Kadang saat
melihat langit, saya merasakan kepedihan dari tanah yang tidak bisa
mencapainya. Kepedihan seorang tunarungu akan suara dan kepedihan burung
pungguk pada purnama. Lagi galau maksimum kayaknya makanya gini (T^T).Saya
pernah disayangi, tapi saya menyia – nyiakannya. Dan sekarang saya tau
bagaimana sakitnya menyayangi itu. Huff.. Nafas saya jadi sesak kalo mikirin itu
(T^T). Di tambah lagi nonton Tsunagu... makin nangis lah saya :’( .
Mungkin
menurut anda saya lebay, atau mungkin saya akan di hujat dan di cemooh karena
terlalu perasa. Tapi inilah saya. Saya akan melakukan sesuatu menggunakan
panggilan jiwa bukan hanya sekedar tugas. Saya jarang melakukan sesuatu sampai
tuntas, makanya saya ingin berkonsisten di sini.
Pemikiran
orang berbeda, karena itu saya tidak ingin memaksakan keegoisan saya kecualiiii
kalo hal makanan. Yah saya mengakui saya datar sekali hari ini. Tapi izinkan
saya, membuat cerita yang membuka mata anda masing – masing kalau menyayangi
seseorang itu begitu sulit dan menyedihkan. Jadi kalau ada orang yang begitu
menyayangimu, jangan kamu sia – siakan. Karena saat dia pergi, kamu kehilangan
orang yang sangat ingin menyayangimu.
Kita langsung
mulai aja yah, yup cus.
Karenamu
Aku Bertahan
Seperti anak
ayam yang langsung mengikuti orang yang pertama kali melihatnya, beginilah
keadaanku sekarang. Aku terjebak dalam orbit dengan dia sebagai pusatnya. Dan
aku tidak mungkin lepas darinya. Sosok yang selalu aku fikirkan saat aku
membuka mata. Sosok yang bahkan aku tidak membayangkan bisa memeluknya... kini
sekarang memelukku dengan erat.
Hujan yang
selalu aku sukai kini memjadi ku benci, hujan berjatuhan menusuki tubuhku...
ah, itu tidak masalah, tapi dia... dia lah yang aku hawatirkan. Hujan
menjatuhinya tanpa ampun. Tiap tetesnya mendapat makian dariku. Tapi hujan
semakin deras, deras, dan makin deras.
Dia masih
memelukku di tengah kebekuan ini. Berkali kali dia meeratkan pelukannya yang
entah kenapa aku rasa semakin menyakitkanku. Peluk yang selalu aku harapkan,
kenapa malah semenyedihkan ini.....?
000
Ini hari
dimana aku ditinggalkan. Aku sendirian di sini di ruangan yang ramai tapi
terasa sunyi. aku baru saja kehilangan seseorang yang sangat aku sayangi. Dia
yang tidak memilihku, karena aku yang sangat penuh kekurangan ini. Ruang kelas
baru yang harusnya di isi dengan keceriaan, seperti sebuah kiasan semu bagiku,
terlalu banyak yang aku pikirkan. Kekakuan begitu terasa pada sekelilingku.
Tapi sedetik
kemudian, dia memasuki pintu, pintu yang sepertinya hanya seperti pintu biasa
itu entah kenapa bagiku berubah seperti pintu dari surga yang dimana
malaikatnya yang melewati pintu itu. Dia, dia keluar dari sana. Sosok yang
tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Arsha, itu
namanya. Dia seperti bom penyemangat yang mampu membuat orang nyaman berada di
dekatnya tanpa terkecuali aku. Lalu aku? Aku Anna. Hanya gadis biasa yang yah..
biasalah begitu. Aku seperti hanya partikel kecil yang berkeliaran tanpa
tujuan. Aku bahkan tidak memiliki mimpi. Tapi dia berbeda, dia adalah manusia
yang tidak takut bermimpi, dia mengejar mimpinya itu dengan gigih dan penuh
kerja keras. Dia dengan pemikirannya yang unik menciptakan sebuah sensasi gila
yang bisa membuat semua orang terhipnotis dan mendekat padanya.
Aku yang
hanya perempuan biasa ini entah beruntung atau apa, kini menjadi sahabatnya.
Hampir tidak ada yang kami lewatkan berdua atau beramai – ramai dengan yang
lain. Dia membuatku tidak takut bermimpi, obrolan gila yang kami omongkan
menjadi kegilaan di antara kami.
Suatu hari,
aku yang memang bertubuh lemah ini dan juga memiliki penyakit asma tiba – tiba
tidak bisa berkutik dengan penyakitku. Semua terasa berputar dan gelap.
Diantara sadar dan tidak ada wajah yang sama yang selalu ada untukku di saat
yang sama. Arsha dengan wajah paniknya. Ini tidak bagus , dalam benakku. Aku
tidak boleh sampai jatuh hati padanya.
Tapi Tuhan
berkehendak lain, Arsha yang ku kenal tiba – tiba sedikit berubah. Kebiasaan
dan gerak – geriknya menjadi agak aneh. Aku belum menyangka ini akan menjadi
sebuah energi aktifasi yang merubah hidupku selamanya, sampai dia berkata
padaku.
“Na, aku suka
sama Fira”. Katanya. Aku seperti mendapat serangan jatung sesaat. Nafasku
seperti tertahan tapi aku berusaha menutupinya.
“Benarkah?”.
Tanyaku.
“Iya, aku
sepertinya sudah suka padanya dari dulu, cuma aku yang baru sadar sekarang. Aku
terpesona padanya”. Kata Arsha dengan sangat yakin. Aku cuma tersenyum dan itu
menjadi bahan ejekanku padanya saat itu, untuk menutupi kegilaanku yang takut
kehilangan dia.
Arsha berkali
– kali datang padaku untuk menanyakan hal yang sama.
“Apa yang
harus aku lakukan?”.
“Dia kenapa
begini?”.
“Lalu aku
harus bagaimana?”.
Arghh...
pertanyaan itu seperti semakin berputar – putar dikepalaku dan dengan bodohnya
aku selalu menjawab tiap pertanyaannya dan memberikan dia masukan agar dia bisa
mendekati Fira. Tapi semua yang aku usahakan dengan Arsha hancur di tengah
jalan. Fira sudah memiliki pacar. Arsha merasa sangat terpukul. Tapi dia masih
berusaha dan berusaha sampai pada akhirnnya dia lelah dan berkata padaku.
“Aku sudah
berhenti”. Katanya. Tersirat kelegaan di hatiku. Tapi ini ternyata menjadi awal
aku benar – benar jatuh.
Arsha berubah
total, kini bukan aku yang paling dekat dengannya. Dia memilih mencurahkan
kegundahannya pada yang lain... tanpa dia tau, aku menangis dan menangis saat
aku tau aku bukan lagi jadi tempat dia bersandar.
Kegelapan
mulai menyelimutiku lagi, aku kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua
kalinya. Aku sangat rapuh kala itu... entah sudah berbagai hal aku lakukan
untuk menguatkan diriku sendiri tapi NOL BESAR. Aku tidak bisa melupakan Arsha.
Aku mencari
tau kenapa dia begini. Aku mencari info kemana – mana hingga akhirnya aku tau
jawabannya , Arsha jatuh cinta lagi. Kali ini pada Novi. Dia lumayan akrab
denganku dan itu yang membuat Arsha tidak mau memberi tahuku karena ada yang
berkata padanya kalau aku suka padanya sehingga dia tidak ingin menyakitiku.
Aku kaget bukan main. Aku tidak terima di tinggalkan begini.
Tapi aku
tidak menyerah. Gadis bodoh bernama Anna ini telah menjadi gadis idiot yang
merelakan orang yang sangat dia sayangi dan amat dia butuhkan. Aku membuat
berusaha mendekatkan Novi dan Arsha. Sampai aku tidak tau berapa air mata yang
aku teteskan karena ini. Hingga suatu ketika...
“Anna”.
Panggil Novi padaku.
“Apa Nov?”.
Kataku.
“Aku mau
cerita”.
“Cerita
apa?”.
“Kamu tau
Dimas?”. Aku mengangguk. Dimas adalah teman dekatnya Novi.
“Nah, Dimas
nembak aku kemarin. Aku jawab apa nih?”. Tanya Novi padaku. Aku terdiam. Hal
yang pertama kali aku fikirkan adalah bagaimana dengan Arsha???.
“Fikirin aja
dulu. Kalo menurut kamu baik terima kalau nggak tolak”. Jawabku simpel.
“Tapi aku
sayang sama Dimas”. Katanya. Aku semakin panik, bagaimana dengan Arshaaaa?????.
Percakapan
tadi aku sembunyikan dari Arsha, menurutku Arsha tidak boleh tau, aku tidak
ingin dia tersakiti untuk kedua kalinya.
---
Kenaikan
semester tiba dan libur panjang menanti. Sekolah kami mengadakan perkemahan di
daerah pegunungan sekaligus hutan di kota kami. Kami yang sudah hampir lulus
ini di berikan refresing ditemani dengan guru – guru. Pagi itu masih dengan
mata setengah ngantuk kami harus berangkat ketempat yang di tuju. Aku melihat
kesekeliling bus, Arsha tidak ada, begitu juga Novi. Ternyata mereka menaiki
bus berbeda dan duduk bersama. Dan entah kebetulan atau apa, aku sebangku
dengan Dimas.
“Hai Na”.
Kata Dimas memecah kesunyian di antara kami.
“Apa?”.
Tanyaku cuek. Aku malas mengobrol.
“Kamu
dekatkan dengan Novi dan Arsha? Apa hubungan mereka?”. Tanya Dimas langsung to
the point. Aku sangat kaget dengan pertanyaannya.
“Mereka
dekat”. Jawabku sedikit tertahan.
“Apakah cuma
‘dekat’? terus kenapa Arsha mengejar Novi terus?”. Tanyanya lagi.
“Iya, Arsha
suka Novi dan Novi belum ngasih jawaban ke Arsha”. Jawabku dengan nada kesal.
“Baguslah,
artinya dia bukan sainganku”.
“Lho?
Kenapa?”.
“Soalnya aku
sudah jadian dengan Novi, kami ingin merahasiakannya. Tapi melihat gerak gerik
Arsha aku jadi ingin bilang kesem...”.
“Ku mohon
jangan katakan itu!!”. Kataku sambil menutup mulut Dimas.
“Apapun akan
aku lakukan asal kamu tidak mengatakan itu padanya. Aku mohon... aku tidak
ingin dia sakit lagi aku... mohon... aku tidak tega melihat dia seperti itu...
Novi itu adalah satu – satunya harapannya. Aku mohon jangan hancurkan
harapannya seperti ini... aku mohon...”. Kataku. Tanpa terasa air mataku
menetes. Dimas terdiam lalu mengangguk.
“Terimakasih”.
Kataku dalam lirih.
Sesampainya
di perkemahan. Kelakuan Arsha ternyata semakin menjadi, dia mendekati Novi lagi
dengan gilanya. Dimas sepertinya mulai geram tapi sesekali dia melihatku. Aku
menjadi serba salah.
3 hari
berlalu dan Arsha semakin menjadi – jadi. Dia bersikap amat manis pada Novi.
Hingga acara mendaki gunung. Arsha tiba – tiba mendekatiku.
“Anna”.
Katanya padaku. Saat itu aku melihat Dimas melirik ke arah kami.
“Apa?”.
Kataku lagi, firasatku buruk. Ini hampir sama dengan kejadian tempo hari. Aku
ingin tutup telinga dan tidak mendengarkan tapi aku tidak bisa.
“Aku mau
nembak Novi hari ini, bantu aku ya”. Katanya dengan senyum yang biasanya dia
berikan. Aku ikut tersenyum tapi hatiku menangis. Dimas menatapku lagi,
sepertinya dia mendengar percakapan kami tapi lebih memilih berlalu.
Arsha
mengambil start bersama Novi. Dan pasanganku adalah Panji, teman sekelasku juga
dan yang tepat di belakangku adalah Dimas dan seorang anak perempuan dari kelas
lain. Arsha seperti biasanya bercanda dengan Novi di sepanjang perjalanan. Lah
aku? Panji cuma diam dan sesekali melihata ke arahku tapi tidak punya niat
mengajak ngobrol. Dimas yang sedari tadi di ajak bicara oleh temannya, malah
memilih diam dan menatap Arsha dan Novi dengan tatapan garang.
Di puncak
gunung pertama, tiba – tiba Arsha dan Novi berhenti. Arsha memegang tangan Novi
dengan lembut. Jantungku terasa ingin meledak. Aku terdiam kaku, Panji yang
bingung kerena aku tiba – tiba mematung cuma menatapku heran dan memilih diam
di tempat juga.
“Novi, kita
udah lama temenan...”, kalimat pertama Arsha yang aku dengar. Saat itu sesak
nafasku mendadak kambuh tapi aku tidak berniat mengambil semprotan asmaku di
dalam kantong. Air mata yang sedari tadi ingin aku tahan akhirnya jatuh
perlahan. Hatiku berkata aku harus mendengar kelanjutannya tapi otakku
menyuruhku pergi. Tanpa sadar kakiku melangkah mencoba mendahului Arsha dan
Novi. Aku memasang tudung jaketku agar tidak terlihat kalau aku sedang
menangis. Saat selangkah lagi aku menjauh, Dimas menangkapku. Panji semakin
bingung dia memilih mematung di tempat.
“.... dan
udah lama aku mendam perasaan sama kamu. Aku suka kamu, mau nggak kamu jadi
pacarku?”. Kata Arsha pada Novi. Aku semakin ingin meledak, untuk menahannya
aku menutup mulutku agar tidak mengucapkan apapun. Tapi, tiba – tiba...
“Maafin aku
Na, aku nggak bisa nepatin janji. Arsha udah kelewatan...”, Kata Dimas padaku. Dia
melepaskan tarikan tangannya yang sedari tadi menahanku dan sekarang berdiri di
antara Arsha dan Novi.
“Dengerin ya,
Arsha. Novi itu udah punya pacar yaitu...”. Aku tidak ingin mendengar
kelanjutannya. Akhirnya aku memberanikan diri berteriak.
“STOOOPPPPP!!!”,
teriakku. Aku menatap Dimas dengan air mata tidak terbendung lagi.
“Jangan
lanjutin Dim... aku mohon...”. Kataku.
“Nggak, aku
harus lanjutin ini Na. Sha, pacar Novi itu adalah aku. Jadi jangan deketin dia
lagi. Kalo bukan Anna yang mohon – mohon, udahku hajar kamu dari kemarin –
kemarin”. Kata Dimas dengan tegas.
“Anna... kamu
udah tau dari awal?”. Kata Arsha. Wajah Arsha terlihat sangat kecewa padaku.
Aku menggeleng...
“Aku nggak
mau begini... bukan ini maksudku... aku... aku... maaf”. Tanpa sadar kakiku
berlari menuruni gunung. Aku berlari sekencang – kencangnya. Aku tidak tau
jalanan yang aku lewati ini lurus, berbelok, atau bagaimana, yang aku tau, aku
hanya ingin pergi.
Gerimis
mengiringi lariku. Aku berlari kesana kemari. Sesekali aku mendengar suara
orang memanggil namaku, suara yang aku kenal. Arsha... tapi aku tidak ingin
melihatnya, tidak mau!. Dan “Brukk!!!”. Aku terpeleset kekaki jurang, aku
meluncur, terguling, menabrak ranting dan pepohonan dan juga baru batu kecil.
“AAAAA!!!!!”.
Teriakku sejadi – jadinya. Tapi ada sebuah tangan menggapaiku. Tangan yang
bagiku mustahil aku bisa memegangnya. Tangan Arsha. Dia menarikku dan
memelukku. Hingga akhirnya, kami terhenti di dasar jurang.
Kami bangun
dengan posisi duduk. Aku masih bisa merasakan kegilaan saat jatuh tadi, seluruh
tubuhku sakit. Aku melihat Arsha yang juga sepertinya masih pening karena
kejadian tadi.
“Na! Kamu
nggak papa kan? ada yang luka? Yang mana yang sakit?”. Arsha menatapku dan
memegang kedua pipiku. Aku menggeleng. Arsha terlihat lega dan... oh Tuhan, dia
memelukku.
“Astaga, kupikir
aku nggak bisa nangkap kamu tadi...”. Ucapnya lirih.
Aku tidak
percaya dengan apa yang aku rasakan sekarang. Sosok yang selalu aku fikirkan
saat aku membuka mata. Sosok yang bahkan aku tidak membayangkan bisa
memeluknya... kini sekarang memelukku dengan erat.
Hujan yang
selalu aku sukai kini memjadi ku benci, hujan berjatuhan menusuki tubuhku...
ah, itu tidak masalah, tapi dia... dia lah yang aku hawatirkan. Hujan
menjatuhinya tanpa ampun. Tiap tetesnya mendapat makian dariku. Tapi hujan
semakin deras, deras, dan makin deras.
Dia masih
memelukku di tengah kebekuan ini. Berkali kali dia meeratkan pelukannya yang
entah kenapa aku rasa semakin menyakitkanku. Peluk yang selalu aku harapkan,
kenapa malah semenyedihkan ini.....?
To
be continued...