Minggu, 18 Januari 2015

Blog Minggu II


Tadaaa! Kembali lagi dengan si cantik jelita cetar membahana yang wajahnya ga jauuuhhhh beda tapi amat sangat beda dari Pevita Pierce *Tepok jidat!* berhubung demikian saya mulai memperhatikan tubuh saya yang lumayan semok ini. Liat atas ampe ke bawah rasanya yaa... kurang menawan tapi menarik :3 . Saya memfokuskan arah pandangan pada wajah saya. Ternyata wajah saya ini mirip Papah saya (yaelaah! Emang mirip sape lagii?). Oke serius. Wajah saya ini unique dan rada jarang ada di muka bumi ini.
Udah ah dari pada ngawur – ngawur ga jelas, saya menyuguhkan kembali ketikan ketikan saya ini pada anda karena ini termasuk tugas mingguan saya, dan kini sudah pada Minggu ke 2 \(^o^)/ . bekutat lagi dengan kebiasaan saya yang mengunakan ketikan 11 jari ini dan saya mulai menggunakan jari yang lain meskipun sekenanya dan se ala kadarnya dan juga sealakadarnya (--“).
Ehem, saya ini ehem bukannya sombong ehem, saya baru aja mendapatkan sesuatu yang hangat dan enak dipeluk, dia lembut dan ngangenin, dia yang selalu pengertian, dia yang selalu melindungiku dikala dingin dan terkadang menjadi tempatku bersandar pada dirinya, dia yang tiap malam tidur bersamaku.... ialah SELIMUT YANG BERMOTIF DORAEMON atau bisa kita panggil LIMON (seLImut doraeMON). Andaikan saja si Limon itu seekor eh sebuah lelaki... tapi nggak mau ah, kan beyum muhyim :3 *Dilempar cobek!* .
Tuhkan kebiasaan... malah ngelantur nggak jelas kaya orangnya aja -_______- . Kembali ke pokok bahasan, tugas ini masih diberikan oleh guru yang sama yaitu Ayah dari anak – anak Expresso yaitu Pak Rudy dengan lagu andalan beliau yaitu “Why you gonna be so rud(y)e? Don’t you know i am human too, why you gonna be so rud(y)e? I’m gonna marry her anyway!”.
Pada bahasan kemarin ini membasan salah satu bahasan yang memang sangat menyentuh dan mengena pada saya. Masalah cewe! Perempuan! Wanita! Yang menurut seluruh umat lelaki di seluruh dunia ini amat rumit binti ruet. Padahal perempuan itu simpel kok, contoh saja saya yang sangat teramat sangat simpel (ini sih dari sananya *plak! Tepok jidat pake stopmap plastik* ).
Perempuan itu pada kodratnya memang begitu, entah kenapa kami lebih menggunakan body language dari pada bibir language. Kalau pada sesama jenis, mungkin kami terkadang dan memang seringnya akan melakukan pembicaraan seperti ini:
Ce 1 : Eh,sis tau ga itu tuh                            
Ce 2 : Kenapa ama dia?
Ce 1 : Dia begitu begitu
Ce 2 : Ciyus lo? Sumpe? Boong ah!
Ce 1 : enelan! Gua kemaren liat dia ehmmm
Ce 2 : gila banget! Kaya ga ada kerjaan aja
Ce 1 : iya tuh ga ada kerjaan kali
Dari percakapan diatas itu REAL tanpa ada kata yang dibuang atau pemalsuan ucapan, ya karna cewe dengan gitu adanya dan begonoh dari sananya. Tapi kalau cewe sama cowo jadinya ga konek, liat deh buktinya :
Ce 1 : eh,bro tau ga itu tuh
Co : itu? Itu apaan?
Ce 1 : itu lo ituuu
Co : apaan sih itu itu?
Ce 1 : itu lo itu yang ituuuuu
Co : apaaan sih? Ngomong yang jelas coba
Ce 1 : huh!
Co : nah, sekarang loe kenapa?
Ce 1 : nggak papa
Co : eh? Tadi kan elu ngajak ngomong, woy! Woy! Kok ditinggalin? Woy! Wooooooyyyyyyyy!
(adengan selanjutnya di skip karena ada Silent War yang akan terjadi eh yang pasti terjadi yang penuh kebisuan dan suasana mencekam melebihi nonton Sinister di laptop sendirian dalam kamar yang gelap di tengah maam dengan keadaan mati lampu dan hujan petir membahana yang aslinya ciyuusss).
Haduh dasar cewe... cewe... *mau tepok jidat pake linggis, tapi keder duluan*. Wanita memang racun dunia, ungkapan si Tria Changcuters memang super duper benar sekali dan patut dilempari cobek eh di lempar kembang 7 rupa eh di lempar mawar. Saya sebagai perempuan juga terkadang bingung dengan diri saya sendiri apa sebenarnya kelamin saya? *bukaaannnn!!!!* apa sebenarnya diri saya? Apa seikat Power Ranger? Apakah saya seekor Sailor Moon? Apakah saya seorang kapiten? Siapa saya? Siapa sayaaaaa? *dilempar asbak!*.
Menjadi perempuan itu memang banyak tuntutannya, selain harus cantik ya setidak terlihat sekilas kalo lumayan cantik tapi juga harus wangi! Nggak lucu dong muka kaya Pevita Pierce-ituloh artis yang ngakunya mirip aku-, tapi bau ketek kayak kuli panggul? Terlalu parah saudara...! sangat amat parah!. Ngomong – ngomong masalah bau ketek, saya punya anti sipasi untuk masalah itu yaituuuuuuu Deodoran *dikejar orang sekampung* (Eh bengak! Nenek – nenek lagi makan steak juga tau kalau obat bau ketek itu deodoraaannnn!!!!). Deodoran itu termasuk dalam berbagai kebiasaanku di pagi dan sore hari. Dari yang Role on, aerosol, sampai colek – colek kaya sabun pernah saya coba, meskipun ga dicoba oleh ITB dan IPB saya tetap mencobanya, yaaa kali aja di kasih Nobel dengan gelar TESTER DEODORAN TERBAIK yang sangat cetar membahana yang aslinya ga ada.
Tapi dari berbagai uji nonklinis apalagi higienis yang saya lakukan, saya melakukan percobaan pertama yaitu pada sistem colek – colek bebek. Harga sih irit ya cuma 3 ribuan gitu tapi yang sakitnya itu Miss Ketty jadi lebih rimbun dari biasanya. Akhirnya saya menghentikannya dan lebih memilih ke jenis lain, kan ga lucu kalau pas pake tanktop keluar silia silia yang penuh getaran yang menggetarkan hati setiap umat.
Uji kedua yaitu pada role on, lumayan sih harganya, tapi hasilnya tidak ada lagi silia silia bergetar yang membahana itu, tapi! (lagiii?) si Miss Ketty menjadi agak menggelap. Haduuhhh, salah lagi salah lagi!!!. Ganti deh gantiiii!.
Uji ke tiga yaitu aerosol yang hasilnya tanpa silia, tanpa penggelapan Miss Ketty tapiiiiiiiiiiii!!!!!! Aromanya itu looo, bikin saya yang notabennya memang pemilik penyakit dengan nama ilmiah Syesyak Nuafuas ini hengap – hengap. Saking gilanya ampe keliengan sendiri! Kok malah serba salah sih? Kan cuma mau harum doang (T^T).
Ternyata Tuhan tidak tinggal diam, sang pencipnya menciptakan umatnya yang menciptakan Deodoran Role on tapi dengan PENCERAH. Lagu Naff terasa mengiang di telinga deh pokoknya “Ak... hir... nya ku menemukanmu, saat hati ini mulai merapuhh...”. Rasa pengen jingkrak – jingkrak di super market yang lumayan gede ini saking girangnya :3.
Lepaskan pikiran dari hal hal yang berhubungan dengan ketek, saya mencoba mengalihkan pembicaraan pada beberapa hal yang memang signifikan dikalangan cewe dan cowo, APA SIH YANG CEWE BUTUHIN?
Itu sih gambang! Cuma seorang cowo yang mengerti dia luar dalam atau nggak punya ilmu telepati biar bisa tau body language  dari perempuan.
Ngomong – ngomong masalah itu, dan juga blog saya ini bersambung, saya jadi punya keinginan membuat cerita bersambung. awalnya saya ingin membuat cerita yang menggambarkan dunia gelap dan terang seperti yang sedang saya pelajari sekarang dengan versi saya. tapi berhubung saya ini tidak bisa serius, saya akhirnya membanting stir ke cerita masalah cewe, tentang mengejar, tentang perjuangan, tentang kesetiaan, tengtang persahabatan yang menggambarkan titik balik dari seorang cewe yang awalnya berada pada kegelepan dan menuju jalan yang terang. Saya memutuskan untuk membuat cerita testing... ini dia :

1.                Hujan
Rabu malam yang begitu basah. Meteor cair berjatuhan dari langit menghempaskan dirinya di bebatuan. Malam yang begitu mencekam, ketakutan begitu terasa. Aku seperti tak menginjak bumi, tanganku bergetar hebat. Air mataku bercucuran bersama dengan hujan.Aku terlalu lepas kontrol sehingga memeluk tubuh dipangkuanku ini dengan begitu erat, seakan tidak mau melepas lagi, seakan tidak mau kehilangan lagi.
