Minggu, 29 Maret 2015

Blog Minggu XII



Kadang saat melihat langit, saya merasakan kepedihan dari tanah yang tidak bisa mencapainya. Kepedihan seorang tunarungu akan suara dan kepedihan burung pungguk pada purnama. Lagi galau maksimum kayaknya makanya gini (T^T).Saya pernah disayangi, tapi saya menyia – nyiakannya. Dan sekarang saya tau bagaimana sakitnya menyayangi itu. Huff.. Nafas saya jadi sesak kalo mikirin itu (T^T). Di tambah lagi nonton Tsunagu... makin nangis lah saya :’( .
Mungkin menurut anda saya lebay, atau mungkin saya akan di hujat dan di cemooh karena terlalu perasa. Tapi inilah saya. Saya akan melakukan sesuatu menggunakan panggilan jiwa bukan hanya sekedar tugas. Saya jarang melakukan sesuatu sampai tuntas, makanya saya ingin berkonsisten di sini.
Pemikiran orang berbeda, karena itu saya tidak ingin memaksakan keegoisan saya kecualiiii kalo hal makanan. Yah saya mengakui saya datar sekali hari ini. Tapi izinkan saya, membuat cerita yang membuka mata anda masing – masing kalau menyayangi seseorang itu begitu sulit dan menyedihkan. Jadi kalau ada orang yang begitu menyayangimu, jangan kamu sia – siakan. Karena saat dia pergi, kamu kehilangan orang yang sangat ingin menyayangimu.
Kita langsung mulai aja yah, yup cus.
Karenamu Aku Bertahan
Seperti anak ayam yang langsung mengikuti orang yang pertama kali melihatnya, beginilah keadaanku sekarang. Aku terjebak dalam orbit dengan dia sebagai pusatnya. Dan aku tidak mungkin lepas darinya. Sosok yang selalu aku fikirkan saat aku membuka mata. Sosok yang bahkan aku tidak membayangkan bisa memeluknya... kini sekarang memelukku dengan erat.
Hujan yang selalu aku sukai kini memjadi ku benci, hujan berjatuhan menusuki tubuhku... ah, itu tidak masalah, tapi dia... dia lah yang aku hawatirkan. Hujan menjatuhinya tanpa ampun. Tiap tetesnya mendapat makian dariku. Tapi hujan semakin deras, deras, dan makin deras.
Dia masih memelukku di tengah kebekuan ini. Berkali kali dia meeratkan pelukannya yang entah kenapa aku rasa semakin menyakitkanku. Peluk yang selalu aku harapkan, kenapa malah semenyedihkan ini.....?
000
Ini hari dimana aku ditinggalkan. Aku sendirian di sini di ruangan yang ramai tapi terasa sunyi. aku baru saja kehilangan seseorang yang sangat aku sayangi. Dia yang tidak memilihku, karena aku yang sangat penuh kekurangan ini. Ruang kelas baru yang harusnya di isi dengan keceriaan, seperti sebuah kiasan semu bagiku, terlalu banyak yang aku pikirkan. Kekakuan begitu terasa pada sekelilingku.
Tapi sedetik kemudian, dia memasuki pintu, pintu yang sepertinya hanya seperti pintu biasa itu entah kenapa bagiku berubah seperti pintu dari surga yang dimana malaikatnya yang melewati pintu itu. Dia, dia keluar dari sana. Sosok yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Arsha, itu namanya. Dia seperti bom penyemangat yang mampu membuat orang nyaman berada di dekatnya tanpa terkecuali aku. Lalu aku? Aku Anna. Hanya gadis biasa yang yah.. biasalah begitu. Aku seperti hanya partikel kecil yang berkeliaran tanpa tujuan. Aku bahkan tidak memiliki mimpi. Tapi dia berbeda, dia adalah manusia yang tidak takut bermimpi, dia mengejar mimpinya itu dengan gigih dan penuh kerja keras. Dia dengan pemikirannya yang unik menciptakan sebuah sensasi gila yang bisa membuat semua orang terhipnotis dan mendekat padanya.
Aku yang hanya perempuan biasa ini entah beruntung atau apa, kini menjadi sahabatnya. Hampir tidak ada yang kami lewatkan berdua atau beramai – ramai dengan yang lain. Dia membuatku tidak takut bermimpi, obrolan gila yang kami omongkan menjadi kegilaan di antara kami.
Suatu hari, aku yang memang bertubuh lemah ini dan juga memiliki penyakit asma tiba – tiba tidak bisa berkutik dengan penyakitku. Semua terasa berputar dan gelap. Diantara sadar dan tidak ada wajah yang sama yang selalu ada untukku di saat yang sama. Arsha dengan wajah paniknya. Ini tidak bagus , dalam benakku. Aku tidak boleh sampai jatuh hati padanya.
Tapi Tuhan berkehendak lain, Arsha yang ku kenal tiba – tiba sedikit berubah. Kebiasaan dan gerak – geriknya menjadi agak aneh. Aku belum menyangka ini akan menjadi sebuah energi aktifasi yang merubah hidupku selamanya, sampai dia berkata padaku.
“Na, aku suka sama Fira”. Katanya. Aku seperti mendapat serangan jatung sesaat. Nafasku seperti tertahan tapi aku berusaha menutupinya.
“Benarkah?”. Tanyaku.
“Iya, aku sepertinya sudah suka padanya dari dulu, cuma aku yang baru sadar sekarang. Aku terpesona padanya”. Kata Arsha dengan sangat yakin. Aku cuma tersenyum dan itu menjadi bahan ejekanku padanya saat itu, untuk menutupi kegilaanku yang takut kehilangan dia.
Arsha berkali – kali datang padaku untuk menanyakan hal yang sama.
“Apa yang harus aku lakukan?”.
“Dia kenapa begini?”.
“Lalu aku harus bagaimana?”.
Arghh... pertanyaan itu seperti semakin berputar – putar dikepalaku dan dengan bodohnya aku selalu menjawab tiap pertanyaannya dan memberikan dia masukan agar dia bisa mendekati Fira. Tapi semua yang aku usahakan dengan Arsha hancur di tengah jalan. Fira sudah memiliki pacar. Arsha merasa sangat terpukul. Tapi dia masih berusaha dan berusaha sampai pada akhirnnya dia lelah dan berkata padaku.
“Aku sudah berhenti”. Katanya. Tersirat kelegaan di hatiku. Tapi ini ternyata menjadi awal aku benar – benar jatuh.
Arsha berubah total, kini bukan aku yang paling dekat dengannya. Dia memilih mencurahkan kegundahannya pada yang lain... tanpa dia tau, aku menangis dan menangis saat aku tau aku bukan lagi jadi tempat dia bersandar.
Kegelapan mulai menyelimutiku lagi, aku kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua kalinya. Aku sangat rapuh kala itu... entah sudah berbagai hal aku lakukan untuk menguatkan diriku sendiri tapi NOL BESAR. Aku tidak bisa melupakan Arsha.
Aku mencari tau kenapa dia begini. Aku mencari info kemana – mana hingga akhirnya aku tau jawabannya , Arsha jatuh cinta lagi. Kali ini pada Novi. Dia lumayan akrab denganku dan itu yang membuat Arsha tidak mau memberi tahuku karena ada yang berkata padanya kalau aku suka padanya sehingga dia tidak ingin menyakitiku. Aku kaget bukan main. Aku tidak terima di tinggalkan begini.
Tapi aku tidak menyerah. Gadis bodoh bernama Anna ini telah menjadi gadis idiot yang merelakan orang yang sangat dia sayangi dan amat dia butuhkan. Aku membuat berusaha mendekatkan Novi dan Arsha. Sampai aku tidak tau berapa air mata yang aku teteskan karena ini. Hingga suatu ketika...
“Anna”. Panggil Novi padaku.
“Apa Nov?”. Kataku.
“Aku mau cerita”.
“Cerita apa?”.
“Kamu tau Dimas?”. Aku mengangguk. Dimas adalah teman dekatnya Novi.
“Nah, Dimas nembak aku kemarin. Aku jawab apa nih?”. Tanya Novi padaku. Aku terdiam. Hal yang pertama kali aku fikirkan adalah bagaimana dengan Arsha???.
“Fikirin aja dulu. Kalo menurut kamu baik terima kalau nggak tolak”. Jawabku simpel.
“Tapi aku sayang sama Dimas”. Katanya. Aku semakin panik, bagaimana dengan Arshaaaa?????.
Percakapan tadi aku sembunyikan dari Arsha, menurutku Arsha tidak boleh tau, aku tidak ingin dia tersakiti untuk kedua kalinya.
---
Kenaikan semester tiba dan libur panjang menanti. Sekolah kami mengadakan perkemahan di daerah pegunungan sekaligus hutan di kota kami. Kami yang sudah hampir lulus ini di berikan refresing ditemani dengan guru – guru. Pagi itu masih dengan mata setengah ngantuk kami harus berangkat ketempat yang di tuju. Aku melihat kesekeliling bus, Arsha tidak ada, begitu juga Novi. Ternyata mereka menaiki bus berbeda dan duduk bersama. Dan entah kebetulan atau apa, aku sebangku dengan Dimas.
“Hai Na”. Kata Dimas memecah kesunyian di antara kami.
“Apa?”. Tanyaku cuek. Aku malas mengobrol.
“Kamu dekatkan dengan Novi dan Arsha? Apa hubungan mereka?”. Tanya Dimas langsung to the point. Aku sangat kaget dengan pertanyaannya.
“Mereka dekat”. Jawabku sedikit tertahan.
“Apakah cuma ‘dekat’? terus kenapa Arsha mengejar Novi terus?”. Tanyanya lagi.
“Iya, Arsha suka Novi dan Novi belum ngasih jawaban ke Arsha”. Jawabku dengan nada kesal.
“Baguslah, artinya dia bukan sainganku”.
“Lho? Kenapa?”.
“Soalnya aku sudah jadian dengan Novi, kami ingin merahasiakannya. Tapi melihat gerak gerik Arsha aku jadi ingin bilang kesem...”.
“Ku mohon jangan katakan itu!!”. Kataku sambil menutup mulut Dimas.
“Apapun akan aku lakukan asal kamu tidak mengatakan itu padanya. Aku mohon... aku tidak ingin dia sakit lagi aku... mohon... aku tidak tega melihat dia seperti itu... Novi itu adalah satu – satunya harapannya. Aku mohon jangan hancurkan harapannya seperti ini... aku mohon...”. Kataku. Tanpa terasa air mataku menetes. Dimas terdiam lalu mengangguk.
“Terimakasih”. Kataku dalam lirih.
Sesampainya di perkemahan. Kelakuan Arsha ternyata semakin menjadi, dia mendekati Novi lagi dengan gilanya. Dimas sepertinya mulai geram tapi sesekali dia melihatku. Aku menjadi serba salah.
3 hari berlalu dan Arsha semakin menjadi – jadi. Dia bersikap amat manis pada Novi. Hingga acara mendaki gunung. Arsha tiba – tiba mendekatiku.
“Anna”. Katanya padaku. Saat itu aku melihat Dimas melirik ke arah kami.
“Apa?”. Kataku lagi, firasatku buruk. Ini hampir sama dengan kejadian tempo hari. Aku ingin tutup telinga dan tidak mendengarkan tapi aku tidak bisa.
“Aku mau nembak Novi hari ini, bantu aku ya”. Katanya dengan senyum yang biasanya dia berikan. Aku ikut tersenyum tapi hatiku menangis. Dimas menatapku lagi, sepertinya dia mendengar percakapan kami tapi lebih memilih berlalu.
Arsha mengambil start bersama Novi. Dan pasanganku adalah Panji, teman sekelasku juga dan yang tepat di belakangku adalah Dimas dan seorang anak perempuan dari kelas lain. Arsha seperti biasanya bercanda dengan Novi di sepanjang perjalanan. Lah aku? Panji cuma diam dan sesekali melihata ke arahku tapi tidak punya niat mengajak ngobrol. Dimas yang sedari tadi di ajak bicara oleh temannya, malah memilih diam dan menatap Arsha dan Novi dengan tatapan garang.
Di puncak gunung pertama, tiba – tiba Arsha dan Novi berhenti. Arsha memegang tangan Novi dengan lembut. Jantungku terasa ingin meledak. Aku terdiam kaku, Panji yang bingung kerena aku tiba – tiba mematung cuma menatapku heran dan memilih diam di tempat juga.
“Novi, kita udah lama temenan...”, kalimat pertama Arsha yang aku dengar. Saat itu sesak nafasku mendadak kambuh tapi aku tidak berniat mengambil semprotan asmaku di dalam kantong. Air mata yang sedari tadi ingin aku tahan akhirnya jatuh perlahan. Hatiku berkata aku harus mendengar kelanjutannya tapi otakku menyuruhku pergi. Tanpa sadar kakiku melangkah mencoba mendahului Arsha dan Novi. Aku memasang tudung jaketku agar tidak terlihat kalau aku sedang menangis. Saat selangkah lagi aku menjauh, Dimas menangkapku. Panji semakin bingung dia memilih mematung di tempat.
“.... dan udah lama aku mendam perasaan sama kamu. Aku suka kamu, mau nggak kamu jadi pacarku?”. Kata Arsha pada Novi. Aku semakin ingin meledak, untuk menahannya aku menutup mulutku agar tidak mengucapkan apapun. Tapi, tiba – tiba...
“Maafin aku Na, aku nggak bisa nepatin janji. Arsha udah kelewatan...”, Kata Dimas padaku. Dia melepaskan tarikan tangannya yang sedari tadi menahanku dan sekarang berdiri di antara Arsha dan Novi.
“Dengerin ya, Arsha. Novi itu udah punya pacar yaitu...”. Aku tidak ingin mendengar kelanjutannya. Akhirnya aku memberanikan diri berteriak.
“STOOOPPPPP!!!”, teriakku. Aku menatap Dimas dengan air mata tidak terbendung lagi.
“Jangan lanjutin Dim... aku mohon...”. Kataku.
“Nggak, aku harus lanjutin ini Na. Sha, pacar Novi itu adalah aku. Jadi jangan deketin dia lagi. Kalo bukan Anna yang mohon – mohon, udahku hajar kamu dari kemarin – kemarin”. Kata Dimas dengan tegas.
“Anna... kamu udah tau dari awal?”. Kata Arsha. Wajah Arsha terlihat sangat kecewa padaku. Aku menggeleng...
“Aku nggak mau begini... bukan ini maksudku... aku... aku... maaf”. Tanpa sadar kakiku berlari menuruni gunung. Aku berlari sekencang – kencangnya. Aku tidak tau jalanan yang aku lewati ini lurus, berbelok, atau bagaimana, yang aku tau, aku hanya ingin pergi.
Gerimis mengiringi lariku. Aku berlari kesana kemari. Sesekali aku mendengar suara orang memanggil namaku, suara yang aku kenal. Arsha... tapi aku tidak ingin melihatnya, tidak mau!. Dan “Brukk!!!”. Aku terpeleset kekaki jurang, aku meluncur, terguling, menabrak ranting dan pepohonan dan juga baru batu kecil.
“AAAAA!!!!!”. Teriakku sejadi – jadinya. Tapi ada sebuah tangan menggapaiku. Tangan yang bagiku mustahil aku bisa memegangnya. Tangan Arsha. Dia menarikku dan memelukku. Hingga akhirnya, kami terhenti di dasar jurang.
Kami bangun dengan posisi duduk. Aku masih bisa merasakan kegilaan saat jatuh tadi, seluruh tubuhku sakit. Aku melihat Arsha yang juga sepertinya masih pening karena kejadian tadi.
“Na! Kamu nggak papa kan? ada yang luka? Yang mana yang sakit?”. Arsha menatapku dan memegang kedua pipiku. Aku menggeleng. Arsha terlihat lega dan... oh Tuhan, dia memelukku.
“Astaga, kupikir aku nggak bisa nangkap kamu tadi...”. Ucapnya lirih.
Aku tidak percaya dengan apa yang aku rasakan sekarang. Sosok yang selalu aku fikirkan saat aku membuka mata. Sosok yang bahkan aku tidak membayangkan bisa memeluknya... kini sekarang memelukku dengan erat.
Hujan yang selalu aku sukai kini memjadi ku benci, hujan berjatuhan menusuki tubuhku... ah, itu tidak masalah, tapi dia... dia lah yang aku hawatirkan. Hujan menjatuhinya tanpa ampun. Tiap tetesnya mendapat makian dariku. Tapi hujan semakin deras, deras, dan makin deras.
Dia masih memelukku di tengah kebekuan ini. Berkali kali dia meeratkan pelukannya yang entah kenapa aku rasa semakin menyakitkanku. Peluk yang selalu aku harapkan, kenapa malah semenyedihkan ini.....?
To be continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar