar daerah
perut dan agak... perih.
Anna menekan
pipinya kuat – kuat, sepertinya dia ingin menyadarkan dirinya. Kemudian setelah
air matanya agak berhenti, dia membopongku perlahan dengan terseok – seok ke
pohon terdekat. Dengan gilanya aku sempat menatap ke atas, aku mengamati, dan
dalam hati bertanya ‘ini pohon apa?’ tapi aku tau ini bukan situasi yang tepat.
Anna berdiri lagi dan berjalan menuju tas.. itu tas siapa?. Astaga! pertanyaan
gila lagi – lagi muncul dalam benakku. Anna melihat ke arah perutku dan
kemudian mengacak isi tas dan mengeluarkan handuk kecil, dia melakukan
pertolongan pertama buatku. Dia mengeluarkan jaket tipis berwarna pink dan
mengikatkannya ke perutku dan juga di tahan dengan handuk tadi di lapisan
pertamanya. Pendarahanku sepertinya berhenti.
“Na...” Itu
kalimat pertama yang bisa aku katakan di antara kepeningan.
“Ya?.”
Jawabnya, seperti biasa. Aku menyentuh pipinya. Hujan membuat pipinya terasa
dingin. Tapi tatapan matanya yang teduh tetapi menghangatkan, mampu membuatku
tentram saat memandangnya.
“Kamu nggak
salah... sama sekali enggak.” Ucapku sambil berusaha tersenyum. Tangis Anna
kembali meledak. Dia menggenggam tanganku dengan lembut.
“Kenapa anak
perempuan itu mudah menangis...?” Tanyaku, akhirnya keluar juga pertanyaan gila
yang dari tadi aku fikirkan. Anna, diantara tangisannya dia menatapku lurus
lalu memejamkan matanya lagi dan tetesan air mata kembali menetes dari
matanya... aku merasakan keindahan memilukan di tiap tetesnya. Hujan tidak
membuatku sulit membedakan apakah itu air mata atau air hujan.
“Karena itu
adalah hak istimewa seorang perempuan, pas nggak ada lagi kata yang bisa
mewakili perasaan kami, kami akan menangis... yang di tiap tetesnya berbicara
‘inilah perasaan kami sekarang’ yang kadang nggak di mengerti para adam, apa
lagi kamu, Arsha.” Ucapnya. Sekali lagi pertanyaanku di jawab olehnya. Dan
sekali lagi aku terkagum oleh kosa katanya yang begitu luas, penuh perasaan,
tapi tersembunyi. Sungguh perempuan yang terlalu rumit.
“Apa kamu ada
yang luka? Kakimu...” Tanyaku sambil kembali merasakan pusing yang luar biasa.
“Jangan fikirin
aku, kamu lebih parah... aku harap bantuan cepat datang.” Kata Anna sambil
mengacak kembali tas.. sekarang aku sadar itu tasku. Dia mengeluarkan senter.
Ya, harinya memang semakin gelap. Hujan masih setia menemani kami di sini.
Aku memegang
perutku, pendarahannya lumayan berenti tapi kepalaku luar biasa pusing dan
sangat mengantuk. Anna mulai panik lagi. Dia seperti mengatakan sesuatu,
tapi... aku tidak... bisa mendengar... nya.
000
(Anna)
“Sha!!
Shaaa!! Jangan pingsan Sha!! Sha!!.” Kali ini guncangan dariku tidak membuatnya
bangun. Wajahnya pucat karena kehilangan banyak darah.
Rasa takut
mulai menyelimutiku. Arsha, dia akan mati? Tidak, tidak ini tidak boleh
terjadi. Arsha, jangan, Arsha...
“Sha...
bangun Sha, jangan buat aku takut... Sha... Bangun... Arsha... kamu nggak boleh
mati... nggak boleh...” Aku masih bersikeras untuk mengguncang tubuhnya tapi
tidak ada hasil. Langit mulai gelap. Hujan makin deras. Ayo Anna! Kalo kamu
pengen Arsha tetap hidup, kamu harus cari bantuan.
Aku mencoba
mengangkat Arsha ke dekat tebing. Aku menyenderkannya di pohon. Kakiku mulai
mati rasa, saking sakitnya sampai mati rasa. Aku membuat tanda SOS dengan
memancarkan cahaya ke puncak tebing dengan senter Arsha. Tuhan... Aku mohon,
beri aku bantuan, aku ingin menyelamatkan Arsha...
Hampir 1 jam
berlalu, aku sesekali memeriksa Arsha dan memperbaiki perbannya. Sekarang di
pinggang Arsha ada 2 jaket dan 1 sweater. Satu – satunya alat yang aku bisa
gunakan di untuk Arsha.
“Annaaa!!!
Arshaaaaa!!!!!.” Teriak seseorang dari atas.
“Di sini!!!
Wooyyyy!!!! Di bawaaahhh!!!!” Teriakku sekuat tenaga. Mereka melihat kebawah
dan langsung turun menyelamatkan kami.
“Arsha
pingsan?.” Kata Pak Tian, guru olah raga. Aku cuma bisa mengangguk.
“Kamu nggak
papa?.” Kata Panji. Kali ini aku nggak bisa ngangguk lagi. Semua memasangkan
tali pada tubuh Arsha untuk mengangkatnya ke atas tebing. Di bawah tebing
sekitar 3 orang dan yang di atas, aku tidak bisa menghitungnya, terlalu gelap.
Oh bukan, pandanganku yang semakin gelap. Kelegaan yang luar biasa membuat
semua rasa sakit yang tadi nggak terasa jadi terasa sekali. Semuanya jadi terasa
melayang.
Arsha sudah mulai di gotong ke atas tebing. Aku menatapnya dengan lurus,
aku berharap dia baik – baik saja.
“Ji.”
“Hah? Apa?.”
“Tolong… temenin Arsha.. sampai dia.. sadar…” Nafasku menjadi tersendat –
sendat. Perut bawah bagian kiri ku terasa semakin sakit. Kakiku mulai lemas,
Panji menangkapku. Dia seperti berbicara sesuatu tapi tidak terdengar… yang
kudengar hanya tetesan hujan.. yang sekarang… sudah.. reda.
000
(Arsha)
“… nggak di gips juga?.”
“Bego! Perut dia tu robek bukan patah tulang! Lagian gimana caranya
nge-gips perut?.”
“Saraf! Aku maksud itu kakinya! Nggak di gips juga?”
“Dia ini cuma keseleo, beda dengan ‘dia’. Kalo dia itu tulangnya retak
makanya di gips.”
“Emang gimana sih ceritanya sampai mereka lari – larian ala India gitu?.”
“Aku juga bingung, seriusan. Susah banget kayaknya hidup mereka.”
“Bukannya mereka berdua anak orang kaya?.”
“Somplaakkk!!!! Bukan itu maksudkuuuuu!!!!.” Cep, mereka berdua diam
liat aku bangun.
Baru aja aku buka mata udah di sambut dengan pemandangan beginian. Aku
lihat Panji dan Ryan lagi main kartu di kakiku. Ngakunya sih sambil jagain tapi
aku nggak yakin.
“Jangan tiba – tiba bangun, perut kamu tuh baru aja habis di jahit
sekitar 10 jahitan. Untung kamu nggak di rawat di ICU cuma di suruh di kamar
biasa aja.” Kata Panji masih meneruskan permainan kartunya dengan Ryan.
Ah! Kepalaku pusing… tapi nggak sepusing kemarin sih. Aku menengok ke
samping ada kantong darah lagi menjalar ke tubuhku. Perutku rasa habis di tusuk
pisau. Aku sepertinya sudah ganti baju. Masih terasa jaket yang di ikat oleh
Anna semalam… tunggu dulu… Anna!
“Ji! Anna gimana Ji? Dimana dia???.” Kataku sambil mengguncang tubuh
kerempeng Panji.
“Di.. dia.. di ICU.” Kata Panji dengan kartu yang masih melekat di
tangannya. ICU? Anna kenapa?.
“Dia kenapaa??.” Guncangku sekali lagi.
“Dia di operasi, kakinya di gips dan ginjalnya di angkat…”
“Terus kenapa kalian berdua masih di sini??? Siapa yang nungguin dia??”.
Marahku. Astaga… kenapa jadi begini?.
“Justru karena Anna aku di sini bareng Ryan, karena Anna minta aku
nungguin kamu sampai kamu sadar.” Kata Panji. Aku langsung berdiri sambil
membawa infus. Panji dan Ryan berusaha menahan. Akhirnya setelah perdebatan
cukup lama aku di antar pakai kursi roda menuju ruang ICU.
Di ruang tunggu terlihat banyak anak – anak kelas dan juga dari kelas
lain duduk bahkan sampai lesehan. Mereka memandangku dan beberapa ada yang
bilang “sabar”. Lalu ku lihat di depan ruang ICU, ada ayah dan ibu Anna. Mereka
terdiam di sana menatap putri semata wayang mereka. Aku menyuruh Panji dan Ryan
kembali ke ruang tunggu. Aku menghampiri Ayah dan Ibu Anna.
“Om.. Tante..”
“Arsha, kamu udah baikan nak?.” Kata Ibu Anna, wajah hawatirnya sangat mirip dengan putrinya.
“Udah nggak papa kok Tante, Anna gimana?.” Entah kenapa ada rasa sesak
luar biasa saat aku mengatakan itu. Ayah Anna terlihat menarik nafas panjang
dan berkata…
“Waktu di lokasi kejadian dia pingsan dan sama – sama di bawa dengan
kamu ke UGD, ternyata dia mendapatkan pendarahan internal pada ginjalnya… dan
harus di angkat. Dia mendapat 2 operasi dalam 1 malam yaitu pengangkatan ginjal
dan patah kaki. Sekarang dia… masih
dalam masa kritis karena pendarahannya terlalu banyak dan masih kekurangan stok
darah… Kalau Anna… tidak mendapat tranfusi darah hari ini, nyawanya.. tidak
tertolong.” Ucap Ayah Anna dengan mata yang berkaca – kaca.
Anna… Coba saja tadi malam aku bisa menangkapmu.
“Arsha… Arsha… kamu
pinter – pinter bego ya?.”
“Sha, dengerin aku bentar.”
“Kamu harus kuat Sha,
perjuangin dia!.”
“Kuat dong! Jangan mewek
gini terus!!.”
“Benarkah?.”
”Nanya apa lagi Sha?.”
“STOOOPPPPP!!!”
“Aku nggak mau begini... bukan ini maksudku...
aku... aku... maaf”
“Sha! Kamu berdarah Sha! Sha... maafin aku Sha...
ini gara – gara aku...”
“Jangan fikirin aku, kamu lebih parah...”
“Sha!! Shaaa!! Jangan pingsan Sha!! Sha!!.”
“… Jangan pergi Sha… Aku sayang
kamu…”.
Anna… Na… Maafin aku Na, aku… aku juga… aku….
To
be continued...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar