Karenamu Aku
Bertahan
(Part III)
Hari ke 1
(Arsha)
Tanpa aku
sadari, kakiku bergerak perlahan mencoba berdiri dari kursi roda ini. Aku
melihat ke balik kaca bening ini. Dia berbaring di sana, kaki sebelah kirinya
memakai gips, alat bantu pernafasan, dan beberapa selang berada di mulutnya dan
satu lagi terpasang di perutnya yang mengeluarkan warna darah bercampur warna
lainnya, belum lagi infus yang terpasang di tangannya membuat seluruh tubuhku
terasa nyilu.
Bego Sha!! Begooo!! Kemarin kamu luka kecil aja
sampai pingsan segala dan dia?? Dia berpuluh – puluh kali lipat lebih parah
tapi dia sama sekali nggak mau nunjukin sakitnya ke kamu. Arsha bego!. Tanganku repleks menampar lemah kaca
di depanku. Kepalaku dipenuhi dengan kehawatiran luar biasa. Anna.. aku... aku... argghh!!!.
000
“Minggir!
Minggir!!.”
“Bagaimana
keadaannya?.”
“Pasien
kembali mengalami pendarahan internal, dan kami kekurangan darah golongan
pasien.”
“Hubungi PMI,
bilang ini keadaan gawat!”.
Para pasukan
berbaju putih bergalut di ruang ICU, ini sama kalutnya seperti perasaan Pak
Danu, Bu Marwah dan yang lainnya. Kerabat dan teman – teman Anna berwajah cemas
di ruang tunggu. Arsha? Dia mematung di sudut ruangan. Ya, Anna kritis.
Semuanya menjadi tegang.
“Ada yang
golongan darahnya sama dengan pasien?”. Tanya seorang perawat laki – laki.
“Apa golongan
darahnya?”. Tanya Ryan sambil mendekat ke arah perawat.
“Golongannya..
“. Belum selesai si perawat bicara, Arsha memotong pembicaraannya.
“Golongannya
A, Yan. Kalo kamu dan yang lain ada yang sama, aku mohon, bantu Anna... ” Arsha
menatap Ryan penuh arti. Tapi apa pandangan Ryan? Dia menatap Arsha seperti
orang paling kusut di dunia. Baju kaos oblong, celana kain melar, wajah dengan
3 plester luka, tangan bekas infus, kaki kirinya di perban dengan kain di
tambah jahitan di balik bajunya meskipun tidak terlihat. Yang mendingan cuma
wajahnya yang ganteng.
“Jangan natap
aku kayak pengen ngajakin homoan dong! Aku bantu pasti.” Ryan menepuk bahu
Arsha. Arsha tersenyum kecil tapi dia kembali duduk di dekat ruang ICU.
Tidak lama
kemudian sepasang suami istri dengan anak laki – laki berusia sekitar 7 tahun
memasuki pintu rumah sakit dan menuju ICU. Ibu berjilbab itu menatap Arsha dan
langsung memeluk Arsha.
“Kamu nggak
papa Sha?”. Ibu Ani melihat anaknya dengan pandangan hawatir.
“Ngga papa
Mah. Yang parah itu teman Arsha... Dia sekarang ada di ICU”. Arsha menatap lagi
ke ruang ICU. Pak Idris menepuk bahu Arsha menandakan Arsha harus kuat. Lalu
Pak Idris memandang pasangan suami istri lain yang tidak lain adalah Ayah dan
Ibu Anna, dan beliau menghampirinya. Sepertinya ada obrolan yang terjadi di
antara Pak Idris dan Pak Danu. Entah apa tapi sepertinya agar Pak Danu kuat.
Selang
beberapa waktu, pasokan darah untuk Anna sudah terpenuhi. Tapi masa kritisnya
belum selesai. Arsha masih terlihat tidak karu – karuan karena dokter belum
bisa menjamin keselamatan Anna. Hiruk pikuk di Rumah Sakit itu begitu terlihat.
Teman – teman Anna silih berganti untuk melihat Anna atau sekedar menanyakan
keadaan Anna. Semua hawatir, semua cemas.
Hari ke 2
Dimas melihat
ke arah Arsha lama. Arsha masih kaku di tempatnya biasa seperti berfikir, entah
apa yang di fikirkannya. Tanpa sadar kaki Dimas melangkah mendekati Arsha dan
duduk di sebelahnya.
“Gimana
Anna?”. Tanya Dimas.
“Masih
kritis, kata dokter otaknya mengalami sedikit trauma, makanya belum sadar”.
Jawab Arsha sambil menghela nafas panjang.
“Udah
makan?”. Tanya Dimas.
“Jangan nanya
gitu Dim, berasa homo tau nggak”. Canda Arsha masih dengan wajah datar.
“Yeee.. aku
serius, kamu perlu tenaga Sha. Dari pada kamu bengong disini, nggak ngapa –
ngapain.” Kata Dimas sambil melihat jam.
“Kamu masih
ingat Kak Gandi nggak?”. Kata Dimas tiba – tiba.
“Masih...
emang kenapa?”.
“Dia katanya
mau balik kesini, dan dia mau ke... nah! Itu dia”.
Terlihat dari
balik pintu kaca itu seorang laki – laki sedang menggandeng seorang perempuan.
Entah kenapa pasangan itu berhasil menghipnotis orang – orang di sekitarnya
dengan keserasian mereka.
“Halo
Brotheerr!!!”. Teriak Dimas yang langsung di tahannya karena baru ingat ini
rumah sakit.
“Halo.. wah,
loe pada nggak berubah ya?”. Kata Gandi. Gandi, Arsha dan Dimas satu klup sepak
bola dari SMP, tapi Gandi balik lagi ke Jakarta ketempat asalnya buat nerusin
kuliah.
“Baru juga
bentar di Jakarta udah pake loe – gue aja, songong.” Canda Dimas.
“Oh iya,
kenalin ini Kayla. Pacar gu.. eh, pacarku”. Gandi nyengir. Kayla menyalami
Dimas kemudian Arsha. Pas liat Arsha dia agak lama memperhatikan.
“Kehilangan
sesuatu?”. Kata Kayla tiba – tiba.
“Eh?”. Arsha
kaget luar biasa.
“Kamu kenapa?
Aku nggak terlalu jelas sama ceritanya”. Kata Gandi lagi.
“Ngobrol
sambil makan yuk! Biar santai, kamu pasti belum makan”. Kata Kayla lagi. Tanpa
jawaban dari Arsha, Arsha langsung di tarik oleh pasangan unik ini dan Arsha
menarik Dimas, Dimas nyuruh Novi ngikutin dia.
000
“Wuaw...”
Kata Gandi setelah mendengar ceritanya. “Pemain FTVnya udah lengkap nih, bikin
sinetron striping ajah. Kayak ‘Putri Yang Di Goyang’ itu. Dapat award pasti kalian.” Canda Gandi.
“Enak aja..”
Jawab Arsha sekenanya karena emang nggak ada tenaga.
“Kamu
masih??”. Kayla menatap Arsha kemudian menatap Novi. Arsha menggeleng lemah.
Melihat itu Dimas dan Novi pamit biar Arsha bisa cerita lebih lebih...
“Sekarang
kamu masih??”. Tanya Gandi.
“Nggak...
nggak tau, yang ada di otakku sekarang cuma Anna..”. Kata Arsha yang lalu
menyeruput teh es manisnya.
“Kalo yang di
hati kamu siapa?”. Kata Kayla. “Maaf ya jadi ikut campur. Tapi aku berasa perlu
lurusin kamu... kamu itu jadi cowo ngambang kaya ee, nggak bisa kena arus dikit
langsung ngikutin”.
“Hush! Ini
tempat makan”. Kata Gandi.
“Biariiinn”.
Sahut Kayla.
“Nggak papa
kok, santai aja”, Arsha menarik nafas panjang dan menyambung kalimatnya. ”Di
satu sisi aku memang sayang sama Anna yang mungkin cuma sebagai sahabat... tapi
aku nggak bisa habis fikir... aku baru ngeliat keindahan dia, baru nyadar apa
yang dia lakuin buat aku, baru nyadar kalau cewe yang paling perfect itu ya Anna... yang masih aja
peduli dengan aku yang sempat berprasangka buruk sama dia dan ninggalin dia..
yang sampai terakhir malah niat manfaatin dia buat dapetin apa yang aku
pengen... dan nyakitin dia yang aku butuhin.. haah... Dia cewe yang rumit”.
Arsha kembali menyeruput teh es manisnya.
“Rumah sakit
ini ada balkon nggak?”. Tanya Gandi tiba – tiba pada pelayan di kantin Rumah
sakit itu.
“Ada mas,
tinggal naik pake tangga besi di samping sana”. Kata Pelayan itu. Setelah bayar
– bayaran, Arsha di tarik lagi ke balkon Rumah Sakit itu. Suasana pagi masih
terasa dan memang mendung. Arsha menatap langit dengan dalam.
“Mendung...”.
Kata Arsha tiba – tiba, memecah keheningan.
“Tau nggak
kenapa aku bawa kesini?”. Kata Gandi sambil berdiri dengan gaya yang sama
dengan Arsha.
“Kamu tau
nggak apa filosofi gedung tinggi?”. Kata Kayla, menambah pertanyaan buat Arsha.
“...
enggak...”. Kata Arsha bingung.
“Nah...
Alasan aku bawa kamu kesini biar kamu nyadar... kamu itu ada di antara langit
dan bumi ini nyayangin kamu. Tanpa kamu minta tanpa kamu tau tanpa kamu
sadar...”. Ucap Gandi sambil melihat Arsha dan sekarang berdiri di hadapan
Arsha.
“Filosifi
gedung tinggi... tempat dimana kamu merasa ini tempat yang paling tinggi buat
nyentuh langit tapi ternyata masih banyak yang lebih tinggi... “. Kayla
sekarang berdiri di samping Gandi.
“Dia sahabat
kamu kan?”. Tanya Gandi lagi.
“Iya..”.
Jawab Arsha.
“Tau nggak
arti sahabat itu? Itu adalah teman yang buat kamu ‘jatuh cinta’ tanpa kamu
sadar”. Kata Kayla. “Kenapa sih kamu ngejar yang nggak pasti? Padahal ada yang
udah standby di samping kamu, jadi
nggak keliatankan?. Kayak gedung tinggi ini, yang terlihat di samping – samping
kamu cuma gedung yang lebih tinggi, padahal yang kamu pijaki ini yang nopang
kamu, masa masih mau nyari gedung lain terus lompat? Iya kalo dapat, kalo jatoh
di tengah jalan gimana??”.
“Sekarang
kamu aja yang lebih jujur sama hati kamu sendiri... siapa yang kamu ingin liat
pas kamu buka mata?”. Kata Gandi penuh arti.
“Ituu...”.
Ucapan Arsha dihentikan hujan. Tapi 3 orang ini malah berdiri menantang
gerimis. Hujan... Seperti awal semua ini terjadi. Dan... Hujanpun turun.
000
Pak Danu dan
Bu Marwah masih duduk di tempat biasanya di depan ruang ICU di temani Bu Ani.
Bu Ani menatap ke 3 orang yang setengah basah mendatangi mereka. Orang itu
tidak lain Arsha, Kayla dan Gandi.
“Permisi
tante.. om.. saya Gandi dan ini Kayla, kami berdua boleh menjenguk Anna om?
Soalnya kami mau pulang”. Kata Gandi santun.
“Silahkan...
bantu doa ya buat Anna”. Kata Pak Danu. Gandi dan Kayla memasuki ruang ICU yang
tercium pekat bau obat dan dinginnya seperti menusuk ke hidung.
“Halo Anna,
kenalin, aku Kayla dan ini Gandi. Cepat sembuh ya Na.. semua orang cemas sama
kamu. Kamu punya keluarga yang harus kamu sayangi... semua di sini keluarga kamu. Kamu harus
kuat”. Kata Kayla sambil memegang tangan Anna yang lemas.
“Na, dengarin
omongan aku ya. Kamu yang punya kendali di sini... Kamu akan bertahan kalau
kamu mau bertahan dan sebaliknya juga... kamu yang punya kendali Na... ini
hidup kamu dan Tuhan selalu berada di sisi orang – orang yang berjuang.” Bisik
Gandi di telinga Anna.
Setelah itu,
pasangan unik itu pergi meninggalkan ruangan. Mereka berpamitan dan memeluk
Arsha dengan kuat. Semakin mereka meninggalkan ruangan, semakin Arsha menatap
mereka.
“Kalian
pasangan gila...”. Gumam Arsha sambil tersenyum simpul. Dia kembali menatap
Anna yang masih tidak bergerak. Nafas Anna yang naik turun dengan lemah, suara
monitor yang terdengar ngeri dengan bunyi “Beeep” dan suara alat pernafasan
yang membantu Anna menjadi pengisi kesunyian di antara rintik hujan.
Arsha kembali
ke kamarnya untuk memeriksa jahitannya yang mulai mengering, kakinya juga mulai
mendingan. Dokter berkata kalau jahitannya mulai kering, Arsha boleh pulang.
Ya.. semua sakit di tubuh Arsha mulai berkurang. Tapi Anna? Arsha cepat – cepat
mengambil wudhu... berdoa dan berdoa.
Hari ke 3
“Dokteerrr!!!
Anak saya dokteerrr!!!”. Raungan Bu Marwah menggelegar di sudut ruangan.
Semuanya yang ada di siang itu jadi panik.
“Suster!
Siapkan alat kejut!”.
“Ya”.
“Kita akan
melakukan RT, lakukan dalam hitunganku, 1, 2, 3..”. Sebuah guncangan hebat
terjadi di tubuh Anna dan membuat dia terambung.
“Sekali lagi,
1, 2, 3...”. Kembali tubuh kecil itu terambung. Darah kembali terlihat mengucur
dari selang yang terpasang di perut kiri bawah Anna.
“Kita
berhasil!”. Ucap suster di dekat monitor.
“Siapkan
tempat operasi, kita hentikan pendarahan internalnya”. Beberapa suster dan
dokter berlarian. Ketegangan masih belum berakhir.
Terlihat
sekali tangan dokter yang berlapir sarung tangan itu bermandikan darah. Pak
Danu memeluk Bu Marwah yang meraung dengan keras. Nampak keluarganya yang lain
juga menangis. Kehilangan memang bukan hal yang pertama buat keluarga Anna.
Kakaknya, Bang Indra meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat selesai solat
Jumat. Semuanya masih terasa baru kemarin dan sekarang, Anna sedang berada di
antara hidup.. dan mati.
Arsha? Jangan
tanyakan dia. Dia masih di tempat dia biasanya dan mematung disana seperti
tidak ada tanda – tanda kehidupan. Beberapa teman yang berada di sampingnya
tidak ada yang dia dengar. Dia hanya menatap lurus ke jendela kecil dari kaca
yang bisa melihat langsung apa yang terjadi di ruang ICU. Arsha sesekali
memejamkan matanya dengan lama dan membukanya perlahan penuh arti. Tidak ada
air mata... tidak ada kesedihan... dia sedang berfikir.
000
(Anna)
Dingin...
semuanya terasa dingin. Sesekali terlihat cahaya, tapi akhirnya tenggelam.
Sesekali aku mendengar suara... tapi kadang jelas, kadang tenggelam, aku
seperti mendengarkan radio jaman dulu yang harus aku putar frekuensinya agar
jelas.
Suara – suara
yang aku dengarkan selalu berbeda meskipun terkadang sama. Suaranya kadang
seperti berteriak, kadang juga lembut dan membisik. Aku terkadang juga merasa
ada yang menggenggam tanganku, menyelimutiku, membelai rambutku, mengelus
kening dan pipiku, tapi yang paling gila aku merasa ada yang membelah perutku
tepat di tempat yang paling sakit dan juga seperti ada yang memasang sesuatu di
kakiku. Semua terasa aneh, aku ingin bergerak, tapi tidak bisa... aku ingin
bangun, tapi tidak bisa.
Entah sudah
berapa lama aku seperti tertidur tapi bangun seperti ini. Aku marasakan ada sesuatu
yang aneh mengalir ke tubuhku tapi membuatku merasa hangat tapi aneh. Tapi
berberapa lama kemudian, aku juga merasakan ada yang mengalir dari perutku, itu
membuatku semakin kedinginan... seperti sekarang.
Aku merasakan
ada cahaya yang datang, tapi kembali hitam, lalu muncul cahaya lagi, lalu
kembali lagi menjadi hitam. Semua sekarang jadi terlihat agak abu – abu. Aku
merasa tubuhku di bawa kesuatu tempat yang lebih pekat dari sebelumnya. Tempat
aneh yang aku merasa sekali lagi perutku di belah.. seperti ada yang di cuci di
perutku. Ada air yang mengalir tapi, tidak basah. Sesekali ada semprotan dingin
yang membuatku ingin menggidik, tapi perutku sekarang seperti di tusuk – tusuk
jarum seperti di jahit. Aku merasakan sensasi sakit sekaligus lega karena sudah
berhenti.
“... erasinya
suda.. selesai dok.”
“Tapi kondisi
pasien masih kritis.”
“Ya, kita
bawa lagi ke ICU.”
Setelah
mengucapkan itu, aku seperti di bawa dengan meja beroda ke tempat lain, tidak,
ini tempat sebelumnya. Aku bisa merasakan bau yang sama pada ruangan ini.
Sekarang terdengar suara pintu di buka dan orang – orang disekitarku mulai
menjauh lalu terdengar suara percakapan lalu di iringi tangis oleh lebih dari
satu orang. Dadaku terasa pedih...
Tuhan...
inikah yang namanya alam kematian? Atau aku masih hidup? Apakah kalau aku
meninggal aku bisa melihat tubuhku seperti di film – film??. Sejak kapan aku
jadi orang yang banyak nanya? Ya.. sejak aku mengenal Arsha... aku harap dia
baik – baik saja.
000
“... kita
hanya bisa berharap pada Tuhan. Semoga Tuhan menyelamatkannya”. Kata Dokter
yang di name tag – nya tertulis Rudy Setiawan. Dia berlalu dan meninggalkan
ruangan tersebut. Kalimat klise yang seperti hanya terdengar di FTV dan
sinetron sekarang terdengar jelas.
“Anna, Yah...
anak kita satu – satunyaa... kenapa Allah ambil anak kita lagi?? Allah nggak
percaya dengan kita Yah? Ayah... Jawab Ibu yah...” Bu Marwah mengguncang badan
suaminya lalu kemudian pingsan. Bukan cuma Bu Marwah yang pingsan, beberapa
tantenya Anna juga pingsan saat datang ke sini. Semuanya terguncang dan kaget.
Langit
seperti ikut kelabu. Awan hitam pertanda hujan mulai terlihat menggumpal.
Keluarga besar Anna beserta teman – temannya melakukan sholat berjamaah dan
juga temannya dari agama lain berdoa di depan ruang ICU. Arsha ikut sholat
berjamaah dan saat sudah selesai dia bergegas dengan baju koko kembali ke
jendela kecil itu, melihat Anna. Pak Danu menepuk bahu Arsha dengan lembut.
“Kenapa Sha?
Cuma kamu yang dari kemarin belum masuk nemuin Anna.” Kata Pak Danu dengan
ramah.
“Takut nggak
kuat Pak...” Kata Arsha dengan suara kecil.
“Laki – laki
pertama yang dia ceritain sama Bapak itu kamu Sha. Dia cerita kehebatan teman
sebelahnya yang juara Sepakbola Antar Pelajar , juara O2SN dan juga pemenang
Olimpiade Sains. Kamu yang percaya diri, kamu yang punya banyak teman... dia
bangga banget punya teman kayak kamu Sha. Dia selalu penuh ekspresi pas
nyeritain kamu, sampai tiap hari Bapak sama Ibu selalu nanyain ‘gimana kamu
sama Arsha?’ hahaha... hah,” tawa Pak Danu terhenti. Beliau mengambil nafas dan
berkata lagi “Dia itu sayang banget sama abangnya, sampai – sampai dia terpukul
sekali waktu Indra meninggal. Bapak kira dia jadi murung terus, ternyata
nggak... kamu bisa bikin dia senyum kayak biasanya.” Kata Pak Danu sambil
melihat Arsha.
“Kalau gitu,
Bapak masuk ya... kamu liatin Ibu bentar.” Arsha mengangguk dan bergeser dari
tempatnya berdiri mempersilahkan Pak Danu. Arsha menyentuh jendela kecil itu.
“Na... cepat
bangun ya.” Arsha pergi menuju mushola, sedangkan Pak Danu sekarang ada di
samping Anna.
10 menit
lebih berlalu, Pak Danu terdiam di samping ranjang Anna. Menatap Putri semata
wayangnya itu dengan lembut. Pak Danu kemudian menarik tangan Anna untuk di
genggamnya.
“Na...
rasanya baru kemarin kamu lahir, sekarang kamu sudah besar. Ayah senang banget
waktu kamu ulang tahun kemarin ngasih kue ke Ayah seperti setiap tahunnya.
Huh... Na, kamu ingat nggak dulu kamu iri habis – habisan ke Abangmu karena dia
sudah punya laptop sendiri tapi kamu masih bareng sama Ayah laptopnya. Ayah
senang, akhirnya kamu bisa iri sama Abang kamu dan Ayah berusaha nabung biar
bisa beli laptop buat kamu. Tapi pas Abangmu meninggal kamu ingatkan pertanyaan
Ayah, kamu pengen laptop kayak apa? Lalu kamu jawab, kamu mau pake laptop
abang, Ayah tanya lagi, kenapa? Itukan udah lama dan nggak bagus lagi, kamu
jawab, karena itu punya Abang... kamu dengan kuatnya nggak nangis waktu itu.
Ayah... Ayah senang kamu lahir di dunia Na, Ayah masih ingat waktu kamu pertama
kali kamu gendong... detak jantung kamu yang kecil, suara tangismu... Ayah..
Ayah... Anna..., kalau kamu udah cape... Ayah nggak bisa maksa kamu.... Ayah
ikhlas Na... Ayah ikhlas apapun yang terjadi sama kamu. Ayah sayang kamu
Anna..” Pak Danu menggenggam erat tangan Anna. Air mata Pak Danu yang selama
ini dia tahan akhirnya keluar. Keheningan di ruang ICU menjadi semakin hening. Suara
monitor dan alat pernafasan bersahutan tanpa henti. Anna.. mulai.. menangis...
to
be continued...