Tubuhnya mulai mendingin, cairan merah yang keluar dari tubuhnya begitu banyak mengalir bersama aliran air hujan yang sudah berada di permukaan tanah. Aku tidak henti-hentinya menyalahkan diriku sendiri… ini semua salahku ini semua salahku.
“Anna… aku nggak papa… kamu jangan kayak gini… Na…”. Ucapnya dengan lirih. Aku semakin menangis.
“Nggak… ini salah aku, maafin aku … seharusnya aku nggak kayak gini, aku yang bego… Aku!”. Aku mendekapnya semakin erat. Dia juga memelukku dengan lembut.
Dia tetap tenang, seperti biasa dia lakukan. Dia tidak ingin merepotkan orang lain, seperti biasanya… bahkan pada saat seperti inipun dia yang menghiburku. Bodohnya aku….
Kami terjebak di jurang yang lumayan dalam, kakiku terkilir dan dia tertusuk kayu di perutnya. Kami tidak bisa menolong satu sama lain. Kami cuma bisa menunggu di sini sampai bantuan datang yang entah kapan datangnya.
Aku masih berada dalam kekalutan. Bukan dingin yang membuatku menggigil hingga bergetar segini hebatnya, bukan rasa sakit dari kakiku yang membuatku menangis sedemikian pilunya, tapi Dia, karena dia aku begini. Mengawatirkannya membuat semua rasa sakit ditubuhku menghilang. Tak terasa lagi.
Matanya menatapku lembut, seperti biasanya. Dia mengusap rambutku, menenangkanku. Tuhan, aku memang selalu kalah kalau bersama dia…
“Kamu kenapa Na? kamu nggak biasanya kayak gini, kalau ada masalah apa-apa cerita sama aku…. Jangan kayak gini…”. Katanya, mencoba kembali kepermasalan awal. Aku cuma bisa menggeleng.
“Kamu harus cerita Na!”. Sekarang dia mulai untuk meninggikan suaranya.
“Ceritanya panjang… aku nggak mungkin cerita sekarang…”.
“Nggak ada kata nggak mungkin Na, setidaknya kamu cerita sampai regu penolong datang...”. ucapnya di antara ringisan rasa sakitnya. Aku menggangguk, aku mulai berkata demi kata…
2.              Cerah
Tengah hari yang lumayan panas. Aku duduk di bangku pinggir lapangan basket sendirian. Seperti biasa. Bukan berarti aku anak yang kuper ya! Aku cuma suka sendirian aja kalau lagi suntuk.Dunia ini begitu membosankan. Dikenal banyak orang, bukan berarti kamu punya banyak teman kan? Inikah yang disebut kehidupan? Terlalu membosankan.
Mungkin omonganku yang sebenarnya dalam hati itu didengar oleh Tuhan, dan… sesuatu terjadi.Dia datang tanpa diundang.Sebuah lingkaran hitam terlihat mendekat, dan sekarang lingkaran itu berwarna kecoklat-coklatan.Teriakan nyaring terdengar dari beberapa sudut, tapi posisiku yang baru sadar dari lamunan membuat repleksku begitu lambat.
“Buk!!!”.Bola menghantam keras tepat di wajahku.Seketika pandanganku buyar dan gelap.

000

“Elu sih ngoper nggak becus!”.
“Elu yang nge-shoot nggak ke kontrol!”.
“Udah woy! Anak orang pingsan elu malah ngeributin masalah beginian! Kalian ini semuanya salah! Main basket kok pake kaki?”.
“Kalian, kalian, elu juga ikut main, peak!”.
“Lo lo pada kalo mau berantem jangan di UKS! Lapangan belakang sana!”.
“INI KAN GARA-GARA ELO! BEGO!”.Semuanya koor. Aku yang masih sakit kepala cuma bengong liat cowok-cowok nggak jelas ini berdebat hal aneh.Mereka sedang asyik bertoyor-toyor ria, sedangkan aku? Makin sakit kepala melihat tingkah mereka. Tuhan! Pingsankan aku lagi!.
Mereka mulai berhenti, yang paling tinggi mulai menatapku dan nyengir. Diikuti oleh teman-temannya yang lain. Yang paling mereka bully, masih terkapar di lantai, lalu dia mulai bangun menampilkan giginya yang putih dan jujur sisanya nggak.
“Udah sadar,Na?”. Kata Rio, sekarang aku mulai bisa mengingat siapa saja mereka. Aku balas dengan anggukan.
“Untung idung loe nggak tambah pesek ya”.Seketika sebuah tamparan menumbangkan Saka.Mati kah dia?
“Ada yang masih sakit?”.Kata… dia siapa ya?Hendra? Rendra?.“Lupa ya ama gue?Gue temennya Hani”.Hani? Oh temen sekelasku. Temen Hani? Ah aku ingat!.
“Yang baru diputusin sama Hani itu ya? Andra kan?”.Ucapku dengan super polos, dan akhirnya buat mereka semua ketawa.
“Kasian loe Ndra, terkenal gara-gara diputusin. Hahaha!”.Ucap Romi sambil ketawa ngakak.
“Kasian, kasian, kasian. Hahahaaa!!”.Sambung Kobar.
“Udah woy!Loe beneran nggak ada yang sakit lagi?Apa perlu loe kite-kite anter pulang aja? Rumah loe jauh apa dekat?”. Borong Andra.
“Loe nanya apa lapar? Ngeborong aje! Eh iya, loe nggak papa?”. Tanya Romi.
“Aku nggak papa kok, tinggal pusing aja sama benjolnya nih sakit”.Jawabku, yang tiba-tiba membuat semuanya diam. Aku salah ngomong ya?
“Eeee… kamu bisa jalan nggak? Eh, mendingan kamu disini aja dulu sampai mendingan. Anak PMR mana sih? Eni tadi ada kok nggak keliatan?”. Kata Andra. Dia seperti memecah keheningan dan mengalihkan perhatian. Keliatan sih muka-muka mereka bengong + kaget gara-gara dari tadi mereka pake loe-gue dan aku langsung bales pake aku-kamu. Kebiasaan sih, jadi nggak bisa ikut-ikutan gaya orang.
“Maafin kami ya, nggak sengaja kena kamu tadi”.Kata Rio dengan wajah bersalah. Aku memang nggak marah sih..
“Nggak papa kok, aku aja yang kurang repleks”.Jawabku sambil cengengesan.Mereka ketawa liat tingkahku. Aku tambah cengengesan
Disela-sela pembagian kelas seperti ini -yang belum kelar-kelar juga-, memang yang datang kesekolah cuma buat main-main doang. Aku datang kesekolah cuma buat ngurus berbagai pembayaran yang syuper ribet, harus kesinilah, kesanalah, fotocopy inilah,itulah, bayar sanalah, sinilah, ribet deh pokoknya. Kalau untuk datangin teman…. Jujur aku nggak ada teman akrab.Kalau teman ngobrol gitu-gitu aja sih ada, tapi ya itu, nggak akrab.
Kadang aku iri sama segerombolan aneh Saka, Romi, Rio, Kobar dan Andra ini. Mereka kemana-mana berlima. Romi yang populer karena bertampang lumayan dan suara bagus, Andra yang populer karena pinter dan banyak temen, Kobar yang anak basket, Rio yang atlet atletik, Saka yang anak band, gabungan mereka membuat mereka jadi terkenal dan juga sangat akrab.
Aku? Cuma seorang Anna Maika Putri Surya Purnomo, bukan anak yang terkenal-banyak sih yang tau namaku,cuma aku aja yang nggak tau nama mereka- dan memang biasa aja. Aku bukan juga anak yang penyendiri, biasanya aku muncul di tengah-tengah geng-geng untuk menjadi pelengkap. Tapi itulah aku…
“Nah! Eni datang! Lama amat loe? Kemane aje?”.Tanya Saka dengan wajah senganya.
“Nyari es batu, mana jalan kaki lagi… Kenapa nggak kalian aja yang nyari tadi?”.Eni mulai membara.Kecapean kali ya.
“Coba taruh dulu es batunya, nanti mencair lagi gara-gara keder denger elo marah”.Kata Kobar disambung tawa dari mereka.
“Dasar! Eh, tadi ada yang nyariin elo Na,itu dia”. Eni menunjuk ke pintu masuk dan seperti ada angin alam yang bikin aku sadar :3. Saat dia memasuki ruangan, serasa ada AC yang ngikutin dia kemana-mana. Semua mata kini tertuju pada dia... siapakah dia? siapakah laki-laki yang bersama anna pada Part 1?
Kalau emang penasaran, follow dan mention ke @Hexas_Sarastiwi :3
Makasih untuk yang telah khilaf baca ini.... Saya Hexas si cantik yang mirip Pevita pamit yaa, sampai jumpa minggu depan :3 :*.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar