Minggu, 29 Maret 2015

Blog Minggu XII



Kadang saat melihat langit, saya merasakan kepedihan dari tanah yang tidak bisa mencapainya. Kepedihan seorang tunarungu akan suara dan kepedihan burung pungguk pada purnama. Lagi galau maksimum kayaknya makanya gini (T^T).Saya pernah disayangi, tapi saya menyia – nyiakannya. Dan sekarang saya tau bagaimana sakitnya menyayangi itu. Huff.. Nafas saya jadi sesak kalo mikirin itu (T^T). Di tambah lagi nonton Tsunagu... makin nangis lah saya :’( .
Mungkin menurut anda saya lebay, atau mungkin saya akan di hujat dan di cemooh karena terlalu perasa. Tapi inilah saya. Saya akan melakukan sesuatu menggunakan panggilan jiwa bukan hanya sekedar tugas. Saya jarang melakukan sesuatu sampai tuntas, makanya saya ingin berkonsisten di sini.
Pemikiran orang berbeda, karena itu saya tidak ingin memaksakan keegoisan saya kecualiiii kalo hal makanan. Yah saya mengakui saya datar sekali hari ini. Tapi izinkan saya, membuat cerita yang membuka mata anda masing – masing kalau menyayangi seseorang itu begitu sulit dan menyedihkan. Jadi kalau ada orang yang begitu menyayangimu, jangan kamu sia – siakan. Karena saat dia pergi, kamu kehilangan orang yang sangat ingin menyayangimu.
Kita langsung mulai aja yah, yup cus.
Karenamu Aku Bertahan
Seperti anak ayam yang langsung mengikuti orang yang pertama kali melihatnya, beginilah keadaanku sekarang. Aku terjebak dalam orbit dengan dia sebagai pusatnya. Dan aku tidak mungkin lepas darinya. Sosok yang selalu aku fikirkan saat aku membuka mata. Sosok yang bahkan aku tidak membayangkan bisa memeluknya... kini sekarang memelukku dengan erat.
Hujan yang selalu aku sukai kini memjadi ku benci, hujan berjatuhan menusuki tubuhku... ah, itu tidak masalah, tapi dia... dia lah yang aku hawatirkan. Hujan menjatuhinya tanpa ampun. Tiap tetesnya mendapat makian dariku. Tapi hujan semakin deras, deras, dan makin deras.
Dia masih memelukku di tengah kebekuan ini. Berkali kali dia meeratkan pelukannya yang entah kenapa aku rasa semakin menyakitkanku. Peluk yang selalu aku harapkan, kenapa malah semenyedihkan ini.....?
000
Ini hari dimana aku ditinggalkan. Aku sendirian di sini di ruangan yang ramai tapi terasa sunyi. aku baru saja kehilangan seseorang yang sangat aku sayangi. Dia yang tidak memilihku, karena aku yang sangat penuh kekurangan ini. Ruang kelas baru yang harusnya di isi dengan keceriaan, seperti sebuah kiasan semu bagiku, terlalu banyak yang aku pikirkan. Kekakuan begitu terasa pada sekelilingku.
Tapi sedetik kemudian, dia memasuki pintu, pintu yang sepertinya hanya seperti pintu biasa itu entah kenapa bagiku berubah seperti pintu dari surga yang dimana malaikatnya yang melewati pintu itu. Dia, dia keluar dari sana. Sosok yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Arsha, itu namanya. Dia seperti bom penyemangat yang mampu membuat orang nyaman berada di dekatnya tanpa terkecuali aku. Lalu aku? Aku Anna. Hanya gadis biasa yang yah.. biasalah begitu. Aku seperti hanya partikel kecil yang berkeliaran tanpa tujuan. Aku bahkan tidak memiliki mimpi. Tapi dia berbeda, dia adalah manusia yang tidak takut bermimpi, dia mengejar mimpinya itu dengan gigih dan penuh kerja keras. Dia dengan pemikirannya yang unik menciptakan sebuah sensasi gila yang bisa membuat semua orang terhipnotis dan mendekat padanya.
Aku yang hanya perempuan biasa ini entah beruntung atau apa, kini menjadi sahabatnya. Hampir tidak ada yang kami lewatkan berdua atau beramai – ramai dengan yang lain. Dia membuatku tidak takut bermimpi, obrolan gila yang kami omongkan menjadi kegilaan di antara kami.
Suatu hari, aku yang memang bertubuh lemah ini dan juga memiliki penyakit asma tiba – tiba tidak bisa berkutik dengan penyakitku. Semua terasa berputar dan gelap. Diantara sadar dan tidak ada wajah yang sama yang selalu ada untukku di saat yang sama. Arsha dengan wajah paniknya. Ini tidak bagus , dalam benakku. Aku tidak boleh sampai jatuh hati padanya.
Tapi Tuhan berkehendak lain, Arsha yang ku kenal tiba – tiba sedikit berubah. Kebiasaan dan gerak – geriknya menjadi agak aneh. Aku belum menyangka ini akan menjadi sebuah energi aktifasi yang merubah hidupku selamanya, sampai dia berkata padaku.
“Na, aku suka sama Fira”. Katanya. Aku seperti mendapat serangan jatung sesaat. Nafasku seperti tertahan tapi aku berusaha menutupinya.
“Benarkah?”. Tanyaku.
“Iya, aku sepertinya sudah suka padanya dari dulu, cuma aku yang baru sadar sekarang. Aku terpesona padanya”. Kata Arsha dengan sangat yakin. Aku cuma tersenyum dan itu menjadi bahan ejekanku padanya saat itu, untuk menutupi kegilaanku yang takut kehilangan dia.
Arsha berkali – kali datang padaku untuk menanyakan hal yang sama.
“Apa yang harus aku lakukan?”.
“Dia kenapa begini?”.
“Lalu aku harus bagaimana?”.
Arghh... pertanyaan itu seperti semakin berputar – putar dikepalaku dan dengan bodohnya aku selalu menjawab tiap pertanyaannya dan memberikan dia masukan agar dia bisa mendekati Fira. Tapi semua yang aku usahakan dengan Arsha hancur di tengah jalan. Fira sudah memiliki pacar. Arsha merasa sangat terpukul. Tapi dia masih berusaha dan berusaha sampai pada akhirnnya dia lelah dan berkata padaku.
“Aku sudah berhenti”. Katanya. Tersirat kelegaan di hatiku. Tapi ini ternyata menjadi awal aku benar – benar jatuh.
Arsha berubah total, kini bukan aku yang paling dekat dengannya. Dia memilih mencurahkan kegundahannya pada yang lain... tanpa dia tau, aku menangis dan menangis saat aku tau aku bukan lagi jadi tempat dia bersandar.
Kegelapan mulai menyelimutiku lagi, aku kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua kalinya. Aku sangat rapuh kala itu... entah sudah berbagai hal aku lakukan untuk menguatkan diriku sendiri tapi NOL BESAR. Aku tidak bisa melupakan Arsha.
Aku mencari tau kenapa dia begini. Aku mencari info kemana – mana hingga akhirnya aku tau jawabannya , Arsha jatuh cinta lagi. Kali ini pada Novi. Dia lumayan akrab denganku dan itu yang membuat Arsha tidak mau memberi tahuku karena ada yang berkata padanya kalau aku suka padanya sehingga dia tidak ingin menyakitiku. Aku kaget bukan main. Aku tidak terima di tinggalkan begini.
Tapi aku tidak menyerah. Gadis bodoh bernama Anna ini telah menjadi gadis idiot yang merelakan orang yang sangat dia sayangi dan amat dia butuhkan. Aku membuat berusaha mendekatkan Novi dan Arsha. Sampai aku tidak tau berapa air mata yang aku teteskan karena ini. Hingga suatu ketika...
“Anna”. Panggil Novi padaku.
“Apa Nov?”. Kataku.
“Aku mau cerita”.
“Cerita apa?”.
“Kamu tau Dimas?”. Aku mengangguk. Dimas adalah teman dekatnya Novi.
“Nah, Dimas nembak aku kemarin. Aku jawab apa nih?”. Tanya Novi padaku. Aku terdiam. Hal yang pertama kali aku fikirkan adalah bagaimana dengan Arsha???.
“Fikirin aja dulu. Kalo menurut kamu baik terima kalau nggak tolak”. Jawabku simpel.
“Tapi aku sayang sama Dimas”. Katanya. Aku semakin panik, bagaimana dengan Arshaaaa?????.
Percakapan tadi aku sembunyikan dari Arsha, menurutku Arsha tidak boleh tau, aku tidak ingin dia tersakiti untuk kedua kalinya.
---
Kenaikan semester tiba dan libur panjang menanti. Sekolah kami mengadakan perkemahan di daerah pegunungan sekaligus hutan di kota kami. Kami yang sudah hampir lulus ini di berikan refresing ditemani dengan guru – guru. Pagi itu masih dengan mata setengah ngantuk kami harus berangkat ketempat yang di tuju. Aku melihat kesekeliling bus, Arsha tidak ada, begitu juga Novi. Ternyata mereka menaiki bus berbeda dan duduk bersama. Dan entah kebetulan atau apa, aku sebangku dengan Dimas.
“Hai Na”. Kata Dimas memecah kesunyian di antara kami.
“Apa?”. Tanyaku cuek. Aku malas mengobrol.
“Kamu dekatkan dengan Novi dan Arsha? Apa hubungan mereka?”. Tanya Dimas langsung to the point. Aku sangat kaget dengan pertanyaannya.
“Mereka dekat”. Jawabku sedikit tertahan.
“Apakah cuma ‘dekat’? terus kenapa Arsha mengejar Novi terus?”. Tanyanya lagi.
“Iya, Arsha suka Novi dan Novi belum ngasih jawaban ke Arsha”. Jawabku dengan nada kesal.
“Baguslah, artinya dia bukan sainganku”.
“Lho? Kenapa?”.
“Soalnya aku sudah jadian dengan Novi, kami ingin merahasiakannya. Tapi melihat gerak gerik Arsha aku jadi ingin bilang kesem...”.
“Ku mohon jangan katakan itu!!”. Kataku sambil menutup mulut Dimas.
“Apapun akan aku lakukan asal kamu tidak mengatakan itu padanya. Aku mohon... aku tidak ingin dia sakit lagi aku... mohon... aku tidak tega melihat dia seperti itu... Novi itu adalah satu – satunya harapannya. Aku mohon jangan hancurkan harapannya seperti ini... aku mohon...”. Kataku. Tanpa terasa air mataku menetes. Dimas terdiam lalu mengangguk.
“Terimakasih”. Kataku dalam lirih.
Sesampainya di perkemahan. Kelakuan Arsha ternyata semakin menjadi, dia mendekati Novi lagi dengan gilanya. Dimas sepertinya mulai geram tapi sesekali dia melihatku. Aku menjadi serba salah.
3 hari berlalu dan Arsha semakin menjadi – jadi. Dia bersikap amat manis pada Novi. Hingga acara mendaki gunung. Arsha tiba – tiba mendekatiku.
“Anna”. Katanya padaku. Saat itu aku melihat Dimas melirik ke arah kami.
“Apa?”. Kataku lagi, firasatku buruk. Ini hampir sama dengan kejadian tempo hari. Aku ingin tutup telinga dan tidak mendengarkan tapi aku tidak bisa.
“Aku mau nembak Novi hari ini, bantu aku ya”. Katanya dengan senyum yang biasanya dia berikan. Aku ikut tersenyum tapi hatiku menangis. Dimas menatapku lagi, sepertinya dia mendengar percakapan kami tapi lebih memilih berlalu.
Arsha mengambil start bersama Novi. Dan pasanganku adalah Panji, teman sekelasku juga dan yang tepat di belakangku adalah Dimas dan seorang anak perempuan dari kelas lain. Arsha seperti biasanya bercanda dengan Novi di sepanjang perjalanan. Lah aku? Panji cuma diam dan sesekali melihata ke arahku tapi tidak punya niat mengajak ngobrol. Dimas yang sedari tadi di ajak bicara oleh temannya, malah memilih diam dan menatap Arsha dan Novi dengan tatapan garang.
Di puncak gunung pertama, tiba – tiba Arsha dan Novi berhenti. Arsha memegang tangan Novi dengan lembut. Jantungku terasa ingin meledak. Aku terdiam kaku, Panji yang bingung kerena aku tiba – tiba mematung cuma menatapku heran dan memilih diam di tempat juga.
“Novi, kita udah lama temenan...”, kalimat pertama Arsha yang aku dengar. Saat itu sesak nafasku mendadak kambuh tapi aku tidak berniat mengambil semprotan asmaku di dalam kantong. Air mata yang sedari tadi ingin aku tahan akhirnya jatuh perlahan. Hatiku berkata aku harus mendengar kelanjutannya tapi otakku menyuruhku pergi. Tanpa sadar kakiku melangkah mencoba mendahului Arsha dan Novi. Aku memasang tudung jaketku agar tidak terlihat kalau aku sedang menangis. Saat selangkah lagi aku menjauh, Dimas menangkapku. Panji semakin bingung dia memilih mematung di tempat.
“.... dan udah lama aku mendam perasaan sama kamu. Aku suka kamu, mau nggak kamu jadi pacarku?”. Kata Arsha pada Novi. Aku semakin ingin meledak, untuk menahannya aku menutup mulutku agar tidak mengucapkan apapun. Tapi, tiba – tiba...
“Maafin aku Na, aku nggak bisa nepatin janji. Arsha udah kelewatan...”, Kata Dimas padaku. Dia melepaskan tarikan tangannya yang sedari tadi menahanku dan sekarang berdiri di antara Arsha dan Novi.
“Dengerin ya, Arsha. Novi itu udah punya pacar yaitu...”. Aku tidak ingin mendengar kelanjutannya. Akhirnya aku memberanikan diri berteriak.
“STOOOPPPPP!!!”, teriakku. Aku menatap Dimas dengan air mata tidak terbendung lagi.
“Jangan lanjutin Dim... aku mohon...”. Kataku.
“Nggak, aku harus lanjutin ini Na. Sha, pacar Novi itu adalah aku. Jadi jangan deketin dia lagi. Kalo bukan Anna yang mohon – mohon, udahku hajar kamu dari kemarin – kemarin”. Kata Dimas dengan tegas.
“Anna... kamu udah tau dari awal?”. Kata Arsha. Wajah Arsha terlihat sangat kecewa padaku. Aku menggeleng...
“Aku nggak mau begini... bukan ini maksudku... aku... aku... maaf”. Tanpa sadar kakiku berlari menuruni gunung. Aku berlari sekencang – kencangnya. Aku tidak tau jalanan yang aku lewati ini lurus, berbelok, atau bagaimana, yang aku tau, aku hanya ingin pergi.
Gerimis mengiringi lariku. Aku berlari kesana kemari. Sesekali aku mendengar suara orang memanggil namaku, suara yang aku kenal. Arsha... tapi aku tidak ingin melihatnya, tidak mau!. Dan “Brukk!!!”. Aku terpeleset kekaki jurang, aku meluncur, terguling, menabrak ranting dan pepohonan dan juga baru batu kecil.
“AAAAA!!!!!”. Teriakku sejadi – jadinya. Tapi ada sebuah tangan menggapaiku. Tangan yang bagiku mustahil aku bisa memegangnya. Tangan Arsha. Dia menarikku dan memelukku. Hingga akhirnya, kami terhenti di dasar jurang.
Kami bangun dengan posisi duduk. Aku masih bisa merasakan kegilaan saat jatuh tadi, seluruh tubuhku sakit. Aku melihat Arsha yang juga sepertinya masih pening karena kejadian tadi.
“Na! Kamu nggak papa kan? ada yang luka? Yang mana yang sakit?”. Arsha menatapku dan memegang kedua pipiku. Aku menggeleng. Arsha terlihat lega dan... oh Tuhan, dia memelukku.
“Astaga, kupikir aku nggak bisa nangkap kamu tadi...”. Ucapnya lirih.
Aku tidak percaya dengan apa yang aku rasakan sekarang. Sosok yang selalu aku fikirkan saat aku membuka mata. Sosok yang bahkan aku tidak membayangkan bisa memeluknya... kini sekarang memelukku dengan erat.
Hujan yang selalu aku sukai kini memjadi ku benci, hujan berjatuhan menusuki tubuhku... ah, itu tidak masalah, tapi dia... dia lah yang aku hawatirkan. Hujan menjatuhinya tanpa ampun. Tiap tetesnya mendapat makian dariku. Tapi hujan semakin deras, deras, dan makin deras.
Dia masih memelukku di tengah kebekuan ini. Berkali kali dia meeratkan pelukannya yang entah kenapa aku rasa semakin menyakitkanku. Peluk yang selalu aku harapkan, kenapa malah semenyedihkan ini.....?
To be continued...

Minggu, 22 Maret 2015

Blog Minggu XI

Seperti yang sudah saya janjikan saya akan melanjutkan kisah kemarin. Dan saya juga tau kalau anda – anda tidak menantikan bacaan saya. Sebelum melanjutkan itu saya ingin membahas masalah arti kepercayaan. Bagi saya kepercayaan itu seperti membuat bayi tanpa seorang ayah (Nah? Gimana tuh?) sesulit itukah? Memang sulit saya rasa dan jujur saya ini bukan (lagi) orang yang mudah percaya dengan orang. Tapi dulu saya ini terlalu polos *nggak cocok mbak! Nggak cocok!!* sehingga saya terlalu mudah percaya dengan orang yang terkadang menyalah gunakan kepercayaan saya (ciee tersakiti cieee).
Saya pernah dulu punya pacar (udah jadi mantan kok), saya kira hubungan kami bakalan baik – baik ajah, tapi!! Tenyata saya ini bukan pacar dia tapi jadi selingkuhan (T^T). Saya jadi kurang percaya cowo saat itu tapi masih aja sih ngeyel pacaran juga. Tapi ya gitu lah.. nggak ada yang tuntas karena kurangnya kepercayaan entah dari dia atau dari saya sendiri. Lalu saat SMA malah temen saya yang ngehianatin saya, dua orang malah temen saya yang kayak gitu sama saya. Saya ini kayaknya memang golongan orang teraiaya kali ya... buktinya saya sering di bully oleh teman – teman saya (T^T). Oke lupakan hal itu, sekarang kita balik lagi nyambung cerita bersambung yang sekarang ingin saya sambung.
Saat saya mengetik ini sebenarnya saya menyadari kalau dari awal ngetik kok saya nggak nyambung ya? Lupakan lah, ayo mah sok atuh di baca ya. Cekidot.
Kakak - Adik Masa Gitu?
Part II

(Ngeliat dikit cerpen minggu lalu)
“Ini Pak Direktur”. Ucap Kayla dengan senyum. Gandi langsung menarik Kayla kedekatnya.
“Sekertaris begini enaknya di apain ya??”. Tanya Gandi sambil menggoda Kayla.
“Ngga boleh macem – macem, nanti bukannya jadi Direktur malah jadi OB”. Gandi langsung mencubit pipi Kayla. Nah adegannya kan begitu tuh, keliatan kayak Gandi mau nyium Kayla padahal nggak. Dan masuklah seorang pemuda berusia 20an kedalam ruang Direktur. Otomatis Kayla langsung mendorong Gandi.
“Sakit kali Kay!”. Kata Gandi. Kayla nggak jawab karena Gandi sadar sendiri dengan kehadiran orang di ruangan itu.
“Halo Gan, lama nggak ketemu ya”. Kata orang itu dan... ruangan itu tiba – tiba hening dan penuh kekakuan. Gandi berdiri dari kursinya dan memecah keheningan.
“Halo apaan? Kita baru ketemu kemarin”. Jawab Gandi dengan wajah flat. Lelaki itu cuma tersenyum sinis dan langsung menatap Kayla dari atas sampai bawah tapi terhenti karena langsung di halangi Gandi.
“Ngapain liat – liat?”. Kata Gandi.
“Cuma liat aja, lumayan juga mainan loe kali ini. Anak SMA ya?”. Katanya dengan nada yang benar – benar menjengkelkan.
“To the point aja, ngapain lo kesini? Bahas yang kemarin?”. Kata Gandi yang sepertinya ingin cepat mengakhiri pertemuan dengan orang ini.
“Emang loe ya, nggak bisa di ajak basa – basi. Kenalin dulu dong gue sama cewek lo”. Kata orang itu masih dengan wajah yang mengesalkan.
“Dia Kayla”. Jawab Gandi singkat.
“Hai Kayla, nama gue Seno”. Kata Seno sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tapi Kayla berfikiran jahil, dia membiarkan Seno sekitar sepuluk detik tanpa sambutan tangan darinya. Akhirnya Kayla menyambut tangan Seno dengan ramah.
“Hai Seno”. Kata Kayla ramah. Seno membalas dengan senyum lega, awalnya dia takut mati kutu gara – gara tadi. Tapi sejahil – jahilnya Kayla masih ada yang lebih jail.
“Udah kan? nah loe pergi deh sekarang”. Kata Gandi melepaskan salaman mereka. Seno mendengus kesal dan langsung memberikan map ke Gandi.
“Itu rencana kerja yang kemarin gue bahas sama loe dan bokap loe. Gue harap loe setuju dengan terder –nya. Minimal loe baca dulu deh biar gue besok atau pas loe hubungin gue, gue langsung datangin loe”. Kata Seno dengan wajah serius. Jiwa propesianalnya kayaknya lagi keluar.
“Ni gue bawa dulu biar gue omongin sama bokap gue dulu. Kalo udah fix baru gue hubungin loe, paling lama besok gue kabarin”. Kata Gandi sambil mengambil map dari tangan Seno.
“Oke, kalo gitu gue cabut dulu. Bye Gan, sampai ketemu lagi Kayla”. Katanya sambil mengejek Gandi. Gandi cuma bisa jengkel dengan kelakuan Seno.
“Siapa itu Gan?”. Tanya Kayla dengan wajah polos.
“Dia sepupu aku, anak sepupunya Bapak. Di usianya yang masih 21 tahun dia udah megang perusahaan dan sekarang dia lagi bikin cabang di daerah pusat kota. Walaupun ngeselin dia itu emang ngebetein sih”. Kata Gandi di iringi tawa dari Kayla.
“Kok ketawa?”. Tanya Gandi bingung.
“Kalian akrab banget ya, kenapa nggak manggil Kak Seno gitu?”. Kata Kayla yang diikuti ekspresi jijik dari Gandi.
“Amit – amit aku akrab sama orang kaya gitu Kay~ masa mahluk begitu di panggil Kaka sih? Nggak cocok!”. Kata Gandi. Kayla cuma ketawa lagi dengan sikap Gandi yang anti-Seno itu.
Sore sudah tiba, Kayla di antar pulang. Pak Agung sudah dengan gagahnya berdiri di depan pintu. Kayla namarin Gandi masuk, dan akhirnya yang ngobrol sampai malam itu malah Pak Agung dan Gandi. Kayla dan Bu Suci sedang masak makan malam.
“Bunda”.Panggil Kayla pada Bu Suci.
“Kenapa sayang?”. Jawab Bu Suci.
“Kok Kayla nggak punya kakak atau adik sih, Bun?”. Tanya Kayla yang bikin Bundanya stop ngeiris bawang. Bu Suci cuma senyum dan jawab.
“Nanti Bunda cerita ya”. Kata Bu Suci dengan lembut. Malam itu ruang makan terdengar ramai karena ada nambah 1 personil yaitu Gandi. Sekitar pukul 8 lewat Gandi pulang dan rumah kembali kayak biasa lagi. Ruang keluarga di isi oleh Kayla dan kedua orang tuanya.
“Ayah, Bunda. Kenapa Kayla nggak punya Kakak atau Adik?”. Kata Kayla dengan polosnya.
“Itu karena Bunda ini lemah kandungan”. Kata Ayah dengan santai sambil makan biskuit coklat.
“Itu bener Bunda?”. Tanya Kayla.
“Iya, dulu Bunda itu susah sekali punya anak, 2 tahun nikah baru punya kamu itu juga dengan usaha keras karena Bunda keguguran terus. Akhirnya Lahirlah kamu dan setelah kamu lahir, dokter bilang Bunda nggak mungkin punya anak lagi”. Kata Bunda sambil narik kotak biskuit dari tangan Ayah.
“Gitu ya Bunda?”. Kata Kayla sambil ikut – ikutan ngambil biskuit.
“Iya, makanya Bunda sama Ayah bersyukur banget punya kamu. Kamu itu adalah keajaiban buat Bunda dan Ayah”. Kata Ayah yang masih keukeh mempertahankan biskuit coklatnya. Mendengar itu Kayla langsung memeluk Ayah dan Bundanya. Malam itu keluarga Agung Bramaditya menjadi penuh dengan biskut coklat di mulut masing – masing. Tenyata Pak Agung punya banyak simpanan itu di sebuah tempat tidak lazim yaitu di ruang kerja beliau yang mirip dengan gudang penyimpanan biskuit coklat dari pada tempat kerja.
Paginya, di gerbang depan sekolah terjadi peristiwa sejarah yang memang itu yang terjadi setiap harinya ampe penjaga gerbang bosen liatnya. Yang berulah itu tidak lain tidak bukan adalah Cindy dan Kakaknya Donny. Entah apa yang mereka ributkan kali ini tapi yang terdengar adalah ini:
“Kan itu salah eloo!”. Kata Cindy.
“Ya gue kan nggak tauuu!! Lepasin guee, gue mau absen pagiii!! Nanti gue di hukum komandan gimanaaaa???”. Kata Kak Donny yang sudah dengan seragam polisi lengkap saat itu. Cindy masih saja menarik pipi Kakaknya yang lumayan cubby.
“Ganti kagak!! Kalo nggak mau ganti gue tahan loe di sini ampe gue pulang sekolaaahhhh!!!”. Kata Cindy dengan murkanya.
“Iyee iyeeee gue ganti!!! Tunggu gue gajian ya”.
“Kelamaaannnnn!!!! Ganti pokoknya gantiii!!!!”.
“Iya gue ganti iya! Suer janji dah”.
“Awas ya, yaudah loe pergi deh ntar telat”. Kata Cindy sambil melepatkan cubitannya.
“Yang bikin gue telat itu siapaaa??? Yok gue cabut”. Mbruuumm suara motor melaju. Kayla dan Bakri cuma bisa tercengang melihat tingkah dua bersaudara di depan mereka.
“Ngapain lo bedua di sini? Mau jadi patung selamat datang?”. Kata Zibran yang baru nongol.
“Oh ada adegan gulat gratisan ya tadi? Rugi gue kesiangan”. Kata Zibran sambil menyilangkan tangannya.
“Loe pada nggak ada niat masuk kelas?”. Kata Cindy yang menghampiri. Mereka berembat pun berjalan bergerombol di selasar kelas.
“Ngeri amat loe ama kakak loe Cin? Emang ada apaan?”. Kata Bakri yang udah penasaran.
“Masa MP4 gue di jatuhin dia di jalan dan dia ga tau jatuh di mana, ngeselin nggak tuh?”. Kata Cindy penuh dengan amarah.
“Yaelah Cin, kirain apaan. Lagian loe kok masih aja pake MP4?”. Kata Zibran sambil mengeluarkan nada sombong sambil mengeluarkan hp merk ternama dari kantongnya.
“Itu benda kesayangan tauu!!”. Cindy sudah mau menerkam Zibran tapi di tahan Kayla.
“Udah ah! Gitu aja kok ribut sih. Loe juga berantem mulu ama Kak Donny orang jangan gitu. Gue pengen banget punya kakak malahan”. Kata Kayla.
“Kalo bisa loe ambil Kak Donny loe ambil ajah, gue nggak mau punya kakak macam begitu”. Kata Cindy.
“Hush!! Nggak boleh ngomong begitu. Itu HARAM”. Kata Bakri dengan wajah yang imut. Kayla dan Cindy bukannya ngeh gara – gara dinasihatin malah menyerbu Bakri karna gemes. Zibran cuma bisa tepok jidat ngeliat tingkah 2 temen ceweknya ini.
(Saat pulang sekolah)
“Kak Donny kok lama banget yaaa????”. Kata Cindy sambil meremas botol minuman yang udah keberapa itu.
Kayla, Gandi, Bakri dan Zibran yang ikut nungguin karena nggak tega ninggalin Cindy sendirian. Gandi melihat ke arlogi-nya yang udah nunjukin pukul 3 sore.
“Emang Kakak loe nggak punya istirahat siang apa? Atau ada ngabarin lagi gitu?”. Kata Gandi yang juga udah kehabisan minumannya.
“Dari tadi siang nggak bisa dihubungin. Aktif sih tapi nggak bisa di angkat”. Kata Cindy dengan muka super bete.
“Loe ikut gue aja, atau loe ikut Bakri? Bakri! Loe kok nggak nawarin sih?”. Kata Zibran yang juga kehabisan minuman.
“Gue nih tiap hari ngajakin dia pulang bareng! Dianya aja yang nggak mau!”. Kata Bakri yang baru saja meminum tetesan terakhir dari minumannya.
“Ya Allah ! kok pada ribut sih? Kita tungguin aja dulu siapa tau Kak Donny emang lagi telat aja jemputnya”.
“Dasar Kak Donny ngeselin! Nah, ni orang yang di cari malah nelpon”. Kata Cindy dan mulai mengangkat hpnya.
“Halo Kak Donny, Kakak dimana sih kok belum jemput?”. Kata Cindy dengan tampang kesal dengan yang diseberang. Tapi sedetik kemudian wajah Cindy berubah drastis, wajahnya jadi pucat dan hampir jatuhin hpnya tapi langsung di tangkap Gandi.
“Cin, Cindy! Loe kenapa?”. Tanya Kayla hawatir.
“Halo”. Kata Gandi menyambung obrolan di telepon. Raut muka Gandi juga mengeras dan saat telepon itu mati Gandi langsung menatap serius keempat orang dihadapannya.
“Kita ke Rumah Sakit sekarang. Donny kecelakaan”. Kata Gandi. Semua langsung pergi ke Rumah Sakit itu dan di sepanjang jalan Cindy menangis dengan keras. Dia dari pagi memaki kakaknya dan dia merasa sangat bersalah.
Sesampainya di RS tepatnya di UGD, suster mengatakan kalau pasien bernama Gandi berbaring di ranjang ujung kanan dan 5 orang itu langsung menuju kesana. Kak Donny penuh dengan perban macam mummi apa lagi di bagian muka.
“Kak Donny... Maafin Cindy Kak... Cindy tadi pagi kasar sama kakak. Kak, maafin Cindy kak maafin Cindy...”. Cindy meraung keras dan Kayla juga ikut menangis. Gandi, Bakri dan Zibran cuma bisa menatap lesu melihat pemandangan ini. Tiba – tiba...
“Siapa Cin? Pake loe peluk – peluk segala. Kenal ya?”. Kata sosok yang baru saja menyikap tirai. 5 orang tadi kaget dan akhirnya langsung menoyor Donny yang kayaknya lukanya nggak parah – parah amat, luka jahitan di tangan dan perban di kaki dan juga benjol di kepala.
“Loe kenapa jadi gini Kak? Kakak kan polisi kok malah kecelakaan sih?!”. Kata Cindy sambil memukul – mukul kakaknya.
“Tadi waktu habis dari toko di pinggir jalan, eh ada yang kecelakaan. Niatnya mau nyamperin taunya di tabrak sama orang dari belakang. Untung cuma begini, yang nabrak lebih parah lo. Itu yang loe peluk tadi.”. Kata Kak Donny kayak nggak habis kecelakaan aja.
“Beli apaan sih! Coba jangan kebiasaan mampir – mampir gitu!!”. Kata Cindy masih marah.
“Beliin ini nih!! Jangan ngambek lagi ya”. Sebuah Ipod Nano merek ternama sekarang berada di tangan Cindy. Cindy akhirnya malah nangis sejadi – jadinya karena terharu. Kayla juga nangis.
“Kenapa Kay? Terharu?”. Tanya Gandi.
“Nggak, aku iri. Coba aja aku punya Kakak pasti aku bisa rasain apa yang Cindy rasain”. Jawab Kayla.
“Ehem! Emang aku ini kamu anggap apa hah?”. Kata Gandi.
“Kamu kan beda”.
“Beda apanya? Aku juga sering ngelakuin hal yang sama kayak Donny lakuin”.
“Kamu itu Pangeran aku”. Kata Kayla dengan wajah merah dan Gandi merangkul Kayla. Bakri dan Zibran cuma bisa muntah – muntah liat kejadian di depan mata mereka ini.

Oke! Sekian dari saya. Sampai ketemu minggu depan!

Minggu, 15 Maret 2015

Blog Minggu X

Tak terasa pipi kembali kebanjiran air dari mata saya... aduh saya ini memang sensitif sekali ya :D. Nggak bisa nonton yang sedih atau ngeliat sesuatu yang menggetarkan hati, bawaannya selalu pengen nangis (T3T). Iya saya ini memang orangnya perasa dan rapuh *Petir menyambar tanda tak terima*. Tadinya saya cuma iseng – iseng buka laptop, terus ada folder Cartoon, saya buka aja dan ada film yang nggak pernah saya tonton yaitu Big Hero 6. Awalnya saya ngira ini udah sekuel ke 6 nya getoh jadi agak malas nontonnya. Ternyata pas buka, widiiihhh!! 10 menit pertama saya terkagum – kagum dengan ilmu sains dan iptek yang mereka pertontonkan, lalu 20 menit kemudian saya di buat nangis senangis nangisnya, peristiwa di dalamnya mengingatkan saya dengan kakak saya (T^T) *Nah kan jadi flasback*.
Ngomong – ngomong masalah kakak, saya ini adalah anak bungsu dari 3 bersaudara sekaligus juga anak perempuan satu – satunya. Tau dong pastinya gimana sayangnya Abah ke saya yang anak gadisnya ini. Kak Bayu dan Kak Rangga adalah nama kakak saya. Sifat mereka sangat bertolak bertolak belakang. Kak Bayu itu orangnya hetang! Atau secara translate harfianya dia adalah orangnya kalo udah ngomong A dia nggak mau ada yang protes! Padahal argumen yang dia berikan itu jujur saja nyeleneh!! Dan juga IP-nya itu lo, mentok di angka bebek :D tapi lulus kemaren ngepres 3 :D. Tapi dia suka becanda dan nggak tegaan sama orang meskipun saya rasa itu fitnah. Kak Rangga lain lagi.. dia orangnya mirip Abah, tapi bedanya dia ini nggak sabaran. Meskipun begindang Kak Rangga itu tergolong pinter, nggak pernah lepas dari 3 besar dari SD – SMA (alumni SMK 1 Palangkaraya lo!). Belum lagi nilai kakak saya yang di atas rata – rata lah. Otomotif memang sudah menjadi jiwanya. Kak Rangga adalah orang paling keras yang pernah saya temuin. Kakak saya itu kuliah sambil kerja, udah nikah dan udah punya anak 2 juga. Skripsi juga hampir selesai dan akan melanjutkan S2 di Malang buat Teknik Mesin. Tapi waktu berkata lain, meskipun kami menyayanginya, tapi Tuhan lebih menyayangi Kak Rangga. Tanggal 29 November 2011, senja menjadi saksi bisu kepergiannya.
Udah ah, kagak mau melow!!. Saya sudah mencoba mengurung diri di kamar dan tidak menonton film India di tengah rumah. Nanti kalo banjir mendadak kan kagak lucu tuh!. Oke oke kembali lagi sama film tadi. Big Hero 6 itu film yang melibatkan orang – orang pintar. Mereka ngambil setting di San Fransisco Institute of Tecnology yang katanya tempat para kutu buku yang menurut saya adalah tempat terkeren yang pernah ada (Saya juga kutu buku juga sih masalahnya). Saya yang lumayan suka baca buku ini memandang pemikiran mereka itu genius!! Aduh saya jadi terlihat bukan apa – apa di dunia ini :’( . Orang kreatif itu memang keren deh pokoknya. Saya paling suka sama Tadahashi yang kakaknya Hiro. Sifat kakaknya itu lo... dia yang membuat adiknya sadar untuk “melihat dari sudut yang berbeda”. Sangat awosome lah pokoknya.
Nah sekarang saya ingin bahas masalah adik – kakak!!. Aduh aduh jangan kesinggung ya yang anak tunggal kaya Ghia. Marilah sok atuh kita liat. Cekidot!.
Kakak - Adik Masa Gitu?
Hari ini kayaknya super duper puanass!!! Sampe kucing di dekat kantin juga tepar saking panasnya. Matahari menjunjung tinggi di langit buat mata keliyepan (kebanyakan ngetik panas, saya juga ikutan panas). Ngeliat kesekeliling juga nggak ada yang berani lewat di tengah lapangan takut jadi ikan asin mendadak kan kagak lucu tuh?. Menengok ke dalam kelas, sedang ada pemandagan tidak mengenakkan, Kayla sedang neplok di dinding kelas kaya cicak. Bakri yang melihat pemandangan itu jadi speecless dan cuma bisa tepok jidat ngeliat kelakuan tu anak.
“Woy cicak jadi – jadian! ngapain loe nempel di situ?”. Zibran yang tiba – tiba muncul entah dari mana langsung menggetok kepala Kayla.
“Panas tauu!!! Ini kan di bawah AC~~ dingiinnn”. Ucap Kayla yang masih belom beranjak dari posisinya.
“Ikutan dong!”. Bakri langsung ambil tempat di sebelah Kayla dengan posisi duduk di lantai. Ternyata bener emang sejuk. Zibran yang juga kepanasan akhirnya juga ikut – ikutan tapi sambil narik Kayla biar ubah posisis jadi kayak Bakri. Jadilah 3 orang bego yang duduk lesehan di belakang kelas cuma demi ngejar AC.
Cindy dengan para ladies lainnya baru datang dari kantin dengan minuman – minuman dingin. Pas Cindy nengok ke belakang kelas dia kaget karena teman – temannya pada nongkrong disitu. Cindy mendekat ke 3 orang yang cuma cengengesan waktu Cindy datang.
“Eh, Mamah dateng! Mah, minuman Bakri mana Mah?”. Kata Bakri dengan muka melas.
“Iya Bunda, minuman Kayla juga manaaa?”. Tambah Kayla juga.
“Zibran juga Nek...”. Tambah Zibran yang juga di tambah jitakan dari Cindy. Cindy mengeluarkan isi kantong plastik yang dia bawa. Akhirnya 3 orang bego tadi langsung minum dengan gembiranya.
“Loe loe pada kagak malu apa diliatin satu sekolah. Secara ni yaa, Bakri, loe kan anak paling kaya di sekolah, Kayla cewe yang paling tenar dan Zibran juga atlit basket sekaligus anak olimpiade sains. Nggak pada jaga image nih”. Ucap salah seorang anak perempuan entah siapa yang langsung kabur dari kelas.
“Untung gue cuek sama kelakuan loe pada”. Kata Cindy sambil menyeruput minuman supermanis punyanya.
“Santai aja lagi kita – kita juga nggak pada dengerin”. Kata Bakri sambil minum kopinya.
“Lagian tenar itu bukan mau gue, udah bawaan orok aja gue kayak gini”. Kata Zibran dengan muka bangga sambil mencari lagi Susu dalam kemasan lain di dalam kantong plastik.
“Emang tadi ada yang ngomong apaan?”. Ucap Kayla sambil minum minuman super asemnya. Cindy, Bakri, dan Zibran cuma tepok jidat dengan kecuekan si Kayla ini.
Bisa diliat kok dari beberapa banyak orang yang sudah deketin dia tapi nggak dia gubris karena terkadang emang nggak peka dan bahkan nggak tau kalo lagi di deketin. Yang paling berhasil cuma Gandi yang emang orangnya terus terang sekali pake banget!.
Tidak lama setelah adegan tepok jidat itu, bel pulang berbunyi. Zibran dan Bakri menuju parkiran yang tentunya beda parkiran. Bakri keparkiran mobil dan Zibran keparkiran motor. Kayla dan Cindy menunggu di dekat gerbang. Bakri mengelakson saat melewati teman – temannya dan langsung pulang. Zibran parkir di dekat Kayla dan Cindy.
“Loe siapa yang jemput Cin?”. Tanya Zibran sambil melepas helmnya dan mengibaskan rambutnya yang bikin cewe – cewe melting. Tanpa terkecuali Cindy yang udah bengong duluan karena terpesona sama temennya sendiri. Kayla mah jangan di tanya, dia cuma menatap kosong ke arah Zibran.
“Cindy! Loe pulang bareng siapaaa??”. Tanya Zibran lagi.
“Eh? Gue sama Kak Donny. Dia katanya udah di jalan”. Kata Cindy.
“Kalo elo Kay?”. Tanya Zibran sekali lagi.
“Gandi yang jemput, tapi dia bilang tunggu bentar. Ga tau deh kemana dia”. Muka Kayla kembali datar tapi langsung di jitak Zibran.
“Jangan bete dong, kali aja dia emang ada perlu”. Kata Zibran. Sejak kejadian kemarin (Baca blog minggu 8) mereka jadi rada akrab gitu.
“Nggak bete kok, gue cuma kepanasan~~”. Ucap Kayla dengan muka lucu. Zibran malah ketawa dan akhirnya memutuskan untuk menunggu sampai dua temannya ini di jemput.
Tidak sampai setengah jam, mobil hitam metalik muncul di pintu gerbang bersama dengan pengemudinya yang saat itu menggunakan pakaian formal tapi masih bergaya anak muda. Rambutnya yang kayaknya baru di rapikan buat dia jadi kayak anak SMA habis dari pesta mana gitu.
Kayla langsung berdiri dan mendekati Gandi yang sudah pasang wajah tersenyum cerah. Terdengar Gandi meminta maaf karena telat tapi Kayla nggak marah dan cuma minta antar ketempat makan eskrim aja. Gandi nurut aja dari pada melihat kiamat di depan mata. Akhirnya setelah pamitan sama Cindy dan Zibran, Kayla dan Gandi langsung masuk mobil.
“Kapan sih gue punya pacar kaya gituuu??”. Ucap Cindy dengan menghela nafas.
“Rezeki orang kan beda – beda. Kakak loe mana nih??”. Nggak sampe 5 detik waktu si Zibran ngomong, Donny udah muncul dengan membawa motor sampai kedekat Cindy.
“Ini gue udah nyampe~ tadi di telpon sama Katty Perry dulu makanya lama”. Kata Donny dengan muka selengean padahal sudah bertitel Brigadir.
“Halah! Banyak alasan! Kering tau nungguin”. Kata Cindy.
“Iye iyee.. duluan ya Zib, pegangan Ndi”. Kata Donny sambil melajukan motornya dan Zibran memilih cepat pulang juga.
Balik lagi sama Kayla dan Gandi. Mereka ternyata mampir dulu di butik yang sebelahnya tepat toko eskrim. Kayla di suruh ganti baju karena mau di ajak jalan dulu sama Gandi (Catatan : ini sudah dengan izin resmi dari Pak Agung selaku Ayahanda Kayla). Selesai belanja dan makan eskrim, Kayla dan Gandi langsung masuk ke gedung besar milik Pak Yaris (atas nama Gandi loo).
“Ini ruangan Bapak”. Kata Gandi sambil duduk di kursi Direktur Utama. Kayla tersenyum dan pas sekertaris bawaain minuman langsung di sambut Kayla dan Kayla berlagak jadi sekertaris dadakan.
“Ini Pak Direktur”. Ucap Kayla dengan senyum. Gandi langsung menarik Kayla kedekatnya.
“Sekertaris begini enaknya di apain ya??”. Tanya Gandi sambil menggoda Kayla.
“Ngga boleh macem – macem, nanti bukannya jadi Direktur malah jadi OB”. Gandi langsung mencubit pipi Kayla. Nah adegannya kan begitu tuh, keliatan kayak Gandi mau nyium Kayla padahal nggak. Dan masuklah seorang pemuda berusia 20an kedalam ruang Direktur. Otomatis Kayla langsung mendorong Gandi.
“Sakit kali Kay!”. Kata Gandi. Kayla nggak jawab karena Gandi sadar sendiri dengan kehadiran orang di ruangan itu.

“Halo Gan, lama nggak ketemu ya”. Kata orang itu dan... siapakah orang itu? Cari jawabannya di minggu depaaannn!!.