Minggu, 22 Maret 2015

Blog Minggu XI

Seperti yang sudah saya janjikan saya akan melanjutkan kisah kemarin. Dan saya juga tau kalau anda – anda tidak menantikan bacaan saya. Sebelum melanjutkan itu saya ingin membahas masalah arti kepercayaan. Bagi saya kepercayaan itu seperti membuat bayi tanpa seorang ayah (Nah? Gimana tuh?) sesulit itukah? Memang sulit saya rasa dan jujur saya ini bukan (lagi) orang yang mudah percaya dengan orang. Tapi dulu saya ini terlalu polos *nggak cocok mbak! Nggak cocok!!* sehingga saya terlalu mudah percaya dengan orang yang terkadang menyalah gunakan kepercayaan saya (ciee tersakiti cieee).
Saya pernah dulu punya pacar (udah jadi mantan kok), saya kira hubungan kami bakalan baik – baik ajah, tapi!! Tenyata saya ini bukan pacar dia tapi jadi selingkuhan (T^T). Saya jadi kurang percaya cowo saat itu tapi masih aja sih ngeyel pacaran juga. Tapi ya gitu lah.. nggak ada yang tuntas karena kurangnya kepercayaan entah dari dia atau dari saya sendiri. Lalu saat SMA malah temen saya yang ngehianatin saya, dua orang malah temen saya yang kayak gitu sama saya. Saya ini kayaknya memang golongan orang teraiaya kali ya... buktinya saya sering di bully oleh teman – teman saya (T^T). Oke lupakan hal itu, sekarang kita balik lagi nyambung cerita bersambung yang sekarang ingin saya sambung.
Saat saya mengetik ini sebenarnya saya menyadari kalau dari awal ngetik kok saya nggak nyambung ya? Lupakan lah, ayo mah sok atuh di baca ya. Cekidot.
Kakak - Adik Masa Gitu?
Part II

(Ngeliat dikit cerpen minggu lalu)
“Ini Pak Direktur”. Ucap Kayla dengan senyum. Gandi langsung menarik Kayla kedekatnya.
“Sekertaris begini enaknya di apain ya??”. Tanya Gandi sambil menggoda Kayla.
“Ngga boleh macem – macem, nanti bukannya jadi Direktur malah jadi OB”. Gandi langsung mencubit pipi Kayla. Nah adegannya kan begitu tuh, keliatan kayak Gandi mau nyium Kayla padahal nggak. Dan masuklah seorang pemuda berusia 20an kedalam ruang Direktur. Otomatis Kayla langsung mendorong Gandi.
“Sakit kali Kay!”. Kata Gandi. Kayla nggak jawab karena Gandi sadar sendiri dengan kehadiran orang di ruangan itu.
“Halo Gan, lama nggak ketemu ya”. Kata orang itu dan... ruangan itu tiba – tiba hening dan penuh kekakuan. Gandi berdiri dari kursinya dan memecah keheningan.
“Halo apaan? Kita baru ketemu kemarin”. Jawab Gandi dengan wajah flat. Lelaki itu cuma tersenyum sinis dan langsung menatap Kayla dari atas sampai bawah tapi terhenti karena langsung di halangi Gandi.
“Ngapain liat – liat?”. Kata Gandi.
“Cuma liat aja, lumayan juga mainan loe kali ini. Anak SMA ya?”. Katanya dengan nada yang benar – benar menjengkelkan.
“To the point aja, ngapain lo kesini? Bahas yang kemarin?”. Kata Gandi yang sepertinya ingin cepat mengakhiri pertemuan dengan orang ini.
“Emang loe ya, nggak bisa di ajak basa – basi. Kenalin dulu dong gue sama cewek lo”. Kata orang itu masih dengan wajah yang mengesalkan.
“Dia Kayla”. Jawab Gandi singkat.
“Hai Kayla, nama gue Seno”. Kata Seno sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tapi Kayla berfikiran jahil, dia membiarkan Seno sekitar sepuluk detik tanpa sambutan tangan darinya. Akhirnya Kayla menyambut tangan Seno dengan ramah.
“Hai Seno”. Kata Kayla ramah. Seno membalas dengan senyum lega, awalnya dia takut mati kutu gara – gara tadi. Tapi sejahil – jahilnya Kayla masih ada yang lebih jail.
“Udah kan? nah loe pergi deh sekarang”. Kata Gandi melepaskan salaman mereka. Seno mendengus kesal dan langsung memberikan map ke Gandi.
“Itu rencana kerja yang kemarin gue bahas sama loe dan bokap loe. Gue harap loe setuju dengan terder –nya. Minimal loe baca dulu deh biar gue besok atau pas loe hubungin gue, gue langsung datangin loe”. Kata Seno dengan wajah serius. Jiwa propesianalnya kayaknya lagi keluar.
“Ni gue bawa dulu biar gue omongin sama bokap gue dulu. Kalo udah fix baru gue hubungin loe, paling lama besok gue kabarin”. Kata Gandi sambil mengambil map dari tangan Seno.
“Oke, kalo gitu gue cabut dulu. Bye Gan, sampai ketemu lagi Kayla”. Katanya sambil mengejek Gandi. Gandi cuma bisa jengkel dengan kelakuan Seno.
“Siapa itu Gan?”. Tanya Kayla dengan wajah polos.
“Dia sepupu aku, anak sepupunya Bapak. Di usianya yang masih 21 tahun dia udah megang perusahaan dan sekarang dia lagi bikin cabang di daerah pusat kota. Walaupun ngeselin dia itu emang ngebetein sih”. Kata Gandi di iringi tawa dari Kayla.
“Kok ketawa?”. Tanya Gandi bingung.
“Kalian akrab banget ya, kenapa nggak manggil Kak Seno gitu?”. Kata Kayla yang diikuti ekspresi jijik dari Gandi.
“Amit – amit aku akrab sama orang kaya gitu Kay~ masa mahluk begitu di panggil Kaka sih? Nggak cocok!”. Kata Gandi. Kayla cuma ketawa lagi dengan sikap Gandi yang anti-Seno itu.
Sore sudah tiba, Kayla di antar pulang. Pak Agung sudah dengan gagahnya berdiri di depan pintu. Kayla namarin Gandi masuk, dan akhirnya yang ngobrol sampai malam itu malah Pak Agung dan Gandi. Kayla dan Bu Suci sedang masak makan malam.
“Bunda”.Panggil Kayla pada Bu Suci.
“Kenapa sayang?”. Jawab Bu Suci.
“Kok Kayla nggak punya kakak atau adik sih, Bun?”. Tanya Kayla yang bikin Bundanya stop ngeiris bawang. Bu Suci cuma senyum dan jawab.
“Nanti Bunda cerita ya”. Kata Bu Suci dengan lembut. Malam itu ruang makan terdengar ramai karena ada nambah 1 personil yaitu Gandi. Sekitar pukul 8 lewat Gandi pulang dan rumah kembali kayak biasa lagi. Ruang keluarga di isi oleh Kayla dan kedua orang tuanya.
“Ayah, Bunda. Kenapa Kayla nggak punya Kakak atau Adik?”. Kata Kayla dengan polosnya.
“Itu karena Bunda ini lemah kandungan”. Kata Ayah dengan santai sambil makan biskuit coklat.
“Itu bener Bunda?”. Tanya Kayla.
“Iya, dulu Bunda itu susah sekali punya anak, 2 tahun nikah baru punya kamu itu juga dengan usaha keras karena Bunda keguguran terus. Akhirnya Lahirlah kamu dan setelah kamu lahir, dokter bilang Bunda nggak mungkin punya anak lagi”. Kata Bunda sambil narik kotak biskuit dari tangan Ayah.
“Gitu ya Bunda?”. Kata Kayla sambil ikut – ikutan ngambil biskuit.
“Iya, makanya Bunda sama Ayah bersyukur banget punya kamu. Kamu itu adalah keajaiban buat Bunda dan Ayah”. Kata Ayah yang masih keukeh mempertahankan biskuit coklatnya. Mendengar itu Kayla langsung memeluk Ayah dan Bundanya. Malam itu keluarga Agung Bramaditya menjadi penuh dengan biskut coklat di mulut masing – masing. Tenyata Pak Agung punya banyak simpanan itu di sebuah tempat tidak lazim yaitu di ruang kerja beliau yang mirip dengan gudang penyimpanan biskuit coklat dari pada tempat kerja.
Paginya, di gerbang depan sekolah terjadi peristiwa sejarah yang memang itu yang terjadi setiap harinya ampe penjaga gerbang bosen liatnya. Yang berulah itu tidak lain tidak bukan adalah Cindy dan Kakaknya Donny. Entah apa yang mereka ributkan kali ini tapi yang terdengar adalah ini:
“Kan itu salah eloo!”. Kata Cindy.
“Ya gue kan nggak tauuu!! Lepasin guee, gue mau absen pagiii!! Nanti gue di hukum komandan gimanaaaa???”. Kata Kak Donny yang sudah dengan seragam polisi lengkap saat itu. Cindy masih saja menarik pipi Kakaknya yang lumayan cubby.
“Ganti kagak!! Kalo nggak mau ganti gue tahan loe di sini ampe gue pulang sekolaaahhhh!!!”. Kata Cindy dengan murkanya.
“Iyee iyeeee gue ganti!!! Tunggu gue gajian ya”.
“Kelamaaannnnn!!!! Ganti pokoknya gantiii!!!!”.
“Iya gue ganti iya! Suer janji dah”.
“Awas ya, yaudah loe pergi deh ntar telat”. Kata Cindy sambil melepatkan cubitannya.
“Yang bikin gue telat itu siapaaa??? Yok gue cabut”. Mbruuumm suara motor melaju. Kayla dan Bakri cuma bisa tercengang melihat tingkah dua bersaudara di depan mereka.
“Ngapain lo bedua di sini? Mau jadi patung selamat datang?”. Kata Zibran yang baru nongol.
“Oh ada adegan gulat gratisan ya tadi? Rugi gue kesiangan”. Kata Zibran sambil menyilangkan tangannya.
“Loe pada nggak ada niat masuk kelas?”. Kata Cindy yang menghampiri. Mereka berembat pun berjalan bergerombol di selasar kelas.
“Ngeri amat loe ama kakak loe Cin? Emang ada apaan?”. Kata Bakri yang udah penasaran.
“Masa MP4 gue di jatuhin dia di jalan dan dia ga tau jatuh di mana, ngeselin nggak tuh?”. Kata Cindy penuh dengan amarah.
“Yaelah Cin, kirain apaan. Lagian loe kok masih aja pake MP4?”. Kata Zibran sambil mengeluarkan nada sombong sambil mengeluarkan hp merk ternama dari kantongnya.
“Itu benda kesayangan tauu!!”. Cindy sudah mau menerkam Zibran tapi di tahan Kayla.
“Udah ah! Gitu aja kok ribut sih. Loe juga berantem mulu ama Kak Donny orang jangan gitu. Gue pengen banget punya kakak malahan”. Kata Kayla.
“Kalo bisa loe ambil Kak Donny loe ambil ajah, gue nggak mau punya kakak macam begitu”. Kata Cindy.
“Hush!! Nggak boleh ngomong begitu. Itu HARAM”. Kata Bakri dengan wajah yang imut. Kayla dan Cindy bukannya ngeh gara – gara dinasihatin malah menyerbu Bakri karna gemes. Zibran cuma bisa tepok jidat ngeliat tingkah 2 temen ceweknya ini.
(Saat pulang sekolah)
“Kak Donny kok lama banget yaaa????”. Kata Cindy sambil meremas botol minuman yang udah keberapa itu.
Kayla, Gandi, Bakri dan Zibran yang ikut nungguin karena nggak tega ninggalin Cindy sendirian. Gandi melihat ke arlogi-nya yang udah nunjukin pukul 3 sore.
“Emang Kakak loe nggak punya istirahat siang apa? Atau ada ngabarin lagi gitu?”. Kata Gandi yang juga udah kehabisan minumannya.
“Dari tadi siang nggak bisa dihubungin. Aktif sih tapi nggak bisa di angkat”. Kata Cindy dengan muka super bete.
“Loe ikut gue aja, atau loe ikut Bakri? Bakri! Loe kok nggak nawarin sih?”. Kata Zibran yang juga kehabisan minuman.
“Gue nih tiap hari ngajakin dia pulang bareng! Dianya aja yang nggak mau!”. Kata Bakri yang baru saja meminum tetesan terakhir dari minumannya.
“Ya Allah ! kok pada ribut sih? Kita tungguin aja dulu siapa tau Kak Donny emang lagi telat aja jemputnya”.
“Dasar Kak Donny ngeselin! Nah, ni orang yang di cari malah nelpon”. Kata Cindy dan mulai mengangkat hpnya.
“Halo Kak Donny, Kakak dimana sih kok belum jemput?”. Kata Cindy dengan tampang kesal dengan yang diseberang. Tapi sedetik kemudian wajah Cindy berubah drastis, wajahnya jadi pucat dan hampir jatuhin hpnya tapi langsung di tangkap Gandi.
“Cin, Cindy! Loe kenapa?”. Tanya Kayla hawatir.
“Halo”. Kata Gandi menyambung obrolan di telepon. Raut muka Gandi juga mengeras dan saat telepon itu mati Gandi langsung menatap serius keempat orang dihadapannya.
“Kita ke Rumah Sakit sekarang. Donny kecelakaan”. Kata Gandi. Semua langsung pergi ke Rumah Sakit itu dan di sepanjang jalan Cindy menangis dengan keras. Dia dari pagi memaki kakaknya dan dia merasa sangat bersalah.
Sesampainya di RS tepatnya di UGD, suster mengatakan kalau pasien bernama Gandi berbaring di ranjang ujung kanan dan 5 orang itu langsung menuju kesana. Kak Donny penuh dengan perban macam mummi apa lagi di bagian muka.
“Kak Donny... Maafin Cindy Kak... Cindy tadi pagi kasar sama kakak. Kak, maafin Cindy kak maafin Cindy...”. Cindy meraung keras dan Kayla juga ikut menangis. Gandi, Bakri dan Zibran cuma bisa menatap lesu melihat pemandangan ini. Tiba – tiba...
“Siapa Cin? Pake loe peluk – peluk segala. Kenal ya?”. Kata sosok yang baru saja menyikap tirai. 5 orang tadi kaget dan akhirnya langsung menoyor Donny yang kayaknya lukanya nggak parah – parah amat, luka jahitan di tangan dan perban di kaki dan juga benjol di kepala.
“Loe kenapa jadi gini Kak? Kakak kan polisi kok malah kecelakaan sih?!”. Kata Cindy sambil memukul – mukul kakaknya.
“Tadi waktu habis dari toko di pinggir jalan, eh ada yang kecelakaan. Niatnya mau nyamperin taunya di tabrak sama orang dari belakang. Untung cuma begini, yang nabrak lebih parah lo. Itu yang loe peluk tadi.”. Kata Kak Donny kayak nggak habis kecelakaan aja.
“Beli apaan sih! Coba jangan kebiasaan mampir – mampir gitu!!”. Kata Cindy masih marah.
“Beliin ini nih!! Jangan ngambek lagi ya”. Sebuah Ipod Nano merek ternama sekarang berada di tangan Cindy. Cindy akhirnya malah nangis sejadi – jadinya karena terharu. Kayla juga nangis.
“Kenapa Kay? Terharu?”. Tanya Gandi.
“Nggak, aku iri. Coba aja aku punya Kakak pasti aku bisa rasain apa yang Cindy rasain”. Jawab Kayla.
“Ehem! Emang aku ini kamu anggap apa hah?”. Kata Gandi.
“Kamu kan beda”.
“Beda apanya? Aku juga sering ngelakuin hal yang sama kayak Donny lakuin”.
“Kamu itu Pangeran aku”. Kata Kayla dengan wajah merah dan Gandi merangkul Kayla. Bakri dan Zibran cuma bisa muntah – muntah liat kejadian di depan mata mereka ini.

Oke! Sekian dari saya. Sampai ketemu minggu depan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar