Tadaaa! Kembali lagi dengan si cantik jelita cetar
membahana yang wajahnya ga jauuuhhhh beda tapi amat sangat beda dari Pevita
Pierce *Tepok jidat!* berhubung
demikian saya mulai memperhatikan tubuh saya yang lumayan semok ini. Liat atas
ampe ke bawah rasanya yaa... kurang menawan tapi menarik :3 . Saya memfokuskan
arah pandangan pada wajah saya. Ternyata wajah saya ini mirip Papah saya
(yaelaah! Emang mirip sape lagii?). Oke serius. Wajah saya ini unique dan rada jarang ada di muka bumi
ini.
Udah ah dari pada ngawur – ngawur ga jelas, saya
menyuguhkan kembali ketikan ketikan saya ini pada anda karena ini termasuk
tugas mingguan saya, dan kini sudah pada Minggu ke 2 \(^o^)/ . bekutat lagi
dengan kebiasaan saya yang mengunakan ketikan 11 jari ini dan saya mulai
menggunakan jari yang lain meskipun sekenanya dan se ala kadarnya dan juga
sealakadarnya (--“).
Ehem, saya ini ehem bukannya sombong ehem, saya
baru aja mendapatkan sesuatu yang hangat dan enak dipeluk, dia lembut dan
ngangenin, dia yang selalu pengertian, dia yang selalu melindungiku dikala
dingin dan terkadang menjadi tempatku bersandar pada dirinya, dia yang tiap
malam tidur bersamaku.... ialah SELIMUT YANG BERMOTIF DORAEMON atau bisa kita
panggil LIMON (seLImut doraeMON). Andaikan saja si Limon itu seekor eh sebuah
lelaki... tapi nggak mau ah, kan beyum muhyim :3 *Dilempar cobek!* .
Tuhkan kebiasaan... malah ngelantur nggak jelas
kaya orangnya aja -_______- . Kembali ke pokok bahasan, tugas ini masih
diberikan oleh guru yang sama yaitu Ayah dari anak – anak Expresso yaitu Pak
Rudy dengan lagu andalan beliau yaitu “Why
you gonna be so rud(y)e? Don’t you know i am human too, why you gonna be so
rud(y)e? I’m gonna marry her anyway!”.
Pada bahasan kemarin ini membasan salah satu
bahasan yang memang sangat menyentuh dan mengena pada saya. Masalah cewe!
Perempuan! Wanita! Yang menurut seluruh umat lelaki di seluruh dunia ini amat
rumit binti ruet. Padahal perempuan itu simpel kok, contoh saja saya yang
sangat teramat sangat simpel (ini sih dari sananya *plak! Tepok jidat pake stopmap plastik* ).
Perempuan itu pada kodratnya memang begitu, entah
kenapa kami lebih menggunakan body
language dari pada bibir language.
Kalau pada sesama jenis, mungkin kami terkadang dan memang seringnya akan
melakukan pembicaraan seperti ini:
Ce 1 : Eh,sis tau ga itu tuh
Ce 2 : Kenapa ama dia?
Ce 1 : Dia begitu begitu
Ce 2 : Ciyus lo? Sumpe? Boong ah!
Ce 1 : enelan! Gua kemaren liat dia ehmmm
Ce 2 : gila banget! Kaya ga ada kerjaan aja
Ce 1 : iya tuh ga ada kerjaan kali
Dari percakapan diatas itu REAL tanpa ada kata
yang dibuang atau pemalsuan ucapan, ya karna cewe dengan gitu adanya dan
begonoh dari sananya. Tapi kalau cewe sama cowo jadinya ga konek, liat deh
buktinya :
Ce 1 : eh,bro tau ga itu tuh
Co : itu? Itu apaan?
Ce 1 : itu lo ituuu
Co : apaan sih itu itu?
Ce 1 : itu lo itu yang ituuuuu
Co : apaaan sih? Ngomong yang jelas coba
Ce 1 : huh!
Co : nah, sekarang loe kenapa?
Ce 1 : nggak papa
Co : eh? Tadi kan elu ngajak ngomong, woy! Woy!
Kok ditinggalin? Woy! Wooooooyyyyyyyy!
(adengan selanjutnya di skip karena ada Silent War yang akan terjadi eh yang
pasti terjadi yang penuh kebisuan dan suasana mencekam melebihi nonton Sinister
di laptop sendirian dalam kamar yang gelap di tengah maam dengan keadaan mati
lampu dan hujan petir membahana yang aslinya ciyuusss).
Haduh dasar cewe... cewe... *mau tepok jidat pake linggis, tapi keder duluan*. Wanita memang
racun dunia, ungkapan si Tria Changcuters memang super duper benar sekali dan
patut dilempari cobek eh di lempar kembang 7 rupa eh di lempar mawar. Saya
sebagai perempuan juga terkadang bingung dengan diri saya sendiri apa
sebenarnya kelamin saya? *bukaaannnn!!!!*
apa sebenarnya diri saya? Apa seikat Power Ranger? Apakah saya seekor
Sailor Moon? Apakah saya seorang kapiten? Siapa saya? Siapa sayaaaaa? *dilempar asbak!*.
Menjadi perempuan itu memang banyak tuntutannya,
selain harus cantik ya setidak terlihat sekilas kalo lumayan cantik tapi juga
harus wangi! Nggak lucu dong muka kaya Pevita Pierce-ituloh artis yang ngakunya
mirip aku-, tapi bau ketek kayak kuli panggul? Terlalu parah saudara...! sangat
amat parah!. Ngomong – ngomong masalah bau ketek, saya punya anti sipasi untuk
masalah itu yaituuuuuuu Deodoran *dikejar
orang sekampung* (Eh bengak! Nenek – nenek lagi makan steak juga tau kalau
obat bau ketek itu deodoraaannnn!!!!). Deodoran itu termasuk dalam berbagai
kebiasaanku di pagi dan sore hari. Dari yang Role on, aerosol, sampai colek –
colek kaya sabun pernah saya coba, meskipun ga dicoba oleh ITB dan IPB saya
tetap mencobanya, yaaa kali aja di kasih Nobel dengan gelar TESTER DEODORAN
TERBAIK yang sangat cetar membahana yang aslinya ga ada.
Tapi dari berbagai uji nonklinis apalagi higienis
yang saya lakukan, saya melakukan percobaan pertama yaitu pada sistem colek –
colek bebek. Harga sih irit ya cuma 3 ribuan gitu tapi yang sakitnya itu Miss
Ketty jadi lebih rimbun dari biasanya. Akhirnya saya menghentikannya dan lebih
memilih ke jenis lain, kan ga lucu kalau pas pake tanktop keluar silia silia
yang penuh getaran yang menggetarkan hati setiap umat.
Uji kedua yaitu pada role on, lumayan sih
harganya, tapi hasilnya tidak ada lagi silia silia bergetar yang membahana itu,
tapi! (lagiii?) si Miss Ketty menjadi agak menggelap. Haduuhhh, salah lagi
salah lagi!!!. Ganti deh gantiiii!.
Uji ke tiga yaitu aerosol yang hasilnya tanpa
silia, tanpa penggelapan Miss Ketty tapiiiiiiiiiiii!!!!!! Aromanya itu looo,
bikin saya yang notabennya memang pemilik penyakit dengan nama ilmiah Syesyak
Nuafuas ini hengap – hengap. Saking gilanya ampe keliengan sendiri! Kok malah
serba salah sih? Kan cuma mau harum doang (T^T).
Ternyata Tuhan tidak tinggal diam, sang pencipnya
menciptakan umatnya yang menciptakan Deodoran Role on tapi dengan PENCERAH.
Lagu Naff terasa mengiang di telinga deh pokoknya “Ak... hir... nya ku menemukanmu, saat hati ini mulai merapuhh...”. Rasa
pengen jingkrak – jingkrak di super market yang lumayan gede ini saking
girangnya :3.
Lepaskan pikiran dari hal hal yang berhubungan
dengan ketek, saya mencoba mengalihkan pembicaraan pada beberapa hal yang
memang signifikan dikalangan cewe dan cowo, APA SIH YANG CEWE BUTUHIN?
Itu sih gambang! Cuma seorang cowo yang mengerti
dia luar dalam atau nggak punya ilmu telepati biar bisa tau body language dari perempuan.
Ngomong
– ngomong masalah itu, dan juga blog saya ini bersambung, saya jadi punya
keinginan membuat cerita bersambung. awalnya saya ingin membuat cerita yang menggambarkan dunia gelap dan terang seperti yang sedang saya pelajari sekarang dengan versi saya. tapi berhubung saya ini tidak bisa serius, saya akhirnya membanting stir ke cerita masalah cewe, tentang mengejar, tentang perjuangan, tentang kesetiaan, tengtang persahabatan yang menggambarkan titik balik dari seorang cewe yang awalnya berada pada kegelepan dan menuju jalan yang terang. Saya memutuskan untuk membuat cerita testing... ini dia :
1.
Hujan
Rabu malam yang begitu basah. Meteor cair berjatuhan dari
langit menghempaskan dirinya di bebatuan. Malam yang begitu mencekam, ketakutan
begitu terasa. Aku seperti tak menginjak bumi, tanganku bergetar hebat. Air
mataku bercucuran bersama dengan hujan.Aku terlalu lepas kontrol sehingga
memeluk tubuh dipangkuanku ini dengan begitu erat, seakan tidak mau melepas
lagi, seakan tidak mau kehilangan lagi.
Tubuhnya mulai mendingin, cairan merah yang keluar dari
tubuhnya begitu banyak mengalir bersama aliran air hujan yang sudah berada di
permukaan tanah. Aku tidak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri… ini semua
salahku ini semua salahku.
“Anna… aku nggak papa… kamu jangan kayak gini… Na…”. Ucapnya
dengan lirih. Aku semakin menangis.
“Nggak… ini salah aku, maafin aku … seharusnya aku nggak kayak
gini, aku yang bego… Aku!”. Aku mendekapnya semakin erat. Dia juga memelukku
dengan lembut.
Dia tetap tenang, seperti biasa dia lakukan. Dia tidak ingin
merepotkan orang lain, seperti biasanya… bahkan pada saat seperti inipun dia
yang menghiburku. Bodohnya aku….
Kami terjebak di jurang yang lumayan dalam, kakiku terkilir
dan dia tertusuk kayu di perutnya. Kami tidak bisa menolong satu sama lain. Kami
cuma bisa menunggu di sini sampai bantuan datang yang entah kapan datangnya.
Aku masih berada dalam kekalutan. Bukan dingin yang membuatku
menggigil hingga bergetar segini hebatnya, bukan rasa sakit dari kakiku yang
membuatku menangis sedemikian pilunya, tapi Dia, karena dia aku begini. Mengawatirkannya
membuat semua rasa sakit ditubuhku menghilang. Tak terasa lagi.
Matanya menatapku lembut, seperti biasanya. Dia mengusap
rambutku, menenangkanku. Tuhan, aku memang selalu kalah kalau bersama dia…
“Kamu kenapa Na? kamu nggak biasanya kayak gini, kalau ada
masalah apa-apa cerita sama aku…. Jangan kayak gini…”. Katanya, mencoba kembali
kepermasalan awal. Aku cuma bisa menggeleng.
“Kamu harus cerita Na!”. Sekarang dia mulai untuk meninggikan
suaranya.
“Ceritanya panjang… aku nggak mungkin cerita sekarang…”.
“Nggak ada kata nggak mungkin Na, setidaknya kamu cerita
sampai regu penolong datang...”. ucapnya di antara ringisan rasa sakitnya. Aku
menggangguk, aku mulai berkata demi kata…
2.
Cerah
Tengah hari yang lumayan panas. Aku duduk di bangku pinggir
lapangan basket sendirian. Seperti biasa. Bukan berarti aku anak yang kuper ya!
Aku cuma suka sendirian aja kalau lagi suntuk.Dunia ini begitu membosankan.
Dikenal banyak orang, bukan berarti kamu punya banyak teman kan? Inikah yang
disebut kehidupan? Terlalu membosankan.
Mungkin omonganku yang sebenarnya dalam hati itu didengar oleh
Tuhan, dan… sesuatu terjadi.Dia datang tanpa diundang.Sebuah lingkaran hitam
terlihat mendekat, dan sekarang lingkaran itu berwarna
kecoklat-coklatan.Teriakan nyaring terdengar dari beberapa sudut, tapi posisiku
yang baru sadar dari lamunan membuat repleksku begitu lambat.
“Buk!!!”.Bola menghantam keras tepat di wajahku.Seketika
pandanganku buyar dan gelap.
000
“Elu sih ngoper nggak becus!”.
“Elu yang nge-shoot nggak
ke kontrol!”.
“Udah woy! Anak orang pingsan elu malah ngeributin masalah
beginian! Kalian ini semuanya salah! Main basket kok pake kaki?”.
“Kalian, kalian, elu juga ikut main, peak!”.
“Lo lo pada kalo mau berantem jangan di UKS! Lapangan belakang
sana!”.
“INI KAN GARA-GARA ELO! BEGO!”.Semuanya koor. Aku yang masih
sakit kepala cuma bengong liat cowok-cowok nggak jelas ini berdebat hal
aneh.Mereka sedang asyik bertoyor-toyor ria, sedangkan aku? Makin sakit kepala
melihat tingkah mereka. Tuhan! Pingsankan aku lagi!.
Mereka mulai berhenti, yang paling tinggi mulai menatapku dan
nyengir. Diikuti oleh teman-temannya yang lain. Yang paling mereka bully, masih terkapar di lantai, lalu
dia mulai bangun menampilkan giginya yang putih dan jujur sisanya nggak.
“Udah sadar,Na?”. Kata Rio, sekarang aku mulai bisa mengingat
siapa saja mereka. Aku balas dengan anggukan.
“Untung idung loe nggak tambah pesek ya”.Seketika sebuah
tamparan menumbangkan Saka.Mati kah dia?
“Ada yang masih sakit?”.Kata… dia siapa ya?Hendra?
Rendra?.“Lupa ya ama gue?Gue temennya Hani”.Hani? Oh temen sekelasku. Temen
Hani? Ah aku ingat!.
“Yang baru diputusin sama Hani itu ya? Andra kan?”.Ucapku
dengan super polos, dan akhirnya buat mereka semua ketawa.
“Kasian loe Ndra, terkenal gara-gara diputusin. Hahaha!”.Ucap
Romi sambil ketawa ngakak.
“Kasian, kasian, kasian. Hahahaaa!!”.Sambung Kobar.
“Udah woy!Loe beneran nggak ada yang sakit lagi?Apa perlu loe
kite-kite anter pulang aja? Rumah loe jauh apa dekat?”. Borong Andra.
“Loe nanya apa lapar? Ngeborong aje! Eh iya, loe nggak papa?”.
Tanya Romi.
“Aku nggak papa kok, tinggal pusing aja sama benjolnya nih
sakit”.Jawabku, yang tiba-tiba membuat semuanya diam. Aku salah ngomong ya?
“Eeee… kamu bisa jalan nggak? Eh, mendingan kamu disini aja
dulu sampai mendingan. Anak PMR mana sih? Eni tadi ada kok nggak keliatan?”.
Kata Andra. Dia seperti memecah keheningan dan mengalihkan perhatian. Keliatan
sih muka-muka mereka bengong + kaget gara-gara dari tadi mereka pake loe-gue
dan aku langsung bales pake aku-kamu. Kebiasaan sih, jadi nggak bisa
ikut-ikutan gaya orang.
“Maafin kami ya, nggak sengaja kena kamu tadi”.Kata Rio dengan
wajah bersalah. Aku memang nggak marah sih..
“Nggak papa kok, aku aja yang kurang repleks”.Jawabku sambil
cengengesan.Mereka ketawa liat tingkahku. Aku tambah cengengesan
Disela-sela pembagian kelas seperti ini -yang belum
kelar-kelar juga-, memang yang datang kesekolah cuma buat main-main doang. Aku
datang kesekolah cuma buat ngurus berbagai pembayaran yang syuper ribet, harus
kesinilah, kesanalah, fotocopy inilah,itulah, bayar sanalah, sinilah, ribet deh
pokoknya. Kalau untuk datangin teman…. Jujur aku nggak ada teman akrab.Kalau
teman ngobrol gitu-gitu aja sih ada, tapi ya itu, nggak akrab.
Kadang aku iri sama segerombolan aneh Saka, Romi, Rio, Kobar
dan Andra ini. Mereka kemana-mana berlima. Romi yang populer karena bertampang
lumayan dan suara bagus, Andra yang populer karena pinter dan banyak temen,
Kobar yang anak basket, Rio yang atlet atletik, Saka yang anak band, gabungan
mereka membuat mereka jadi terkenal dan juga sangat akrab.
Aku? Cuma seorang Anna Maika Putri Surya Purnomo, bukan anak
yang terkenal-banyak sih yang tau namaku,cuma aku aja yang nggak tau nama
mereka- dan memang biasa aja. Aku bukan juga anak yang penyendiri, biasanya aku
muncul di tengah-tengah geng-geng untuk menjadi pelengkap. Tapi itulah aku…
“Nah! Eni datang! Lama amat loe? Kemane aje?”.Tanya Saka
dengan wajah senganya.
“Nyari es batu, mana jalan kaki lagi… Kenapa nggak kalian aja
yang nyari tadi?”.Eni mulai membara.Kecapean kali ya.
“Coba taruh dulu es batunya, nanti mencair lagi gara-gara
keder denger elo marah”.Kata Kobar disambung tawa dari mereka.
“Dasar! Eh, tadi ada yang nyariin elo Na,itu dia”. Eni
menunjuk ke pintu masuk dan seperti ada angin alam yang bikin aku sadar :3.
Saat dia memasuki ruangan, serasa ada AC yang ngikutin dia kemana-mana. Semua
mata kini tertuju pada dia... siapakah dia? siapakah laki-laki yang bersama anna pada Part 1?
Kalau emang penasaran, follow dan mention ke @Hexas_Sarastiwi :3
Makasih untuk yang telah khilaf baca ini.... Saya Hexas si cantik yang mirip Pevita pamit yaa, sampai jumpa minggu depan :3 :*.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar